Catatan Anazkia

Karena hanya tulisan yang bisa saya tinggalkan

  • beranda
  • Kisah
    • Serial
    • Cerpen
    • Celoteh
    • Reportase
    • Perjalanan
      • Gaya Travel
      • Trip Gratisan
      • Piknik Buku
  • Pojok Anaz
  • Murai
  • Sosok
  • komunitas
    • Volunteer
    • KBO
    • Semestarian
    • Blogger Hibah Buku
Dua tahun lalu, ketika aku pulang ke Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta ada terbersit kekecewaan. Kecewa pulang dengan menyandang status "pahlawan Devisa" yang seolah tiada maknanya. Kalimat itu, hanya terdengar indah tapi, tidak pada kenyataan penyambutannya. Sejak pulang itu juga, aku membuat sebuah tulisan dan puisi dengan judul, "Wajah Sebuah Negeri." Kini, dua tahun berlalu. Dan aku masih memiliki azam, selagi aku masih menyandang gelar tenaga kerja, aku tak akan lagi-lagi singgah di bandara Soekarno-Hatta. Dan, ketika beberapa waktu lalu aku pulang ke Indonesia tidak melalui Bandara Soekarno-Hatta, aku mengais-ngais tulisan dulu. Ingin meralatnya, ingin sekali mengubahnya. Sederhana saja, harapanku, melihat pelabuhan di Dumai terbersit kalimat baru. Sebuah harapan bahwa, yang aku lihat adalah bukan "Semurni-murni Wajah Negeri." Aku yakin, masih banyak kebaikan yang tersebar.
Sabtu, 19 Desember. Aku memulai perjalanan itu. Tentunya, kali ini lain dari biasanya Aku kembali ke tanah Indonesia tapi, tidak untuk ke kampung halaman. Tujuanku kali ini, ke tanah Sumatra. Pukul 7 lebih, aku dan Etek Yurti diantarkan oleh Ibu menuju pelabuhan Port Klang. Hari cerah ketika masih pagi. Sayangnya, belum satu jam duduk disitu, hujan sudah mengguyur pelabuhan dengan lebatnya. Ada riak kecemasan di wajah Ibu. Melihat begitu banyak barang yang kami bawa dan, mengkhawatirkan siapa yang akan membawanya sampai ke dek kapal. Jarak dari imigrasi ke kapal cukup jauh. Setelah lepas semua urusan di Imigrasi Malaysia, akhirnya, kami beratur menuju kapal fery. Hujan yang mengguyur, tak juga reda saat dinanti. Akhirnya, aku dan Etek Yurti membeli sebuah jaket plastik murahan. Untuk sekedar melindungi badan dari kebasahan. Sedang empat tas besar, kita mengupah orang untuk membayarnya. Ajaib sekali ku rasa, aku kira hanya dengan mengupah orang tersebut saja membayarnya. Rupanya, meletakan barang di dikapal fery itu harus bayar per tas. Aku tidak mempermasalahkan toh, aku jadi diringankan dengan tidak membawa apa-apa kedalam badan kapal fery. Sampai di dalam kapal, rupanya ada seorang bapak-bapak tua yang kelihatannya marah sekali tentang peraturan tersebut. Mengumpat segala macam, tak rela kalau setiap tas yang diletakan ditempat barang harus dibayar. Tak sekali dua kali lelaki tua itu berhujah panjang lebar. Akhirnya, Indonesia jugalah yang tersebut, negara gak jelas, penuh tetek bengek yang tidak jelas juga. Aku menggerutu sendiri pikirku, "kalau enggak mau bayar, yah sudah. Tidak usah cerewet." Tapi, diam-diam Etek Yurti mengamini perkataan lelaki tua itu. Menyudahi kekusutan, aku diam saja tak menambahkan. Kapal beranjak dari pelabuhan sekitar pukul 10 waktu Malaysia. perjalanan untuk sampai ke Dumai lebih kurang 4jam. Meskipun hujan lebat, Alhamdulilah ombak tak begitu besar. Hanya sesekali ketika berada di laut lepas, ombak besar begitu terasa. Untuk menghindari mabuk laut, aku melenakan mata dalam lelap. Hasilnya, Alhamdulilah tidak mengalami mabuk laut. Akhirnya, perjalan itu sampai juga. Kapal merapat di pelabuhan Dumai... Hampir tak bercaya, kalau aku sudah berada di tanah Indonesia. Etek Yurti buru-buru maju kedepan, menghalangku untuk mengambil barang, ujarnya, aku tidak mengetahui bahasa mereka. Setelah aku perhatikan, ada betulnya juga. Sepertinya, mereka berucap dalam bahasa minag tapi, yang aku betul-betul tak tahu maknanya. Dan, disini juga tergambar wajah lain. Wajah tentang sebuah kebiasaan, kebiasaan tentang mengambil uang orang tanpa batasan yang cenderung kepada penganiayaan materi. Ah, etntahlah, atau aku menyebutnya bibit-bibit korupsi dari tukang kuli, sampai orang berdasi. Rupanya, kebiasaan mengambil hak orang itu sudah menjadi lumrah. Aku kembali mengingat-ingat peristiwa dua tahun dahulu saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Kronologisnya, di pelabuhan Dumai, setiap barang yang turun dari kapal dan hendak di bawa melalui pintu imigrasi itu harus bayar. Tak tanggung-tanggung, kepada setiap penumpang tentunya. Etek Yurti bertekak lidah, berkeras tidak mau memberi uang sebesar Rp.30.000 untuk memudahkan keluar dari pelabuhan menuju imigrasi. Aku ingat, ada uang Rp 80.000 dalam dompet. Akhirnya, aku keluarkan juga uang Rp 30.000. AKu hulur kepada lelaki yang sedikit buncit perutnya. Rupanya, Etek Yurti menghubungi kenalannya. Seorang security pelabuhan dan, tak berapa lama security itu datang. Ajaib, mereka senyap sesaat. Tanpa banyak komentar, langsung membawa barang tersebut menuju lintasan imigrasi. Tapi, aku masih terkedu melihat adegan terakhir seorang lelaki setengah baya di belakang aku. Lelaki setengah baya itu, membawa barang begitu banyak dan lelaki berperut buncit tersebut tetap memaksa untuk membayar Rp.100.000 sampai melewati pintu imigrasi. Sungguh aku melihat wajah lelaki setengah baya itu begitu tertekan. Suaranya tak lagi lunak bahkan, cenderung marah-marah. Lelaki setengah baya tetap bersikeras, kalu sudah tak memiliki uang lagi. Ada sedikit keusilan aku untuk mengambil gambar adegan tersebut tapi, aku mengurungkan niat gila itu. Takutnya, malah kena bogem. Karena security itu sudah datang, Alhamdulilah,semua urusan menjadi lancar. Meskipun kelihatannya nepotisme sekali. Bagaimana tidak, tanpa beratur di pintu imigrasi, passport aku dan Etek Yurti di bawa langsung ke meja imigrasi untuk mendapatkan stempel. Enggak pakai lama, tanpa beratur... Aku jadi berfikir, betapa menyenangkannya kalau hidup seperti itu. meskipun pada kenyataannya Etek Yurti menggunakan "orang dalam" untuk menyelesaikan urusan tersebut. To be continue pada "Sebuah Dialog Perjalanan...."
Tidak terasa, sudah memasuki posting yang ke 300. Fiuh... sangat jauh dari target. Padahal, aku ngeblog sudah lama sekali. Bahkan, cukup lama. Dua tahun. Yah, dua tahun aku memiliki blog ini. Kelihatan banget kalau aku jarang nulis. Semoga setelah posting yang ke 300 ini aku tambah rajin nulis. Dan, aku tak lupa selalu berterimakasih kepada yang tekah menghadiahkan blog ini. Seru yah, kalau dikasih hadiah tapi, sebuah blog. Diblog, kita bisa bebas berekspresi, mengungkapkan segala unek-unek. Meskipun, harus berhati-hati juga ketika menulis. Gak mau banget khan, kalau gara-gara ngeblog masuk penjara..??? (naudzubilah deh..)
Aku mengurutkan sebuah keinginan dinomor pertama pada sebuah diari. Pun pada harapan-harapan tertentu, aku menulisnya di daftar paling atas. Keinginan akan sebuah mimpi, mimpi pergi ketanah suci. Muharram tahun lalu, dengan percaya dirinya aku menuliskan kalau awal muharram ini, aku ke tanah suci, menunaikan umrah. Tapi, sayang sekali, keinginan itu belum terlaksana. Awalnya, memang ada rencana, bulan desember ini, pergi kesana. Bersama keluarga majikanku tentunya. Tapi, sayang sekali selain sibuk setelah hajatan, visa pun susah didapatkan. Mungkin, belum rizki aku kesana. Semoga, masih ada jalan lain aku menuju rumah-Nya. Dan, didiari lamaku, juga tersimpan keinginan-keinginan untuk mengunjungi beberapa kota di Indonesia. ketika menuliskannya, aku tak pernah terpikir, betul-betul kelak akan kesana. Saat itu, punya uang pun tidak. Hanya keberanian menulis saja didiari tersebut. Aku tidak peduli, mau pergi atau enggak. Dan, beberapa waktu lalu, ibu mengizinkan aku untuk peri berlibur. Berlibur ke ranah minang... Subhanallah, Alhamdulilah... Sungguh tak menyangka. Ketika SMU dulu, aku sangat menyukai pelajaran Antropologi karena, banyak mempelajai suku-suku daerah tertentu. Dan aku, sangat tertarik dengan beberapa suku di Indonesia (bukan berarti pilih kasih) termasuk yang aku sukai adalah suku Minangkabau. Enggak nyangka banget, kalau aku hendak menginjakan kaki kesana. Pokoknya, seneng deh... Meskipun malam ini, ko rasanya nervous juga yah mo jalan jauh...??? Tadinya, aku hendak berangkat hari kamis lalu. Tapi, kebetulan Etek Yurti sakit. Jadi, keberangkatannya diundur. Pagi esok, Insya Allah baru berangkat. Mohon doanya yah sahabat semua.. :) Dan, paling menyenangkan, ketika aku pergi ke Bukittinggi menaiki ferry dari pelabuhan Port Klang. Dari situ, Insya Allah kita (aku dan Etek Yurti) akan menuju Dumai kemudian, langsung ke Bukittinggi. Sepertinya, perjalanan yang sangat panjang. Awalnya, aku meminta ke Ibu, kalau balik ke Malaysia, menaiki ferry saja. Tapi, ibu bersikeras tidak mengizinkan. Pulang ke Malaysia aku sendiri jadi, mending naik pesawat, kata ibu. Aku akur dengan keputusan Ibu :). Maka berlayarlah esok, aku menuju tanah Sumatra. Semoga tak ada aral melintang... Sebelumnya, aku mempunyai keinginan untuk sekalian pulang ke Jawa. Tapi, karena waktunya sangat mepet dan jauh sekali akhirnya aku mengurungkan niat ke pulau jawa. Mungkin agak nekat, saat aku mengutarakan niatku estafet dari daerah, ke daerah. Bermula di Dumai, kemudian Pekanbaru, Bukittinggi, Padang, Palembang dan menyebrang ke Selat sunda. Melihat ibu keberatan dan setelah telphone Mamaku juga keberatan akhirnya, aku mengurungkan niat tersebut. Dan, kepergian kali ini, hanya akan sampai ke Bukittinggi, Padang dan pekanbaru. Dan ke Palembang, untuk bertemu mbak Elly, aku masih ragu untuk mengambil keputusan. Sepertinya, waktunya mepet banget. Ngomong-ngomong, ngapain si Naz kamu kesana? Ibu majikanku asli orang minang. dan masih banyak sanak saudaranya disana. Ada juga yang bolak-balik ke Malaysia. jadi, kali ini aku akan mengikuti sodara majikanku. Transport, Insya Allah semua ibu yang tanggung. kecuali, untuk beli tetek bengek yang tidak perlu :). Dan, aku juga mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya, kepada dua orang yang telah sudi menawarkan membelikan tiket aku ke pulau jawa juga, dari pulau jawa ke Sumatra. Maaf, terpaksa sekali aku menolak. Tepatnya bukan menolak tapi, melihat situasi yang tidak memungkinkan. Waktu yang tak banyak juga, aku yang tak memiliki KTP. (kalau pake passport, dibandara Soekarno-Hatta males ah, soale masih identitas TKW, cukup memiriskan) Bismillahirrohmanirrohim.... Sekalian majang award, biar gak basi saat kembali ke Malaysia..
Ini semua award dari Yunna, banyak banget yah...??? makasih yah Yun...
Ini award dari mbak Elly :)
Makasih untuk award-awardnya. Sepertinya, aku gak pernah bagiin award yah...??? bingung. kalau hendak membagikan award. Untuk, Achen, Ranggagooblog, mas Ivan , nuansa pena, Eldo Beva dan mbak Lidya. Juga, untuk sahabat2 baru semua, yang berkunjung ke blognya aku. Makasih yah... maaf lum berkunjung balik :)
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram* itulah (ketetapan) agama yang lurus maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu." (QS, At-Taubah:36)
Membuka-buka diari lama. Melihat, segala coretan pada setahun yang telah terlewatkan. Ada kemirisan, miris pada catatan yang telah aku tulis. Betapa mudahnya menulis di selembar kertas tapi, betapa sulitnya mengamalkannya. Banyak sekali catatan-catatan tersebut yang tak tertunai. Merenung, batapa selama setahun ini kelalaian demi kelalaian mudah sekali dilakukan. Sedang kebaikan, jauh sekali dari ditunaikan. Innalillah... Menjadi kebiasaan, ketika awal muharram menulis segala impian dan harapan. Mimpi pada yang belum menjadi bukti juga, harapan untuk kebaikan. Waktu bergulir begitu cepat, usia pun terus merambat, menuju ketua dan kelak, akan meninggalkan dunia. Betapa sedikitnya, amal yang kupunya. Juga bekal yang aku ada. Seperti biasanya, awal tahun baru menjadi harapan dan keinginan baru. berharap dan ingin lebih baik lagi. Masih banyak sisa-sisa tulisan yang tak tertunai, semoga tahun ini aku kembali mampu untuk menebusnya. Menebus untuk menunaikan meski itu bukan hal mudah. Tahun ini, aku tak mau lagi menulis banyak-banyak lagi. Aku takut. Takut pada ingkar janji sendiri. Menulis, kemudian pergi tanpa pernah mengoreksi. Innalillahi... Dan inilah, barisan kata, dari tulisan yang aku copy paste dari sebuah group di blog. Sebuah doa, awal tahun. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَآنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَللّهُمَّ أَنْتَ الْأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ الْأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَجُوْدِكَ الْمُعَوَّلِ وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ نَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَاءِهِ وَجُنُوْدِهِ وَالْعَوْنِ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ وَالْإِشْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ اِلَيْكَ زُلْفًى يَاذَ الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَآنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ آمِيْن
Artinya: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya. Ya Allah Engkaulah Yang Abadi, Dahulu, lagi Awal. Dan hanya kepada anugerah-Mu yang Agung dan Kedermawanan-Mu tempat bergantung. Dan ini tahun baru benar-benar telah datang. Kami memohon kepada-Mu perlindungan dalam tahun ini dari (godaan) setan, kekasih-kekasihnya dan bala tentaranya. Dan kami memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajak pada kejahatan,agar kami sibuk melakukan amal yang dapat mendekatkan diri kami kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW,beserta para keluarganya dan sahabatnya. Amin... Dibaca, setelah bakda mahgrib Selamat tahun baru Islam kepada sahabat bloger semua. Semoga, ini menjadi langkah awal untuk semakin baik lagi. Insya Allah... *(Zulkaedah, zulhijjah, muharram dan Rejab)
Nama blognya RanggaGoblog tapi, aku tidak mau memanggil nama terakhirnya. Aku juga tidak tahu, mengapa ia menggunakan nama tersebut? Kenapa yah tiba-tiba membahas dia? sederhana aja, aku cukup terusik dengan komennya. terusik bertanya sendiri, kenapa yah dia nanyain soal itu lagi...???

Tentang pekerjaanku, rasanya berkali-kali aku sudah posting dan bercerita. Tiada yang ditutup-tutupi. Jadi, sepertinya Rangga tidak perlu lagi bertanya seperti ini, "Mbak maaf kalau saya lancang bertanya... emang mbak bener jadi pembantu di malaysia...??? maaf ya mbak maaf sekali lagi." Jawabannya, "Iya" Ngga. Tidak masalah dan tiada yang dipermasalahkan. Tidak usah meminta maaf. Asalkan, tidak menyuruh mbak bersumpah membawa nama Allah. Sepertinya, enggak penting banget :) Jujur, dulu sekali aku malu dengan statusku, dengan pekerjaanku. Tapi, pengalaman banyak mengajariku. Apapun asalnya dan apapun ceritanya, aku adalah aku. Yang tak akan berubah status dan asal usulku. Aku harus menghargai profesiku sendiri. Kalau bukan aku, siapa lagi? Toh, aku semenjak kecil dibiasakan dengan pekerjaan itu.

Aku berterimakasih dengan profesi ini. Karena profesi inilah, aku mampu mengenyam bangku sekolah meskipun tak menikmati bangku kuliah. Sudah seperempat abad lebih, aku berjalan disusuran dunia tanpa batas. Meskipun langkahku terbatas tapi, tidak menjadikan aku membatasi diri untuk membuka hal yang belum aku pelajari. Siapapun aku kini, tentunya ada siapa dibelakangku. Buatku, bekerja di mana itu tidak begitu penting tapi, bekerja dengan siapa itu lebih penting.

Pengalaman yang sangat berharga, ketika aku bekerja dengan seorang majikan selama hampir 5 tahun. Di sana aku di sekolahkan. Saat itu, usiaku remaja lagi. Tapi garis kesusahan hidup menuntunku pada sebuah pengajaran. Sebuah pengajaran kehidupan yang tak kudapat di bangku manapun pendidikan. kecuali, kudapat di bangku kehidupan. Juga beberapa orang yang menginspirasiku. Kalau dari jejak langkah PRT sendiri, aku dulu sangat terkagum-kagum dengan para buruh migrant di Hongkong. Mungkin sama seperti Rangga, aku tidak percaya, bahwa mereka para PRT bisa sehebat itu. Berawal dari sebuah majalah remaja islami, aku mengenali sosok perempuan berwajah tegas. Mbak Susan namanya. ketika itu, ia adalah ketua FLP pertama Hongkong. Bekerja pada majikan yang baik dan bisa mengakses teknologi internet, dari rumah majikannya. Bebas. Dan alhamdulilah, kini aku mendapatkan fasilitas itu. Subhanallah... sungguh kuasa Allah. Ini aja kali yah postingannya dan jawaban untuk Rangga :)

quinie said... hm... dikau ke rumah anak majikan atau ke labirin? hihihi... kok ketemunya itu2 ajah? xixixi. Itu komennya mpok Ratu. Yups, kalau aku pikir-pikir, emang seperti labirin. Jalan kesana kesini, ketemunya rumah yang itu-itu juga. Sampai penat menggelayut, sehingga semangat pun surut. Ada sedikit takut, maklum mungkin masih mending tersesat disebuah terminal. Karena, disana banyak kendaraan dan kita bisa saja sewaktu-waktu mencari jalan pulang. Nah, ini di perumahan, yang tergolong elite. Maklumlah, rumah kerajaan alias rumah pegawai negeri kalau di Indonesia
Banyak mobil berlalu lalang tapi, tidak mungkin khan aku tiba-tiba menyetopnya? Hanya ada beberapa orang-orang yang kelihatannya tukang sapu, para pengambil sampah juga pemotong rumput. Awalnya, aku sudah menanyakan kepada mereka dan petunjukpun telah kudapat. Sekali lagi, karena aku salah menulis alamat aku memang seperti memasuki labirin. Masuk gang yang sama dan keluar gang yang sama pula. Dan ujung-ujungnya, ketemu orang-orang yang itu juga. Sepertinya, mereka simpati terhadapku. Dan, berusaha mencarikan alamat tersebut. Dan meneliti betul-betul alamat yang aku tulis. Ada seorang lelaki yang berkepala botak, mengendarai sepeda motor bersama seorang rakannya. Melihat gaya bicaranya, sepertinya dia bukan lelaki melayu. Entah keturunan India atau mana. Awalnya, aku agak enggan, melihat tampangnya dan gaya bicaranya yang keras. Rakan yang duduk disampingnya, aku kira seorang perempuan, karena seluruh mukanya ditutup. Aku hanya bisa melihat matanya. Badannya kecil saja. Tapi, lagi-lagi, orang tersebut betul-betul mengikuti aku. Dan memastikan alamat yang aku cari. Di jalan berikutnya, lelaki tersebut meminta nomor hape yang akan aku tuju. Dan dia, bebicara dengan anak menantu majikanku. Dari hasil pembicaraan, terbukti nyata, bahwa jelas-jelas aku salah menuliskan alamatnya. Tanpa diminta, bapak berkepala botak tersebut mencari alamat tersebut. Dan Alhamdulilah, langsung ketemu. Subhanallah... betapa melelahkan. Teringat aku beberapa kali memasuki jalan yang sama dan keluar jalan yang sama. Panas terik yang terasa, membuat tenggorokanku kering. Tiada warung terdekat di perumahan itu. Sungguh pertolongan Allah itu dekat sekali. Teringat beberapa tahun dulu, ketika aku tersesat di kota Semarang. Ketika disebuah pinggir jalan, aku bertanya kepada beberapa orang, termasuk seorang sopir anguktan kota. Dengan ringan mulut, pak sopir memberi arah dan menyetop mobil yang harus kunaiki. Juga, memberi tahu berapa ongkos yang harus kubayar. Tak segan pula, Pak sopir mengeluarkan uang dari kantong bajunya. Aku menolaknya dengan halus karena, kebetulan aku juga masih memiliki ongkos. Subhanallah... Ah, berburuk sangka, memang tiada baiknya. tapi, bukan berarti, kita gak harus waspada khan...??? Wallahu'alam
Pernah tersesat di jalan...??? Kalau aku, kayaknya sering banget tuh. Di Serang, yang notabene masih wilayah aku tinggal, aku pernah tersesat. Pernah juga, tersesat di Pemalang, nyasar sampai ke Petarukan. Yang paling jauh, mungkin ketika ke Semarang, aku pernah tersesat juga. Maklumlah, pergi ke kota itu, bermodalkan nekat. Tapi, alhamdulilah, Allah masih melindungiku. Dan sampai tujuan, dengan selamat. Yang paling jauh...??? Yah tersesat ketika jalan di Malaysia. Maklumlah, negara orang, banyak tidak tahu seluk beluk arah jalan. Tak terhitung, entah berapa kali aku tersesat ketika mencari alamat.

Dan kemarin, mungkin ketersesatan, yang tak aku harapkan. Bermula, ketika pagi hari, sekitar jam sepuluh. Aku pergi menuju KBRI untuk memohon surat cuti, di Kuala Lumpur. Awalnya, Ibu mau mengantarku tapi, aku menolak. Alasannya, karena, aku hendak menuju Bank dulu. Maka, pergilah aku menaiki taksi ke UIAM (Universitas Antar Bangsa Malaysia). Di pintu gerbang utama, petugas memeriksa setiap mobil yang masuk, termasuk taksi yang aku naiki. Dan memintaku, menunjukan ID pelajar UAIM. Sopir taksi membuka cermin jendela, dan aku berkata, hendak singgah ke Bank sebentar saja. Alhamdulilah, dibiarkannya taksi berlalu. Masuk saja ke Bank, sudah cukup banyak antrian.

Pelajar UIAM dari berbagai bangsa, kalau melihat dari kulit dan parasnya sudah duduk rapi di kursi tunggu. Aku duduk di kursi paling depan. Menunggu giliran, aku meraih novel "Negeri 5 Menara nya, A Fuadi. Jarak seorang disebelahku , nampak seorang pelajar Indonesia yang sedang berbincang dengan temannya. Lamat-lamat aku mendengar, kalau buku tabungannya hilang. Semoga sekarang sudah ketemu. Tak begitu lama, giliranku tiba. Dan, tak sampai lima menit, transaksi selesai. Aku buru-buru keluar dari Bank, segera menunggu bis dan menuju Kedutaan Indonesia. Di depan bulatan UIAM, sebuah bis, nampak melintas. Cepat-cepat aku mengejarnya. Dan tanpa melihat arah tujuan bis, aku segera menaikinya. Di dalam bis, baru aku ngeh, kalu bis yang ku naiki bukan menuju terminal Putra. Tapi, aku diam saja. Dalm hati berujar, "Nanti, dimana tempat yang aku kenal, aku akan berhenti". Rupanya, bis menuju lebuh raya Ampang, yang aku sendiri tidak tahu dimana.

Memasuki kota, aku selalu melirik nama dan jalan di papan penunjuk jalan. Sepertinya, semakin jauh saja aku pergi. Tak ayal, ketika bis sampai di perbatasan Chowkit, dan ada tulisan Jalan Tun Razak ke arah kiri, aku turun di halte terdekat. Dari situ, menyebrang jalan dan mencari taksi. Aku sama sekali tak mengenali tempat tersebut. Alhamdulilah, taksi mudah didapat. Tapi, sepertinya, Kedutaan Indonesia jauh dari situ. Tak sampai dua puluh menit, taksi sampai di jalan Tun Razak, Kedutaan Besar Republik Indonesia. Di sebelah kiri jalan, taksi berderet-deret menunggu penumpang. Dulu, salah seorang rakan ekspatriat pernah bercerita. Kalau Kedutaan Indonesia begitu semrawutnya.

Orang-orang Indonesia yang hendak mengurus passport dan administrasi lainnya, berjubelan di tepi jalan-jalan raya. Seperti terminal Kampung Rambutan, ujar rakan eskpatriat tersebut. Sampai suatu ketika, Dewan Bandaraya Kuala Lumpur membuat teguran. Dan, sejak saat itu, saat Pak Presiden berkunjung beberapa tahun lalu maka dirubahlah sistem di KBRI. Kini tak lagi semrwaut seperti dulu, tiada lagi antrian panjang di tepi jalan raya. Dan semua urusan, dibuat didalam bangunan KBRI. Masuk saja ke bangunan utama sebelah kanan, aku dihadapkan dengan antrian yang cukup panjang.

Kalau duluar saja sudah bertumpuk, didalam, mungkin sudah tak muat lagi orang. Aku mengeluh panjang, membatin akan lama menunggu antrian. Aku langsung menuju meja pengambilan formulir. Bertanya kepada petugas, bagaiman caranya kalau hendak mengambil surat cuti. Petugas meminta passportku dan meneliti satu-satu. Katanya, pihak KBRI tak lagi memberika surat cuti untuk pembantu rumah tangga. Hanya, majikan saja yang diwajibkan membuat surat cuti. Kemudian, petugas menambahkan, karena passportku dibuat di KBRI, maka tak lagi membutuhkan surat cuti kedutaan. Dan, secara langsung, aku sudah bebas fiskal. Aku meyakinkan jawabannya kepada petugas.

Dan petugas tersebut mengangguk pasti. (kalau di imigrasi harus bayar fiskal lagi, pingsan deh aku. sekarang khan dua koma lima juta. Gubrak.. aku bakalan nangis..) Selesai dari KBRI, aku kembali mencari taksi. Menuju stasiun Ampang Park. Sampai di Ampang Park, aku mencari telphone umum. Merogoh kantong tas, mencari sisa-sisa koin yang aku minta ke Ibu sebelum pergi. Sampai saat ini, aku belum lagi membeli hape. Agak susah memang, bepergian tanpa hape.

Aku menelpon ke rumah anak majikanku, meminta alamat rumah. Yang mengangkat pembantunya, dan aku minta nomor hape menantu majikanku. Cepat-cepat aku mencatat. Yakin semua dah beres aku langsung menuju kasir membeli tiket kereta api, berhenti di Kuala Lumpur Center. Dari situ, aku berganti menaiki ERL menuju Putrajaya. Sampai di stasiun, aku langsung menuju pemberhentian taksi. Dan langsung menuju alamat anak majikanku. Bukan mudah, ketika harus mencari alamat di Putrajaya. Karena supir taksi sudah kelihatan merungut maka, aku putuskan untuk berhenti saja. Dan mencari alamatnya sendiri. Sopir takis ragu tapi, aku meyakinkan kalau aku tahu.

Dari sinilah, ketersesatan bermula. Sungguh melelakhkan, ketika harus mencari rumah, yang sama bentuknya. Meskipun ada alamatnya, ia berkelok-kelok. Tak berurut, atau entah aku yang tak mengurutkan. Berulangkali, aku memasuki gang yang sama, jalan yang sama dan alamat yang sama. Tapi, alamat rumah anak majikanku belum kutemu. Sampai aku bertanya, kepada seorang yang kebetulan ada di depan rumah. Karena tak membawa hape, tanpa segan dan malu (sebenernya, nekat) aku meminjam hape orang tersebut. Bersyukur sekali, ketika dengan baik hati orang itu meminjamkan. Dan, ternyata, alamat yang aku catat, salah! Masih bersambung....
Dalam facebook, aku sudah beberapa kali mengganti nama. Awal sekali, aku menggunakan nama asli. Ketika itu, belum banyak aku menemukan sahabat-sahabat nyata di dunia maya. Kemudian, karena lebih banyak teman-teman blog aku mengubah memakai nama blog saja. Dan, beberapa waktu lalu, aku juga sempat meletakan nama asli, Eli Anazkia. Ada beberapa sahabat bloger yang terkejut dan bertanya. Betulkah itu nama asliku. Dan terakhir, ada yang kompalin katanya, nama Eli identik dengan mbak Elly newsoul. Makanya, aku hapus lagi nama asliku. (gak pake ngambek yah...??? ;)) :D)


Pernah mendengar, kalau ada tujuh rupa, yang serupa fisik dengan kita. Entah kesahihannya. Tapi, dulu aku dan teman-teman sering membahasnya. Meskipun, berakhir dengan gelak ketawa. Gimana enggak, konon tujuh serupa itu, beragam akhlak dan profesi katanya. Terbulir juga tanya, "Ada enggak yah, yang serupa dengan aku tapi, dia gila?" Juga celetukan yang lain, "Ada enggak yah, yang serupa dengan aku tapi, dia pengemis?" Atau, ada enggak yah, yang serupa aku tapi, dia artis...???" Wah, pokoknya, ramai kalau sudah membahas tujuh serupa, dalam dunia.
Beberapa teman-temanku yang kadang melangkah jauh, setiap kali bertemu dengan orang yang "serupa" dengaku, selalu mengabarkan. Ada seorang sahabat yang kuliah di Jogja. Dia pernah membawa cerita juga oleh-oleh sehelai gambar seorang wanita yang katanya, serupa dengan aku. Sekillas, ia memang mirip apalagi dengan tahi lalat di bawah hidung. Tapi, aku tetap mengelak. Kemudian, datang juga cerita baru. Ujarnya, sang Dosennya juga ada yang serupa. Mirip, dari tutur kata, gaya bicara juga amarahnya. Aku hanya geleng-geleng kepala. Yang lebih lucu, ada seorang yang salah menegur orang lain. Dianggapnya itu aku, padahal, bukan. Tapi, kemiripan itu hanya dalam rupa wajah. Entah kebetulannya cerita tujuh serupa. Aku menaggapinya, biasa-biasa saja. Beberapa hari lalu, tatkala aku membaca sebuah novel fiksi, meskipun ia diambil dari kisah nyata "Galaksi Kinanthi" Aku merasa terungkit kepada masa lalu. Ada keserupaan cerita, tentang cerita seorang gadis desa. Hanya berbeda nasib (lho, katanya serupa...???) Sepertinya, serupa pada jalan cerita, bukan pada nasibnya. Diawal-awal bab sang penulis, Tasaro GK, telah berhasil mengacak-acak emosi aku. Tersenyum, meringis, berkerut kening, meyakinkan arti bahasa jawa yang ditulisnya. Tak cuma itu, bahkan, aku dibuatnya menangis. Menangis ketika Kinanthi, meronta hendak dijual orangtuanya ke kota juga, saat adegan Ajuj menangis melepas kepergian Kinanthi, dari balik kaca jendela mobil. berpaut erat, rapat kedua tangan keduanya yang dibatasi pada jendela kaca. Awal-awal cerita, aku masih mampu menyembunyikan air mata. Maklum, aku masih dalam perjalanan, dalam gebong kereta api. Disela-sela kesibukan penumpang, aku menyempatkan diri untuk membacanya. Tidak peduli, mau berdiri atau duduk. Novel itu betul-betul menyedot perhatianku. Ketika satu demi satu stasiun terlewati, aku masih setia membaca dan menekuni kata demi kata yang ditulis oleh Tasaro GK. Ada gerimis kesedihan dalam hati, rinai air mata jatuh juga dikedua pipi. Meskipun tak sama persis alur ceritanya, ada beberapa hal yang membuatku menangis. Aku mengingat Om Christ, orang yang telah menyekolahkan aku. Aku tak mau lagi menoleh kiri kanan, kebetulan, gerbong kereta di satsiun selanjutnya tidak banyak orang. Aku biarkan saja air mata mengalir. Sesekali mengesatnya. Tapi, berlanjut kecerita selanjutnya, tak lagi aku mengesatnya. Kubiar air mata terjatuh. Kelebat om Christ tak mau beranjak dibenak. Aku memangisi kedua orang lelaki. Tasaro GK, yang telah mengingatkan aku tentang Om Christ. Juga, Om Christ yang karenanya lah, aku diajari berpikir. Wallahu'alam. Ya Allah, sejahterakanlah hidup mereka...
Yang mudah dicari, itu bukan sahabat. begitulah ujar seorang pakar motivasi. Entah betul, entah tidak. Tapi, kalau direnungkan, benar juga. Kita dengan mudahnya berkenalan, menyapa dan bertegur sapa dengan siapa saja yang kita temui dimana saja. Pun di dunia maya. Dari mulai yahoo messenger, friendster, hi5, tagged, blog facebook ataupun situs jejaring lainnya. Dengan mudahnya kita bertemu dan menyapa siapa saja. Tapi, apa semudah itu kita dekat dan rapat kepada mereka semua...???
Ah, tentunya tidak. Ada yang hanya sekilas saja kemudian, berlalu tanpa berita. Dalam menjelajahi (cie...) dunia maya, aku lebih suka nongkrong diblog. Dari blog, aku lebih banyak tahu aktivitas dan harian pemiliknya. Meskipun terkadang tanpa ditulis jelas tapi, ada ketikanya bias kata memberi makna. Pada rupa dan cara, bagaimana empunya blog bercerita. terkadang, rasa kehilangan juga ketika salah seorang sahabat blogger terdekat lama tidak posting ceritanya. Tertanya, tentang keadaannya juga khabarnya. Apakah ia, baik-baik saja? Seperti ketika waktu lalu, aku tidak blogwalking. Dan, saat aku blogwalking aku menunjungi blognya Henny Yaricaprestya. Aneh, blognya sama sekali gak bisa dibuka. Bahkan, tidak ditemukan. Beberapa kali, aku mengkliknya. tetap nihil! Akhirnya, aku menuju ke facebooknya. Bertanyakan khabar beritanya. Tiada terbalas. beberapa hari kemudian, aku melihat mbak Renny pun mengunjungi facebooknya Henny. Dan, masih ada beberapa teman-temannya lagi. Aku pun lebih dari sekali ke wall facebooknya. Henny, aku tercari-cari khabar beritanya. Andaian buruk bermain dikepalaku. Kenapa kalau hendak mengundurkan diri ia tak berpamitan secuilpun kepada sahabat bloger lainnya. Blognya, tak hanya ditutup. Tapi, tak ditemukan.
Sampai akhirnya, aku beranikan diri juga untuk menulis inbox di facebooknya kawan dekat Henny. Masih nihil, tiada balasan. Andaian buruk terus bergelayut. Dan, beberapa hari lalu, Henny mengirim pesan di inbox facebook. Alhamdulilah... betapa gembiranya aku. Meskipun dari tulisannya ia sangat terburu-buru. Tapi, sekurang-kurangnya aku sudah mengetahui khabar terbarunya. Henny sedang ada urusan. Dan, karena urusan itulah dia menghilangkan diri secara tiba-tiba dan tak lagi beredar didunia maya. Ujarnya, Insya Allah ketika urusannya sudah selesai semua Henny akan kembali tapi, entah kapan urusan itu akan selesai. Semoga Allah selalu memberikan kemudahan untuknya. Insya Allah... Dan Henny, mengirimkan salam untuk sahabat bloger semua. Serta, memohon maaf karena pergi tanpa permisi. Dalam postingan ini, aku juga sekalian memajang award dari Yoliz, Mbak Fanda dan Mbak Reni.
,
Desa Karangsari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang yang terletak di bawah kaki bukit Gunung Slamet adalah tempatku di lahirkan. Sebuah desa yang cukup terpencil. Dengan fasilitas yang tak begitu memadai ketika itu, menjadikan aku selalu bermimpi, untuk pergi ke kota besar, bekerja meskipun pekerjaan itu, hanya sebagai pembantu rumah tangga. Sepertinya tak pernah bermimpi untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi. Meskipun, pernah ketika SD (Sekolah Dasar) dulu Aku menuliskan cita-citaku menjadi seorang Guru. Tapi, cita-cita itu hanya tulisan begitu saja. Tak sedikitpun, mimpi itu memacu semangat belajarku. Juga usahaku untuk menggapainya.
Keluargaku pun, biasa-biasa saja. Bahkan, boleh dibilang miskin. Terlahir dari lingkungan yang biasa-biasa saja, menjadikanku tidak begitu mementingkan cita-cita. Toh, keturunan dari keluargaku tak ada satupun yang mengenyam pendidikan tinggi. Hanya seorang kakaku, yang saat itu masih duduk di bangku SMP. Sedangkan, kaka-kaka sepupuku yang lain, tak lebih dari SD. Sementara, kedua orang tuaku, merantau ke Selat Sunda. Dan aku, tinggal dengan Kaka, Nenek juga saudara-saudara yang lainnya. Impian untuk ke kota, semakin lama semakin kuat. Ditambah dengan keadaan ekonomi keluarga yang tidak menentu. Apalagi, setiap kali melihat tetangga-tetangga yang mudik ke kampung halaman saat lebaran tiba. Aku semakin dibuai mimpi untuk menuju kota. Melihat oleh-oleh yang dibawa juga mendengar cerita-ceritanya tentang kota. Aku selalu terkesima, mendengar cerita kota, dengan segala kesibukan juga fasilitas yang dimiliki oleh sebuah kota. Cerita tentang lampu, tentang TV berwarna, tentang kulkas juga keenakan makanannya. Ah, aku semakin merindukan kota. Rasanya, saat itu juga, aku ingin menuju ke kota. Dan, Jakarta, adalah kota yang ingin sekali kutuju. Tatkala selesai waktu belajar di SD, mimpiku untuk meneruskan sekolah, betul-betul terhenti. Aku tidak meneruskan sekolah. Meskipun sebetulnya orang tuaku keberatan tapi, aku lebih memilih tidak sekolah. Mendengar janji Budeku hendak membawaku ke Banten (Jabar Ketika itu). Betapa gembiranya aku saat itu. Hampir malam-malamnya, aku tidak bisa tidur lena karenanya. Meskipun aku tak bertahan lama di sana dan harus kembali lagi ke desa. Aku tidak jera, impianku masih sama yaitu, ke kota Jakarta. Sekembalinya dari Banten, aku mulai mengadu nasib di desa, dengan menjadi kuli di sawah-sawah orang kaya. Hasilnya yang tidak seberapa, tetap saja membuatku bangga karena bisa membantu perekonomian keluarga. Menjemur diri menjadi kuli di tengah bentang sawah-sawah, menjadi pekerjaan rutinku seawal usia 13 tahun. Terkadang, malu juga kalau harus bertemu dengan teman-teman SD. Apalagi, kalau bertemu teman sebangku. Yang ketika sekolah dulu, selalu bersaing prestasi setiap hari. Semua rasa malu kutepis. Aku harus membiasakan diri dengan keadaan baru. Dan, mimpi ke kota besar Jakarta tetap menduduki peringkat pertama di kepalaku. Ternyata betul, Ia Budeku dengan kedua majikannya. Seingatku, Budeku belum lama kerja di Tangerang. Kenapa meski pulang. Akhirnya, aku baru paham. Kalau ternyata, kepulangan Budeku adalah untuk menjemputku. Menemaninya bekerja di Tangerang, dalam rumah yang sama. Tak terbayangkan betapa gembiranya aku saat itu. Segala mimpi sepertinya sudah menjadi nyata di depan mata. Aku akan segera ke Jakarta. AKu tersenyum lebar, bahagiaku ketika itu betul-betul tak tergambar. Aku tak melihat sekelilingku, tidak juga mempedulikan perasaan Nenek, Kaka dan Budeku yang lainnya. pikiranku hanya satu, ke Jakarta, aku sungguh gembira!. Sungguh begitu cepat. Esoknya, setelah melalui malam yang cukup panjang, aku berangkat juga ke jakarta. Meskipun, harus ke Tegal dulu menuju tempat majikan Budeku, yang kelak juga menjadi majikanku. Di Tegal, aku dan Budeku menginap satu malam di rumah salah seorang anaknya. Dan hari berikutnya, aku baru menuju Tangerang bersama-sama dengan Budeku dan majikanku. Menaiki mobil Panther, meluncur deras menembus kesesakan kota. Rasanya, itulah pertama kali aku menaiki mobil pribadi. Hati kecilku bersenandung, mimpi ke kota hendak menjadi nyata. Meskipun saat berpamitan dengan sahabat mainku, ia menyela, katanya Tangerang bukanlah Jakarta. Tapi, aku cuek saja yang penting, aku hendak ke kota. Dan kini, aku sedang menujunya. Akhirnya, sampailah aku di tempat tujuan. Sebuah perumahan, yang cukup mewah menurutku. "Villa Melati Mas" Dan sampai sekarang, aku masih mengingat jelas alamat juga nomor telpone majikanku yang pertama kali. Di situlah, aku mulai mengenali kehidupan kota dan menghirup udaranya. Di situ juga, aku mengenali TV berwarna, kulkas, kompor gas juga, listrik tentunya. Seperti katak yang baru keluar dari tempurung, aku betul-betul mengalami keterkejutan budaya yang nyata. Aku merasa, desaku begitu tertinggal saat itu. Di rumah itu juga, untuk pertama kalinya aku belajar menyapu dan mengepel lantai. Sangat jauh berbeda dengan keadaan di kampungku. Dimana aku hanya menyapu lantai yang masih tanah. Sementara di kota, aku harus menyapu dan mengepel lantai keramik. Tidak begitu lama aku bekerja di rumah tersebut. Hanya enam bulan. Tidak lama setelah itu, aku justeru berpindah ke Banten, hidup berkumpul bersama dengan orang tuaku, (juga) adik-adikku. Alhamdulilah, akhirnya, Allah memberi kesempatan juga aku tinggal serumah dengan kedua orang tuaku. Meskipun tak lama setelah itu, aku kembali bekerja di Pamulang. Lagi-lagi, hanya sebagai pembantu. Di situ juga, aku mulai berani pergi sendirian PP dari Cilegon, ke Pamulang. Di Pamulang, majikanku beragam kristen. Meskipun begitu, ia baik denganku. Bahkan, aku disuruhnya meneruskan sekolah. Gembira sekali ketika itu. Sayangnya, keinginan itu tidak menjadi nyata. Aku harus kembali ke Cilegon. Di Cilegon, aku tidak memiliki kegiatan apa-apa. Sehari-hari, hanya duduk diam di rumah. Sampai suatu ketika, ada tetanggaku yang baru pindah dari Jawa. Dan dia, juga sekolah di sebuah Madrasah Tsanawiyah. Hatiku tergerak untuk mengikuti jejaknya. Aku mengutarakan niatku pada kedua orang tua dan kakaku yang saat itu juga sudah berada di Cilegon. Meskipun sudah telat selama 2 tahun, Alhamdulilah, aku masih diterima juga di sekolah tersebut. Dan, umur 15 tahun, aku baru menduduki kelas satu. Berbeda dengan teman-teman seangkatanku yang masih berusia 12-13 tahun saat itu. Sungguh kuasa Allah, aku tak menyangka kalau masih bisa sekolah. Meskipun bukan pada sekolah yang mewah. Begitulah, hari-hariku dipenuhi dengan kegiatan baru. Tak lagi berkutat dengan aktivitas harian rumah tangga. Kini berubah, menjadi aktivitas, menulis dan membaca. Betapa bersyukurnya aku ketika itu. Allah telah membuka jalan, untuk aku membuka pikiran. Bagaimana mimpi-mimpi itu harus selalu kukejar. Dari situlah, mimpi-mimpiku bermula. Dan kini, ketika aku membuat kopi, aku selalu mengingat kejadian berpuluh-puluh tahun dahulu. Bahwa, mimpiku, berawal dari atas pohon kopi.
Dalam tetralogi Laskar Pelangi, ada beberapa tokoh-tokoh tambahan yang terbuang. Dalam Laskar Pelangi, ada seorang manusia terbuang bernama Bodenga. Dalam Edensor, ada juga lelaki tua yang ditemui di kota kecil Craniova, Rumania. Seorang lelaki asal Banyumas, yang terdampar disana dan terbuang tanpa diakui negara. Sedih bergelayut, tatkala membaca lembar cerita ini. Juga, dalam Maryamah Karpov, Andrea Hirata juga menceritakan tentang lelaki terbuang. Weh namanya. terpencil, kehidupannya. Ia hidup sendiri, disebuah perahu. Tanpa ada sesiapa, yang mempedulikannya. Bahkan, sampai ia meninggal pun, tak ada yang mengetahui. Tragis!
Dalam kehidupan sehari-hari, sejatinya kita selalu ditemukan dengan kehidupan seperti itu. Dibuang terbuang, atas dasar pemikiran yang sudah terbentuk. Baik buruk, atas dasar persepsi terbanyak. Bukan karena apa dan mengapa tapi, karena sudah banyak yang melakukannya. Hanya analogi. Andai kita seorang kepala desa, kemudian datang dua orang memberi khabar. Salah seorang, memberi tahu bahwa, si Ahmad yang kaya raya, telah kehilangan uangnya sebanyak Rp.100.000.000. Sedangkan berita satunya, mengabarkan bahwa, Si Mamat telah kehilangan uang sebesar Rp.10.000. Agaknya, kemana kita akan pergi dulu? dan, kemana juga warga akan berduyun-duyun dan membicarakan kasus itu? Tentunya, kita akan menuju rumah Ahmad Dulu. Bagaimana tidak, Ahmad yang kaya raya, kehilangan uang yang begitu banyaknya. Sedangkan Mamat, hanya Rp.10.000 saja. Psikologi manusia, sudah terbentuk seperti itu. Sebagai manusia normal, kita akan bertindak dan berfikir mengikuti logika. Jarang sekali hendak menilai dengan mengikuti otak keratifnya. Seorang yang kreatif, mungkin akan pergi ke rumah Mamat, kalau Rp.10.000 hilang, sampai melapor kepada kepala desa. Mungkin saja, uangnya sangat berharga. Orang kreatif, akan berfikir secara lateral. Kalau semua orang pergi ke rumah Ahmad, siap juga yang akan pergi ke rumah Mamat? Tentu saja lebih banyak yang ke rumah Ahmad, Maklum, yang hilang Rp.100.000.000 jumlah yang sangat besar. Ia berita hangat, tetapi kalau terlalu ramai orang mengerumuni suatu hal, Ia sudah tidak menjadi terlalu pelik. Tidak ada eksklusifnya, smeua orang bicara hal yang sama, semua orang ada fakta yang sama. Siapa juara dalam soal ini? Tidak ada sesiapa yang menjadi juara kecuali orang yang pergi ke rumah Mamat. Dia pulang dengan membawa satu berita, yang tidak diketahui oleh orang lain. Dia lebih juara dan juga hebat. Meskipun jumlah kehilangan uang tidak besar, berita mengenainya akan menjadi besar dan si pembawa berita akan terkenal karena, hanya dialah yang ada fakta mengenainya. Sekarang, kita semua perlu berfikir lain sedikit daripada orang kebanyakan berfikir. Apabila kita melihat dan berfikir secara lateral kita akan menjadi luar biasa daripada, yang biasa. Para saintis adalah orang yang berfikir lain daripada orang lain berfikir. Melihat matahari mereka berfikri, bagaimana boleh membawa matahari kedalam rumah. Maka, terciptalah lampu elektrik. Melihat burung, mereka berfikir bagaimana caranya untuk terbang. Maka, terciptalah pesawat terbang. Psikologi manusia biasanya sama. Tentang kisah Ahmad dan Mamat tadi. Bukankah Rp.10.000 tiada nilainya berbanding Rp.100.000.000. Tapi, apa jadinya kalau uang yang Rp.10.000 itu, dimilki oleh seorang anak yatim yang tiada memiliki uang sepeserpun Tentunya, ia sangat berharga dan lebih berharga dari uang Rp.100.000.000. melihat, betapa sesuatu yang berada disebalik sesuatu. biasanya berbeda daripada apa yang biasa. Mengutip dari buku yang telah dibaca, dengan perubahan seperlunya.
Di Malaysia, libur sekolah tlah tiba. Biasanya, kalau musim libur githu, cucu-cucu majikanku pada berubah, jadi "anak baik-baik" Kerjanya, seharian nonton TV. Atau, paling banter ngacak-ngacakin rumah. Kadang ribet juga, kalau sudah melihat mereka seharian hampir terdampar di depan TV. Tapi, lebih ribet kalau mereka selalu mengekor sama aku. Kalau hari-hari biasa, hanya satu yang mengekori kalau saat libur tiba, bisa tiga orang yang mengekori (kek buntut aja)
Beberapa hari lalu, sewaktu aku menjemur baju Amir 9 tahun mengikutiku ke belakang rumah. Merengek dan merayu, supaya aku membukakan TV di kamar tantenya. Aku mengelak, pura-pura tidak tahu bagaimana caranya membuka. Meskipun Ia tak percaya, aku cuek aja. Lama kelamaan, tuh anak bosen juga. Dan memilih bermain di belakang rumah. Kedua adiknya pun ikut main bersama, Arwa dan Aufa. Arwa 6tahun dan Aufa, 2 tahun. Sementara aku, sambil menunggu cucian yang belum selesai ikut saja bermain-main bersama mereka. Aku duduk saja di atas rumput. Amir dengan Arwa protes, katanya "gak kotor apa?" Tidak lama setelah itu, Amir nyeletuk, "Gimana kala kita berkelah aja?" (berkelah, rekreasi) Akupun langsung mengiyakan. Mengambil tikar di dalam rumah, dan langsung menggelarnya. Maka, jadilah rekreasi kecil-kecilan. Aku juga mengambil bantal untuk Aufa. Biar dia mudah tiduran sewaktu minum susu. Tak lama setelah itu, Arwa juga mengambil bantal untuk dia dan abangnya. Makanan kecil dan air sejuk aku sediakan, langsung dibawa ke belakang. melihat tampang-tampang mereka, sepertinya sangat kegirangan sekali. Aku juga bisa sambil nyambi kerja. Mencuci, menjemur dan bermain bersama mereka. Menunggu cucian yang belum selesai lagi, aku mengambil laptop. Sayang sekali, batreinya tidak begitu penuh dan hanya bisa bermain selama 50 menitan saja. Dalam masa beberapa menit itu, iseng aku buka facebook. Menulis status, "Berkelah di belakang rumah" Akhirnya ngobrol deh dengan Wina di Medan, Nurhasanah di Banjarmasin, Mbak Ajeng di Surabaya (bener gak yah...???) juga mbak Elly di palembang. Meskipun tak bertahan lama, selain batrei yang tak penuh, juga si kecil Aufa, yang selalu menyibuk. Akhirnya, kututup laptop. Melihat Arwa dengan Amir, mereka justru asyik bermain tanah. dan Aufa sibuk sendiri entah apa yang dia buat. Aku mengakat cucian yang sudah kering, melipatnya di atas tikar dan memasukannya kedalam bakul. Angin yang semilir, membuat mataku terasa berat. Akhirnya, aku bilang kemereka kalau mau tidur. Dan, terlenalah aku di atas bantal neemo. Kira-kira 20 menitan, aku tertidur. Saat terbangun, cuaca gelap. Buru-buru aku mengangkat cucian dan memasukannya kedalam rumah. Meskipu terasa aneh, ada yang kurang dalam cucian. Sementara, anak-anak itu nyantai saja saat di suruh masuk ke rumah untuk mandi. Malah seolah enggan. Saat hari betul-betul gelap, dan rinai hujan mulai menitik. Barulah mereka masuk rumah, dengan wajah terpaksa. Dan kecurigaanku tentang kain yang berkurang, terjawab sudah. Rupanya, selama aku tidur Aufa memasukan baju-baju yang sudah kering kedalam baskom yang berisi lap. Lap-lap tersebut sedang aku rendam dengan pemutih. Karena banyaknya kain yang dimasukan, beruntung warna tidak menjadi pudar. Akhirnya, aku membasuh lagi baju -bajutersebut. Duh, bikin kerjaan dua kali aja tuh anak. Kesel bukan main (sapa suruh tidur...??? hehehe) Dan esoknya, Aufa memandikan hapeku :(( :(( Aku ndak punya hape...
Hidup adalah pilihan. Apapun bentuknya, setiap waktu kita dihadapkan dengan berbagai pilihan. Dalam hal kecil sekalipun, kita terkadang harus selalu memilih. Misalnya, hendak makan malam dengan apa malam ini...??? Kitapun, harus memilihnya. Pun dalam dunia blog. Aku memasukinya, juga pilihan. Pilihan untuk menulis, menuangkan ide juga terkadang menceritakan uneg-uneg dihati. Juga, pilihan untuk memberikan waktu. Waktu untuk menulis dan waktu untuk membalas kunjungan sahabat sesama bloger yang telah berkunjung keblog kita.
Beberapa waktu lalu, seorang sahabat bloger menegurku. Tanyanya, "Kenapa jarang sekali keblog saya mbak sekarang...?" Duh, terasa tidak enak hati. Sekarang, aku memang mengurangi jatah waktu ngeblog. Disatu sisi, di rumah majikanku sibuk hendak mengadakan hajatan (salah seorang anaknya menikah) Disisi lain, terkadang aku berfikir, aku masih mencari-cari arah tulisan dan tujuan. Kemana arah aku menulis juga, tujuan aku menulis diblog. Berlebihan? Aku rasa tidak. Buatku, ketika menulis diblog menjadi pilihan untuk menyalurkan hobi, aku pun harus memiliki tujuan dari pilihan itu sendiri. Menulis yang memberikan manfaat untuk orang lain, tak hanya susah2 merangkai kalimat demi kalimat cerita yang tak bermakna tapi, berharap juga, tulisanku berguna untuk sesama. Tak mudah memang. Dalam dunia blogger, aku mengagumi beberapa penulis yang memilih jalur blog sebagai pilihannya. Mungkin aku tak sehebat mereka. Tak usahlah kusebut siapa orangnya, untukku, mengenali mereka didunia maya sudah memberikan pelajaran nyata. Belajar, tak harus dibangku sekolah... Kalau menulis dijadikan pilihan, tentu saja ia berkaitan dengan bacaan. membaca tanpa menulis, bisu. Menulis tanpa dibaca, tuli. Andaiannya seperti itu. Tapi, tak selalu kedua-duanya mampu dilakukan setiap saat, atau istiqomah. Aku, sering terjatuh dalam keadaan males membaca dan menulis. Tak jarang, berhari-hari aku tak menyentuh buku, dengan alasan, tak ada waktu. Sungguh penyakit yang terkadang mendarah daging. Dan cerita ini, mengingatkanku pada Mbak Fanda. Sosok blogger wanita ini, identik dengan buku. Blognya pun bernama, Baca Buku Fanda. Menceritakan berbagai buku yang dibacanya. Sungguh bermanfaat sekali melihat hobinya. Membaca, dan bercerita kepada sahabat semua. Aku kagum pada hobinya. Yang sepertinya tak pernah mengalami pasang surut. Tidak sepertiku, yang terkadang, hanya mampu mencari waktu, untuk membaca buku. Aku pun teringat, dengan agenda klub buku online, yang sudah beberapa kali tertunda. Aku merasa bersalah dengan Mbak Fanda dan sahabat-sahabat semua. Aku mohon maaf atas semua penundaan itu. Semoga dilain waktu, aku bisa lebih menghargai waktu, utnuk membaca buku juga menulis yang telah aku baca. Juga, mohon maaf sebesar-besarnya, kepada sahabat blogger, yang blognya belum kukunjungi.
Majang award dari mbak Fanda. Kupinta maafmu, Mbak Fanda. Atas segala kekuranganku yang tak pandai membagi waktu. Selamat hari raya Qurban 1430H
Ada banyak kerinduan dalam hidup, rindu kepada-Nya. Rindu kepada sesamanya, rindu kepada kedua orang tuanya. Juga, rindu kepada tempat-tempat yang di rindukan. Tak semua kerinduan tercapai dan sampai. Ada kalanya, hanya dalam hening ia bersuara. Ya Allah, sampaikan salam rinduku untuknya... Begitulah, tak semua sama kalimat dan tujuannya. Tapi, tetap sama hanya meminta kepada-Nya.
Seberapa jauh kita mengenali Facebook? juga, seberapa sering kita mengganti status facebook? Tentunya, bagi yang memiliki acount facebook. Aku sendiri, setelah jarang blogwalking kini, selalu terdampar di situs jejaring tersebut. Lebih simpel memang, hanya menulis beberapa kalimat. Tidak perlu panjang-panjang seperti menulis di blog. Meskipun, ada juga fasilitas notes yang tak jauh beda dengan blog. Berbicara status facebook, kadang, aku sendiri bingung kalau hendak menulisnya. Tak jarang, aku menulis kalimat yang cukup acak kadut. Atau terkadang, kalimat yang cukup simpel. Meskipun terkadang, menimbulkan berbagai makna arti dari beberapa teman-teman yang koment. Bahkan, salah seorang sahabatku pernah mengkritik gaya statusku. Katanya, aku seperti anak 17an aja nulis status facebook. Tentang cowok aja. Ini gara-gara aku pernah menulis kalimat seperti ini, "Merindui seawal pagi, mencinta sampai ke senja." Padahal, kalimat itu, kudapat setelah melihat sebuah drama kehidupan nyata. Menyaksikan sepasang Kakek, Nenek yang bergandengan tangan, sangat mesra sekali. Subhanallah... Aku berfikir, seberapa besar cinta kedua orang tua itu?. Sampai kesenja, cinta mereka masih terlihat mesra. Mungkinkah ketika mereka muda dulu, selalu saling merindu...??? Dan, ketika beberapa waktu lalu. Aku melihat status facebook salah seorang temanku. Isinya, cukup mencuit hati, "lihatlah... embun pagi menempel lembut di dedaunan... menebarkan aroma basah sisa semalam.. tetes demi tetes kuhitung ia dalam detik... meninggalkan ujung daun dan perlahan jatuh ke tanah... lalu hilang tanpa berbekas... hmmm... inikah saat yg tepat untuk ku pergi..? seperti itukah jika aku nanti tak kembali...? tanpa satu bekaspun tertinggal dalam hati...??" Sudah lama aku tak melihat Ia berkelana di dunia maya. Buru-buru aku memberi komentar. Melihat komentar-komentar sebelumnya, juga balasan sang teman, membuatku terasa sedih. Entah kenapa, sangat terasa sebuah kepasrahan hidup. Kepasrahan yang begitu dalam. mengenali sosoknya dari sebuah blog, aku jadi teringat akan semua perjalanan hidupnya. Begitu banyaknya dilema hidup yang dialaminya. Tapi, aku salut. Ia terbuka menceritakan masalahnya kepada siapa saja (karena selalu diposting diblog). termasuk, cintanya kepada seorang gadis. Padahal, Ia sudah memiliki isteri. Ah, mengingatnya membuatku menitikan air mata. Jujur, aku salut dengan keberaniannya. Keberanian mengakui mencintai orang lain, meskipun ia dicaci, meskipun banyak juga yang membenci. Aku melihat, postingan-postingan terakhirnya penuh dengan kepasrahan kepada Illahi. Sungguh semua masalah telah mendewasakannya. Kembali kepada status facebooknya. Membacanya, seolah ia sudah pasrah dengan segala ketentuan-Nya. Pun, kalau Allah memanggilnya sewaktu-waktu. Ah, entahlah... aku tak bisa menggambarkannya seperti apa. Sepanjang sore aku merenung. Mungkin, manusia yang sudah tahu kapan ajalnya datang, ia lebih siap dengan kedatangan sang ajal. Mengingat segala laku burukku, kesedihan terasa. Betapa aku merindukan perasaan seperti itu. Perasaan menyiapkan diri, untuk kembali kepada yang hakiki.
"Belum pernah aku merindu, pada perasaan sehalus itu"
Aku mengenalinya di dunia nyata. Dulu, mula-mula sekali ketika masih sama-sama duduk di bangku SMA. Meskipun bukan pada sekolah yang sama. Aku ditemukan dengannya di sebuah komunitas penulisan. Pustakaloka Rumah Dunia saat itu. Atau sekarang, lebih terkenal dengan Rumah Dunia. Meskipun belum lama aku mengenal, aku sudah mulai banyak mengetahui tentang riwayat hidupnya. Apalagi, ketika Ia menyodorkan selembar surat kabar harian lokal. Namanya ada disitu, juga tentang khabarnya ia menang dalam sebuah penulisan. Lomba menulis essay yang diadakan oleh UNICEF. Hadiahnya, gak tanggung2, lima juta!.
Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Saat dunia maya menemukan namanya, akupun mengadd profile facebooknya. Hingga pada suatu ketika, aku menulis sebuah status facebook, ia memberikan komentarnya. Ruoa-rupanya, ia tak lagi mengingatku. Almaklumlah, aku ketika itu tak begitu akrab dengannya. :D Kenapa aku menulis tentang Endang yah...??? Dia, anaknya kreatif banget. Sumpe! meskipun kini kuliah di UI dengan mengambil fakultas sejarah (bener gak yah...???) tapi, tulisan2nya gokil abiz! jaka sembung banget tuh anak. Dan, aku salut Rata Penuhdengan semangat hidupnya, juga usaha yang dilakukannya. Hanya hendak mengcopas, sedikit obrolannya beberapa waktu lalu di facebook (ko facebook mulu yah aku nie..???) Anazkia Tarwito: Mencari penghapus, hanya untuk menghapus sebuah nama Endang Rukmana likes this. Anazkia Tarwito Endang, makasih jempolnya :) (sekalian tanda tangan aja Ndang di sini. hehehe... Endang Rukmana: Inih, anggap z komenku tanda tangan... :D Aku suka. Sewaktu2 aku kutip, ya, dgn sedikit modifikasi maybe. Aku cantumin qo namamu sbg creator & inspiratornya. Hehe. Anazkia Tarwito: @Endang, hehehe.. dikau sekarang dah jadi orang terkenal. Masih inget gak, sewaktu kita melintasi jalan di Ciloang, menuju Rumah Dunia. Sungguh Ndang, aku iri kepadamu. Semangatmu menulis luar bisa. Perjuangan hidupmu sungguh tak sia2. Ah, betapa menulis sangat membutuhkan kerja keras dan pengorbanan. Semoga aku bisa menyusulmu... Read More Ndang *nangis bombay* Inget gak Ndang, sewaktu kamu mengulurkan profilemu yang di muat di FB sewaktu memenangi lomba essai yang dapet duit jutaan. hehehe... Republik Narkoba, aku juga masih inget gimana detail2 ceritanya. Gaya ceritamu itu lho Ndang, kagak ade matinya. :D Endang Rukmana: Aku harus melihat photo profilmu dulu, ya, spy bs ingat2 dirimu lg. Heuheu. @Anazkia. Mulai sedikit bisa mengingatmu kembali. Mba Anas waktu itu pasti pendiem, yah? Klo rame pasti aku lanhsung inget. Hehe. Ngeles mode on...:D Btw, mampir2, ya, ke blog aku juga: endangrukmana.wordpress.com. Tangkyuh! :-) Anazkia Tarwito: @Endang, bukan hanya pendiem tapi juga pemalu *hahahaha* Sering segan aja kalau ma temen2 RD. Iya Ndang, waktu Writing Camp di Anyer pertama kali dulu, aku juga ngelihat Endang cuek2 aja. hanya memperhatikan perkembangannya. Meskipun jauh di rantau, sering buka web RD, jadi banyak tahu perkembangan temen2. tapi, aku rasa dikau yang paling sukses diantara kita kelas menulis angkatan pertama RD. Congrat! Endang Rukmana: @Anazkia. Jgn lebay. Hehe. Maksudku aku ngerasa pencapaianku blom ada apa2nya. Beberapa waktu lalu aku jg sempet terpuruk. Skrg baru mulai bangkit stlh aktif di fesbuk. Hihi. Lg masa2 recovery niyh... Mari saling mendoakan, nyah, Teh! :-) Melihat karya yang telah dihasilkan Endang Rukmana. Ini masih banyak yang lainnya. Hmmmm.. Melihatnya jadi semangat neh... Yang mo kenal, silakan add FBnya
Sedikit tulisan, sambungan dari "One Paid Day Off Campaign, Mustahil!" beberapa waktu lalu. Tulisan ini cukup panjang, bahkan masih ada satu seri lagi :) Duh, banyak amat yah?. Ini hanya pandanganku, sebagai objek, bukan mau menghakimi siapa-siapa. Cuma ingin berbagi pandangan, melihat dari berbagai sudut. Kalau ada saran, silakan di tulis di koment.
Sabtu malam, ketika Aku membuka-buka e-mail ada sebuah e-mail dari unimig Indonesia. Sewaktu membukanya, ada sebuah prolog dari Pak Ikbal (Presiden UNIMIG (Unoin Migrant), "Dear Mbak Eli, apakah bisa hadir dalam undangan ini, mewakili UNIMIG? karena saya besok pagi ke Medan, kalau bisa hadir bagus sekali untuk menambah wawasan, sekaligus mewakili UNIMIG dan menambah kenalan." Sudah jam sebelas malam lebih. Kebetulan, ahad itu, Aku memang hendak keluar rumah. Meskipun awalnya hendak berkunjung ke rumah teman maka, Aku merubah haluan untuk mengikuti undangan tersebut. Beruntung, ketika aku belum mengabarkan kedatanganku. Aku segera sms Pak Iqbal dan menyetujui untuk pergi. Sekaligus minta petunjuk arah pergi. Esoknya, aku menuju ke sana, bertempat di Shah's Village Hotel, Petaling Jaya Selangor. Sebetulnya, ketika membaca forward e-maill tersebut Aku sudah ragu karena, semua dari tulisan e-maill itu bertuliskan bahasa Inggris. Jangan-jangan, forum pun berbahasa Inggris. Setelah sampai di sana, kecurigaanku terbukti. Dalam forum seminar itu menggunakan bahasa Inggris. Aku sungguh terkejut. Bermula dari pendaftaran, panitia telah menanayakan kepada ku menggunakan bahasa Inggris. Aku cuek aja berbahasa Melayu, toh orang tersebut faham. Dan aku, berkata kalau wakil dari UNIMIG. Panitia mahfum, kemudian menanyakan keberadaan pak Iqbal. Aku mengambil tempat duduk terdekat dari pintu masuk. Kebetulan, di situ juga aku melihat wajah-wajah Melayu rasanya aku tak canggung. Setelah melihat dua deretan meja di sebelahku semua yang duduk di antara mereka berwajah India, China juga aku rasa bukan orang Melayu. Setelah perkenalan, baru aku mengetahui mereka berasal dari Filipina dan Mianmar. Terasa malu juga dalam hati, kenapa Pak Iqbal tidak memberikan undangan ini kepada yang lebih bijak, aka, ia memiliki kemampuan berbahasa Inggris? tapi, apapun aku tak menyesalinya. Buatku, ini pengalaman yang sangat berharga. Tema dalam seminar tersebut adalah, "INVITATION FOR THE LAUNCH OF DOMESTIC WORKERS’ CAMPAIGN TOOLKIT & CAPACITY BUILDING" Diskusi ini, sebetulnya menerusi diskusi sebelumnya "ONE PAID DAY OFF CAMPAIGN" yang aku sendiri tidak mengikuti. Dan di forum ini juga, aku bisa membuka mata, betapa rendahnya kualitas pembantu Indonesia di Malaysia. Pembukaan dimulai, panitia sedikit menyediakan hiburan. Meskipun tidak seberapa suka dengan sajiannya, aku melirik juga empat orang perempuan yang menari dengan sangat sederhana sekali. Kalau melihat facenya, ia berwajah Indonesia asli dan salah seorang di antaranya berwajah India. Aku berbisik kepada orang sebelahku menanyakan kebenarannya. Dan, jawabannya tepat sekali, ia TKW Indonesia yang tersandung masalah sedangkan yang satunya berasal dari India dan sekarang sedang menunggu proses. Sementara, ia tinggal di Tenaganita (Sebuah NGO bergerak di bidang tenaga kerja bermasalah dan penyelenggara seminar). Acara kembali dilanjutkan dengan sesi perkenalan. Aku memperkenalkan diri dengan menggunakan bahasa Indonesia dan berterus terang tidak bisa berbicara bahasa Inggris. mereka mahfum. Setelah sampai di hujung meja ke tiga, ketika orang-orang Filipina memperkenalkan dirinya, aku merasa kalau mereka bekerja di sektor rumah tangga. Tiba perkenalan pada empat perempuan penari tadi, mereka bicara tergagap-gagap. Bahkan, untuk berkata "Saya bekerja sebagai pembantu rumah" pun tersendat-sendat. Berbeda, sangat beda dengan orang-orang Filipina tadi. Ah, aku mulai membatin, perbedaan mulai terlihat jelas. Berkali-kali, hati kecil tertanya-tanya. Mengapa hanya kami di forum ini juga mengapa tak ada siapapun yang lebih bijak dari perwakilan kami. Ah, pertanyaan itu kubunuh cepat-cepat. Aku harus mengikuti seminar ini sampai selesai, baik faham ataupun tidak. Itu tekadku. Salah seorang perempuan yang menari tadi, duduk di sebelahku. Di sela-sela acara aku menyelipkan kertas kepadanya, bertanya nama, asalnya juga pekerjaannya. Dan siapa dua orang temannya. Yudian Buraen namanya, ia berasal dari NTT dan kedua temannya berasal dari Jawa. Dia juga menunjukan temannya, yang tepat berada di bangku sebelahnya. Ia selalu menangis, konon, keluarganya di Indonesia terkena musibah gempa. Aku bertanya, apa iya dari Padang? Jawabnya iya. Bingung, padahal tadi menyebutnya dari jawa. Tapi, kalau aku lihat sejak tadi orang tersebut selalu berwajah muram, selama menari pun, ia kelihatan sangat terpaksa sekali. dan selama berjalannya diskusi, ia selalu menangis. (Kisah inilah yang akan ku tulis dalam cerita satu lagi) Sebetulnya, aku banyak tidak memahami materi. Semua materi di sajikan dengan bahasa Inggris. Meskipun, sedikit banyak aku mengetahui hal-hal yang berkaitan. Tentang hak-hak pekerja yang terabaikan khususnya pembantu rumah tangga. Kasus penderaan, tidak di ayar gaji, tidak ada cuti, tidak diperbolehkan berhubungan dengan keluarga dan masih banyak lagi serangkaian langgaran para majikan kepada pekerjanya. Mengikuti dari kasus ke kasus, aku sungguh terenyuh. Betapa banyaknya TKW kita yang terampas haknya? Anehnya ketika pemateri menyajikan ulasannya dan membahas tentang keterkaitan tenaga kerja bermasalah dan kedutaan, banyak sekali yang pihak kedutaan tidak mengetahuinya. Ini memang bukan kisah baru. Tapi, akankah kasus seperti ini yang selalu muncul untuk TKW Indonesia? khususnya di Malaysia. Selama tidak ada kerja sama yang baik, dari hari ke hari bahkan ke tahun beribu masalah TKW akan seperti ini. Hendaknya, perbaikan di mulai dari kualitas TKW sendiri sebelum di berangkatkan. Juga PR untuk para agent penyalur pekerja di Indonesia. Sesi demi sesi terlewati. Aku banyak terdiam. Pun tatkala diskusi diadakan untuk menyelesaikan studi kasus yang diajukan. Untuk menyelesaikan sebuah masalah. Dua masalah yang melibatkan tenaga kerja berasal dari Indonesia dan India. Kedua-duanya, datang ke Malaysia melalui agen. Namun, nasib berkata lain ketika sampai di Malaysia mereka terombang-ambing setelah bekerja. mereka teraniaya, haknya terampas, janjinya tidak tertunaikan. Itulah hakikatnya, tidak sedikit yang telah sampai ke Malaysia pekerjaan dan gaji yang dijanjikan tidak sesuai. Berpindah-pindah majikan, majikan tidak berlaku adil, tidak membolehkan keluar, tidak boleh berhubungan dengan dunia lain, menyuruh masak babi kepada pekerja yang beragama Islam, bekerja lebih dari 12 jam, makan sehari sekali, pelechan seksual dan banyak lagi. Dua kasus terbahas sudah. Masing-masing dari grup membentangkan kajian penyelidikan. Aku, masih tetap terdiam. hanya sebagai penonton. Ah, mirisnya. Andaikan aku mampu berbahasa Inggris. Andaian itu, tetap menari-nari tanpa kupinta. Sementara, aku terbengong-bengong saja menyaksikan grup dari Filipina. Setelah aku selidiki dan amati, mereka, sama sepertiku. Hanya sebagai pekerja rumah. tapi, lihatlah kemampuannya, lihatlah cara berbicaranya. Sangat educated. Berbeda, sangat beda dengan para pekerja dari Indonesia yang sama-sama pekerja rumah tangga. Tersadar, betapa minimnya kualitas pembantu Indonesia di Malaysia. Memang, dari segala hal, Filipina lebih tinggi kualitasnya berbanding tenaga kerja Indonesia. Lihatlah, berapa gaji standar yang ditetapkan pemerintah Filipina lebih dari RM. 1000, sangat jauh dengan pekerja Indonesia yang hanya mencecah sekitar RM.400-500/bulan. Pun dari segi pendapatan majikan, majikan yang mengambil pekerja dari Filipina harus berpenghasilan lebih dari RM. 5000. Berbeda dengan majikan pekerja Indonesia yang hanya diwajibkan berpenghasilan RM.3000. Melihat skill dan kemampuan mereka, aku memang kagum dan salut. Tak heran, ketika pemerintah Filipina bisa dengan mudahnya memberikan peraturan dengan tegas kepada kerajaan Malaysia untuk memberikan syarat dan ketentuan kerja juga gaji. Jauh sekali perbedaannya dengan pemerintah Indonesia. Persetujuan perjanjian antara pihak pemerintah Indonesia dan kerajaan Malaysia cenderung merugikan pekerja rumah tangga. Pekerja rumah tangga yang termasuk ke dalam pekerja informal, susah sekali untuk mendapatkan hak-haknya. Terutama, haknya untuk mendapatkan cuti. Pemerintah Indonesia yang menginginkan gaji pekerja rumah Indonesia dinaikkan menjadi RM.800 mendapat kecaman berbagai pihak di Malaysia. Mereka menganggap, pemerintah Indonesia terlalu berlebihan, sedangkan kualitas pekerja rumah Indonesia sering dipertanyakan. PR kepada pemerintah dan para agen, untuk kembali menaikan kualitas para pekerja rumah tangga sebelum pergi ke negara tempat tujuan. Wallahu'alam...
Posting pemanasan, setelah hampir semingggu mendekam dalam penjara kata tapi, rupanya menjadi buruan dalam bahasa kalimat cerita *mulai lebay neh* Gara-gara "gila-gilaan" bermain kata dengan jama'ah facebukiyah. Akhirnya, diriku menjadi gagu dalam bercerita (kwalat sama guru besar mungkin dukun dari Banjarmasin wekekeke...) gara-gara mengingkari janji, membuat janji untuk menulis "Menanti Andaian Janji" Jiah, mulai keder nih :D. Ok, serius-serius. Gini-gini, kebelakhangan ini, aku sedang menyoroti berita tentang TKI wabil khusus adalah TKW Indonesia, yang ada di Malaysia. Tapi, beberapa postinganku terpaksa aku endapkan dulu, menunggu enakmen2 selanjutnya (weleh2...) maksudnya mah, data2ku gak akurat githu. Yang sudah siap di antaranya adalah, "Rendahnya Kwalitas Pembantu Indonesia Di Malaysia" Terus, juga tentang "Wanita-Wanita Penganiaya" Menyoroti penganiayaan PRT yang identik dengan majikan perempuan. Ini sudah hampir siap tapi, di lihat dari penyusunan bahasanya ko kacau beliau. Makanya, urung untuk aku posting. Satu lagi, sebuah feature yang sedang ku coba menulisnya yaitu, tentang seorang TKW, yang sudah 5 tahun bekerja tapi, tidak di bayar haknya. (memiriskan...)
Nah, karena semua itu masih dalam draft, meskipun ada beberapa yang telah siap tapi, jujur markujur, aku belum berani mempostingnya. Untuk itulah, sementara, aku kembali mengingat-ingat sebuah pesan dari dua orang sahabat mayaku. yaitu, mas Trimatra dan Bening. Kalau mas Trimatra, mungkin dah pada familiar kali yah...??? Tapi, kalau Bening, mungkin banyak yang belum kenal. Kalau yang belum kenal, yah monggo silakan berkenalan :) Kembali ke pesanan mereka. Beberapa minggu lalu, bahkan dah hampir berbulan, mas Trimatra, memintaku untuk posting tentangnya. Entahlah, mengapa harus diriku. Katanya, karena blogku rame pengunjung (ini gak banget, soalnya, aku dah lama gak BW) gpp deh, sepi atau rame, aku buat aja amanahnya. jadi, apa amanahnya...??? Katanya, mas Trimatra akan segera mengakhiri masa lajangnya jadi, undangannya suruh aku yang nyebarin (tambah gak mudeng, undangannya aja belum ada) :D Dengan siapa dia menikah, mungkin kalau sahabat semua mengikuti aktif blognya, akan mengetahuinya. Sepertinya, dalam posting Tempat Di Mana Aku Membuat Istana, di sana telah di ceritakan. Jadi, sahabat semua, baca lagi yah kisahnya... (mirip kek cerita sinetron hehehe...) Bocorannya, katanya, namanya Rahma Saraswati. Kebenaran ceritaku semua, harap konfirmasi ke orangnya yah...?? jangan nanya-nanya ma aku Aku khan hanya melakukan amanah :D ngeles mode on. Selamat aja untuk mas Trimatra. Semoga rencanya berjalan seperti yang di inginkannya. Dan Allah selalu melindungi mereka, Insya Allah... Nah, berbeda denga Trimatra, kalau Bening best prend aku nih, dia mau berundur dari dunia bloger katanya. Entahlah, apa alasannya. Mungkin, dia hendak mengistirahatkan syaraf-syarafnya dan kembali dengan sejuta ide dan tulisan baru. Semoga... Pokoknya, aku akan menunggu kehadiranmu, dalam dunia jagad maya (jiah, bahasamu Naz). keknya, ini dulu yah postingku. Singkat gak padat dan tiada pendapat soalnya, takut tersesat dalam kalimat, takutnya, malah jadi debat :). Cukup sekian posting singkatku. kembali berbenah diri, untuk mengejar kata di tepian senja Selat Sunda. Siapa yang mau bergabung, silakan bergabung di facebook. Selagi tahan dengan segala "kegilaannya" :) Lupa, sekalian malam nanti BW. Maaf yang belum kukunjungi...
Berapa lama KBO (Klub Buku Online) mati suri? Sudah hampir tiga bulan sepertinya. Pengasasnya tidur kali :D. Terimakasih kepada sahabat-sahabat bloger yang setia menanyakan dan tetap setia juga mengikuti ketika ku tanyakan. Mohon maaf atas kemalasanku, sehingga terlantar begitu lama. Insya Allah, KBO kembali di adakan memasuki bulan ke 3. Buku yang di bahas masih sama, To Kill a Mokcing Bird. Dan untuk konfrensi YM, Insya Allah akan di adakan pada 21 Nopember 2009, jam 20 WIB. Tidak terlalu cepat bukan? Toh, buku ini sudah di suarakan sejak beberapa bulan lalu. Melalui update kali ini juga, aku kembali mengundang siapa saja yang hendak bergabung di Klub Buku Online. Mungkin ada yang tertanya2 apa sih KBO..??? klik aja beberapa infonya di sini (pengenalan KBO, Buku pertama KBO , resume KBO confrence KBO 2,) .

Syarat mutlak mengikuti Klub Buku Online ini adalah di wajibkan membaca buku yang akan kita bahas dan pastinya, memiliki ID Yahoo Messenger. Karena melalui YMlah kita mengadakan diskusi. Semoga KBO ke tiga akan lebih baik lagi, Insya Allah. Dan, khusus untuk sahabat-sahabat ku, teruntuk Teh Najwa, Wanja Al-Munawar, Damarati Sabda, Hilal, Rama S Rahmat, Anna Aprihati (sahabat Rumah Dunia) Aku harapkan partisipasinya. Juga untuk, Ivonie Zahra dan Mbak Ida Raihan, mbak Rie-Rie (Hongkong) juga berharap partisipasi mereka. Vera Ernawati, Fitri, Ulfa Rizki, Ria Adriani (SMO angkatan ke 5) Ikutan yuks...??? Semuanya, aku akan tag melalui Face book. Owh ya, Elpa juga ikutan yuk? Kalau KBO tetap, aku gak usah absen kali yah...??? Tapi, untuk perkenalan okeh juga mungkin :).

KBO terdiri dari para bloger dan pecinta buku (kalau aku pecinta rupiah :D). Kita tersebar dari sabang sampai Merauke yaitu... Susunan KBO, Penanggung jawab, Anazkia, Malaysia. Moderator, Fanda Amnesiana (Malang, bener gak mbak? takut salah nyebut lagi :D), Shinta Nisfuana Bandung, Mbak Quini Jakarta, Jeng Sri Dublin, Inul Surabaya, Henny Palembang, Wina Medan, Ranny Afandy Menado, Buwel tegal, Lilipery Jogja, Mbak Tisti Rabbani Jogja, Trimatra Jogja, teh Lidya Bekasi. Bener semua gak yah aku nyebutnya? kalau salah, silakan pada bawa pentungan. Di gebukin aku ikhlas ko ;)) (soale yakin gak bakalan sampe :D)

Selain para anggota, kita juga punya para suporter lho (jiah, kayak pemain bola ajah) maksudnya mah biar lebih semangat githu. Dan, para supporter kita adalah... para pengunjung setia anazkiablogspot, Mbak Renni, Mbak Elly, Pak Setiawan, Pak Ary, Bang Atta, mas Ivan Kavalera, mbak fanny dll. Duh, malam ini aku full absen, mohon maaf kalau ada yang tak di sebut. Pokoke, jangan lupa baca bukunya. Semangat! :) Owh ya, aku baru inget, aku juga pengen ngajak mbak Ateh :) ayuk mbak, ikutan KBO? di tunggu :). Mbak Wendy juga yah...??? makasih juga untuk mbak Annie, vitri, mbak Zeta, bening, mbak Sri. Prof Ijo, pokoke banyaklah yang aku gak bisa sebutin satu persatu :(. Semuanya yang dah berkunjung ke blogku lah...
Sebuah penghormatan, ketika pak Ikbal (Presiden Union Migrant) mengirimkan imel kepadaku, untuk mengikuti seminar,"INVITATION FOR THE LAUNCH OF DOMESTIC WORKERS’ CAMPAIGN TOOLKIT & CAPACITY BUILDING" meskipun ia kesalah tatkala beliau menunjukku untuk mewakili dari pihak UNIMIG. Merasa ada waktu, aku menyanggupi untuk pergi. Meskipun, aku yakin tak tahu alamatnya dan tidak tahu apa yang hendak di bicarakan. tapi, membaca butir-butir imel yang di forwardkan, aku sedikit faham. Sekurang-kurangnya ia berkaitan dengan tenaga kerja. Terutama, menyangkut pembantu rumah tangga. Dalam hati kecil, sebetulnya aku ragu, apa aku mempu untuk mengikuti. Secara, membaca forward e-mailnya, ia full menuliskan bahasa Inggris, tak sedikitpun terselit bahasa Melayu. "Jangan-jangan, forumnya berbahasa Inggris juga nih, aku membatin"
Berdasarkan petunjuk sms, alamatnya mudah saja untuk di cari. Shah's Village Hotel, Petaling Jaya. Menaiki Kereta api, melalui lebih kurang 20 stasiun. Dimana setiap stasiun satu dan lainnya lebih kurang memakan waktu 5-7 menit. Tak begitu jauh memang. Sampai di stasiun Taman jaya, Pak Iqbal bilang naik taksi. Maka, dengan tak ragu aku menuju kumpulan para taksi dan langsung menuju ke TKP. Sesampai di depan Shah's Village Hotel, supir taksi memberi petunjuk, katanya, "kalau hendak pulang, jalan saja ke kanan dari arah hotel, di situ adik bisa langsung naik LRT" Jiah... rupanya, dekat saja dari stasiun. Pelajaran pertama mengikuti seminar, "bermula dari kesalahan, kita menjadi tahu" Meskipun aku cengar cengir mentertawakan kebodohanku. Sampai di lobi Hotel, kembali celingak-celinguk. Lupa mencatat siapa yang mengadakan seminar. Nyoba telfon Pak Ikbal, hpnya sudah off, mungkin beliau sudah menaiki pesawat ke Medan. Maka, bertanyalah kepada recepsionist. Di tanya siapa yang mengadakan, aku asli nyengir kuda. Dasar dudul, mbok yah sebelum pergi itu catet dulu penyelenggara seminar. Beruntung ketika di tunjukan tempatnya, betul. masuk ke ruang seminar, tidak ramai yang datang hanya ada 3 buah meja. Dan, muka-mukanya, Masya Allah. Muka Melayu dikit banget. Asli, langsung jiper! di tanya dari perwakilan mana, Aku bilang mewakili Unimig. panitia menanyakan pak Ikbal, aku bilang beliau ke Medan jadi tidak bisa datang. Sungguh kesalahan besar tatkala pak Ikbal memberikan amanah ini kepadaku. Di meja pendaftaran, seorang perempuan India menyapa dengan bahasa Inggris, aku hanya membalasnya dengan bahasa Melayu. Masuk saja di dalam, aku duduk bersebelahan dengan perempuan melayu. sebelahnya juga lelaki Melayu dan perempuan berkerudung. Sedang meja sebelahku, kelihatan orang-orang India, China lainnya (setelah kenalan, baru tahu kalau mereka dari Vietnam, Filipina dan Mianmar). pembukaan di mulai, dan hasilnya, menggunakan bahasa inggris, asli, setelah di depan lobi hotel aku berhasil nyengir kuda, di dalam seminar aku kembali mlompong kiong. Wekekeke... mentertawakan kebodohan diri. Lagi-lagi, aku membatin. pak Ikbal salah mengamanahkan ini kepadaku. Sewaktu perkenalan, aku cuek aja ngomong bahasa Indonesia dan bilang gak bisa ngomong bahasa Inggris (memalukan!) but, aku cuek aja :D secara, aku sedikit-sedikit boleh faham bahasa inggris tapi, kalau suruh ngomong, jangan harap!. Setelah perkenalan, ada break sebentar untuk sarapan, aku duduk-duduk aja di di situ, tanpa keluar. seorang perempuan berwajah China mendekatiku, dan menanyakan serba sedikit tentang UNIMIG juga keterlibatanku di dalamnya, apa aku perwakilan UNIMIG untuk PRT?. (Jiah, aku bilang aje kagak tahu menahu, secara aku ini baru kenal UNIMIG beberapa bulan lalu). ebetulan aja aku mengenali pak Ikbal (sebenernya, pak Ikbal sudah lama menawarkan aku untuk masuk ke UNIMIG. Akunya aja yang males. . Ini memalukan yang keberapa yah?. Perempuan itu bernama Vivian, tinggi kecil badannya, cantik wajahnya dan lembut tutur katanya. ia mewakili dari CARAM Asia. Sebuah NGO yang bergerak di bidang domestik worker's. Kinerjanya, kalau aku lihat tak jauh beda dengan TELAGANITA (penyelenggara seminar). Yang menarik dari wanita ini, ia memakai t-shirt berwarna oren, di belakangnya bertuliskan, "One Paid Day Off" wah, rupanya ia sedang mengkampanyekan seminggu sekali libur untuk para pekerja domsetic helper. Wah, salut aku. Tapi, aku bener-bener mustahil dengan dengan isu ini. rasanya, ko sulit yah, di aplikasikan? Mengapa...??? to be continue... Dalam seminar ini, aku benar-benar menemukan wajah negeri sebenar Indonesia tentang traficking dan dunia wanita. Sungguh PR yang sangat besar untuk menteri pemberdayaan wanita. (yaelah Naz, mentrinya kagak bakalan baca) Gak ngaruh, yang penting, mbak Elly dan wanita-wanita lainnya baca tulisan ini.
Terimakasih banyak, untuk sahabat bloger semua, atas komentarnya juga semangat yang di berikan. Berbagi, memang tak rugi.Dapat semangat baru, juga sahabat baru. Pokoke, terimakasih untuk Pradna (dengan spamernya), Mbak Wendy (juga dengan spamnya), Mbak Elly, Mbak Lidya, Mas Sugeng, Pak Setiawan, Henny, Yunna, Mbak Fanda, Bening, Mbak Tisti, Mbak Fanny, mas tree, Mbak Ateh, Mbak Ranny, Mbak Becce, Phonank, jeng Sri, Wong Jalur, Mbak Annie, Mbak Illa dan Vie_three. Kalau nanti ada komentator baru, ku ucap terimakasih juga hehehe... (GR banget deh).
Terkadang, bahkan sering, aku mengingat sahabat bloger semua, tentang kebiasaannya juga cerita2 di blognya. Nah, kalau bikin kopi, inget mbak Elly, pak Setiawan, Shinta (siapa lagi yang suka kopi?). kalau lihat buku, inget mbak Fanda, Shinta, Mbak Renny, Lilipery dan temen-temen KBO lainnya. Lihat karya sastera. inget mas Ivan Kavalera, lihat ember, inget mpok ratu ;)), lihat warna biru, inget Inul. Lihat tulisan Jogja inget mbak Tisti, lihat orang keseleo inget mbak rennyhalah, pokoke banyaklah. Yang gak di sebut, jangan marah :) Kembali kepada mengingat, nah di belakang rumah, ada sebatang pohon. Entah ia dari jenis apa. Tapi, buahnya serupa dengan Strowberry. Meskipun pohonnya lebih tinggi karena ia beranting (gambaran strowberry mbak Wendy nih.. wekekeke..) Rasanya, kalau aku bilang pun tak jauh beda, masam2 manis. Meskipun buahnya lebih kurus dari strowberry. Ia tumbuh di dekat jemuran baju. jadi, kalau pas berbuah, senang aja aku mengutipnya dan memakannya di situ sambil menjemur baju. Tanpa di cuci! :D. Anak asuhku juga menyukainya. Nah, kalau lihat pohon itu, aku pasti ingat mbak fanny penggemar stowberry yang baik hati :) Makasih yah mbak, atas postingannya juga awardnya, juga bukunya :) sengaja aku minta mbak, biar semangat posting, sampai 500. Aku yang sudah dua tahun ngeblog aja belum sampai 300 (ketahuan banget malesnya) jadi, Insya Allah, mau mensupport diri biar bisa posting sampai 500 bahkan, kalau bisa sampai 1000 (Kalau mbak fanny posting sampai 1000, mo kasih apa ke kita2 mbak?) sepertinya, tahun depan sebelum bulan yang sama, mbak sudah mendapatkannya :). Pokoknya, di tunggu postingan yang ke 1000 (lho, ko malah nunggu mbak Fanny, harsunya khan aku) mikir, nunggu berapa tahun yah kalau aku...???. Inilah posting sesi pajang award dan ucapan terimakasih. Semoga, dengan semangat dari sahabat-sahabat semua betul-betul membawa "ruh" baru dalam diriku. terimakasih ku ucap, semoga yang Kuasa selalu menemukan kita dalam kebaikan. Juga saling mengingatkan, untuk kebaikan. Insya Allah...
Award dari mbak Fanny
Sang kucing bersama kedua anaknya (sungguh penyesalan itu datang terlambat, andai kita tak membuang anaknya... :((
Di rantau, aku mengenali seekor kucing. Hitam warnanya, betina kelaminnya. Awalnya, ia hanya sesekali datang. Hanya lewat sekejap, di belakang rumah. Lama kelamaan, ia semakin kerap datang dan aku mulai memberinya makan. Sejak saat itu, ia mulai selalu datang di belakang rumah. Dan aku, masih selalu memberinya makanan. meskipun kadang berebutan dengan ayam-ayam tetangga. Maka, rutinitas memberi makan kepada kucing menjadi jadwal baru untukku.

Kucing itu hanya di luar, tak pernah sekalipun masuk. Tapi, lama-lama, ia berani masuk juga. meskipun hanya nongkrong di dekat meja gosok, atau sekdar tidur menemani aku yang menggosok baju. Aku membiarkannya. Aku tahu, majikanku tidak menykainya. Semakin lama, ia semakin berani. Dan seperti menganggap, itulah rumah baru dia. Dapur, adalah injakkan selanjutnya. Tapi, ia tak pernah masuk ke ruang tengah. Hanya sebatas dapur, dan tempat gosok baju.

Keluarga majikanku mulai meributkannya. Dan, semakin lama, kucing itu semakin berani. Akupun semakin memanjakannya bahkan, sejak saat itu, aku rajin memandikannya. meskipun ia menangis-nangis (mang kucing nangis kek apa yah...???) Dan majikanku, mulai biasa saja dengan kucing tersebut. Pun dengan keluarga lainnya. Bahkan, kita di untungkan, karena, tiada lagi tikus yang berkeliaran di dalam rumah. Sang kucing dah biasa tidur di dalam rumah bahkan, malam hari pun ia tidur dengan lenanya di depan TV.

Waktu berlalu, karena kucing sang betina maka, mengandunglah ia. Dan, terlahirlah dari rahimnya dua ekor kucing. Fiuh.. sungguh menguras kesabaran. Semakin besar anaknya, semakin repot aku di buatnya. mencuci kotorannya, jadi agenda sehari-hari. Kadang aku bersungut kesal. Sudah berulang kali aku letakan sang kucing dan kedua anaknya, ia tetap saja pup dan kencing ke tempat sediakala. Semakin besar, bukan semakin pandai seperti emak kucing, sang anak malah semakin meraja lela. setelah main dari luar, ia dengan enaknya masuk ke dalam rumah untuk pup (herannya, dia kalo pup di tempat cuci piring). Akhirnya, aku protes dengan majikanku setelah ia mulai pup di kasur. Dan aku, menyuruh majikanku membuang anak-anak kucing tersebut (Anaz sadis! :( Maka, terbuanglah sang anak kucing yang mulai remaja di sebuah pasar. Dan sang emak kucing di tinggal di rumah.

Sang emak kucing memang sudah mulai menua, kerjaannya hanya tidur saja. Aku juga mulai jarang mengurusinya. Tak kerap lagi memandikan. Makan pun kadang terbengkalai (duhai kucing, mohon maafkan aku...) Semakin lama, kucing semakin suka tidur. Dan susah sekali makan. Kalau dulu segala jenis lauk boleh di makannya, sekarang tidak. ia mulai pilih-pilih makanan. Aku sering kesal di buatnya. Dan aku mulai tak peduli. Puncaknya, beberapa hari setelah lebaran kemarin, begitu banyaknya makanan, dia pun enggan menjamahnya (maksudnya, aku letakan di pinggan dia) alhasil, aku semakin cuek ama dia. Dan sejak saat itu, aku mulai jarang melihat kelebatnya. terakhir, dia masuk rumah. Dan ia tidur di bawah meja gosok baju, lama sekali. Tak lagi peduli dengan makan, sebelumnya, ia sudah tercecer pupnya kemana-mana. Padahal, sebelumnya sang emak kucing sangat bijak. Tak pernah pup di rumah. Aku mulai geram lagi dan berniat ingin membuangnya lagi. Sejak saat itu, aku tak ramah lagi sengannya dia pun sepertinya mulai takut denganku :((.

Sampai suatu ketika, ia tak lagi nampak batang hidungnya. Tak juga aku mendengar suaranya. beberapa hari. Aku menunggunya. Aku mencarinya. Aku fikir, dia sudah mendapat majikan baru. Dan dalam hati, bersyukur kalau dapat tempat yang lebih baik. Sampai suatu ketika, beberapa hari lalu. tatkala aku sedang mengemas dan menyapu ini itu di halaman, aku terbuka pintu sebelah rumah, tercium bau aroma yang sangat busuk. Mataku mencari ke sekitar, dan, rupanya di bawah meja yang penuh dengan barang-barang sang kucing sudah terbujur kaku. Di kelilingi semut-semut dan beberapa lalat. Ya Allah... tak tergambarkan perasaanku. Aku menangis... Ya Allah... betapa jahatnya aku dengan kucing itu. 

Dengan berat hati, dengan perasaan bercampur baur, aku menggali lubang untuk menguburkannya. Aku sendiri yang mencangkul tanahnya. Tak terasa, selama menggali lubang, aku terkenang segala sikap jahatku kepadanya. Betapa sedihnya. Betapa naifnya terkadang jiwaku sebagai manusia. bahkan, untuk seekor kucing. Aku menangis.. lebih sedih ketika membayangkan siapa kelak yang akan mencangkulkan tanah pekuburan untukku...??? Ah, air mata itu, dengan murahnya ia mengalir deras. Pun, ketika aku harus mengangkat bangkai sang kucing, juga meletakannya. Sampai disitulah persahabatanku dengannya. Aku yang menguburkannya, aku juga dulu yang sering memarahinya. Inilah akhir dari pertemuan kita... "Kucing, andai kamu tahu rasaku ketika itu..." 

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Teman-teman

Sering Dibaca

  • Minyak Gamat Bukan Hanya untuk Obat Luka
  • Bagaimana Cara Membuat KTKLN?
  • Resep Terong Bakar Sambal Kencur
  • Menginap di Hotel Sawunggalih
  • Tujuan dan Sasaran Bisnis Jam Tangan Wanita Alexandre Christie Online

Harta Karun

  • ►  2022 (8)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2021 (8)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (4)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2019 (41)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2017 (21)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2016 (63)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Februari (23)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2015 (137)
    • ►  Desember (25)
    • ►  November (20)
    • ►  Oktober (34)
    • ►  September (19)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (9)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (52)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (6)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2013 (40)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (12)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2012 (74)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Februari (13)
    • ►  Januari (14)
  • ►  2011 (87)
    • ►  Desember (10)
    • ►  November (8)
    • ►  Oktober (18)
    • ►  September (13)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (8)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2010 (141)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (12)
    • ►  Juni (12)
    • ►  Mei (17)
    • ►  April (20)
    • ►  Maret (17)
    • ►  Februari (18)
    • ►  Januari (23)
  • ▼  2009 (124)
    • ▼  Desember (11)
      • Sebuah Prolog, Tentang Perjalanan
      • Posting ke 300 Berkelana Aku, ke Tanah Sumatra
      • Selamat Tahun Baru Islam 1431 H
      • Menjawab Soalan Rangga
      • Indahnya Tersesat Part 2
      • Indahnya Tersesat
      • Kurir Cinta
      • Dua Lelaki, yang Membuatku Menangis di Gerbong Ker...
      • Untukmu, Henny
      • Mimpiku, berawal dari Atas Pohon Kopi
      • Berfikir Lateral Dan Kreatif
    • ►  November (6)
      • Berkelah Di Belakang Rumah
      • Maaf Kepada Sahabat Bloger Semua Terutama, Mbak Fanda
      • Belum Pernah Aku Merindu, Pada Perasaan Sehalus Itu
      • Endang Rukmana
      • Rendahnya Kualitas pembantu Indonesia di Malaysia
      • Request , Trimatra Menikah Dan Bening Berundur
    • ►  Oktober (7)
      • Up-Date Klub Buku Online 3+ Undangan
      • One Paid Day Off Campaign, Mustahil!
      • Ucapan Terimakasih Dan Majang Award
      • Akhir Dari Pertemuan
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (17)
    • ►  Juni (14)
    • ►  Mei (16)
    • ►  April (20)
    • ►  Maret (12)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2008 (105)
    • ►  Desember (7)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (10)
    • ►  Juni (16)
    • ►  Mei (19)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (22)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2007 (30)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (12)
    • ►  Agustus (2)

Kategori

Ads Blogger Hibah Buku Celoteh Cerpen Featured GayaTravel KBO komunitas Murai Perjalanan Piknik Buku Pojok Anaz Reportase resep reveiw Semestarian Serial Sosok Teman TKW TripGratisan Volunteer

Catatan Anazkia By OddThemes | Turatea.com