Catatan Anazkia

Karena hanya tulisan yang bisa saya tinggalkan

  • beranda
  • Kisah
    • Serial
    • Cerpen
    • Celoteh
    • Reportase
    • Perjalanan
      • Gaya Travel
      • Trip Gratisan
      • Piknik Buku
  • Pojok Anaz
  • Murai
  • Sosok
  • komunitas
    • Volunteer
    • KBO
    • Semestarian
    • Blogger Hibah Buku
Iseng, kugapai buku bercorak bunga-bunga biru di lintasi dua ekor burung. Ku buka helai demi helai lembar kertas yang lama tak terkuak. Lucu ketika aku melihat beberapa dan bahkan banyak sekali coretan-coretan tanganku. Hampir semua kubaca cerita-cerita lama beberapa tahun dulu. Sangan lucu, ketika obsesiku beberapa tahun lamanya ternyata, sampai sekarang belum kesampaian juga (kira-kira, obsesinya apa yah?) Beberapa guratan tentang mimpi juga syair-syair puisi yang kadang aku akui tak begitu berarti. Tak sedikit juga gurindam jiwa tanpa makna yang membuatku geli menahan tawa. Tak terasa, coretanku berhenti pada tanggal 8 Juni 2005. Tertulis di situ, "Tanggal 4-5 Juni kemarin Rumah Dunia ngadain writing camp aku ikut tapi, jalanku menjadi penulis susyeh banget." nah, itulah obsesi jadulku :).
Ketika itu, untuk pertama kalinya Rumah Dunia mengadakan Writing camp. Yang di motori oleh kelas menulis angkatan ke 5. Bertempat di tepian pantai Anyer, acara ketika itu begitu seru. Tanpa di sengaja ingatan itu kembali melintasi semua kenangan dulu. Yel-yel kelompokku juga masih ku ingat jelas "Banana pisang, banana pisang, monyet juga suka." sangat wagu dan lucu. Ini juga bentuk kekecewaan kami karena gagal menaiki banana pisang yang cukup mahal untuk ukuran orang yang tidak memiliki uang :). Sebagian peserta adalah mahasiswa dan pelajar. Begitu di sayangkan, ketika kelompoku tidak memenangi tugas-tugas terakhir. Penugasan membuat puisi yang di kira sangat mudah ternyata, tidak di lirik oleh para juri :(. Tidak di sangka, saat kelompok sebelahnya membuat cerpen, malah mengungguli dan mendapat juara. Padahal, cerpennya pendek banget. Cerpen yang di tulis dari ide seorang anak yang masih SMU (kalau gak salah, namanya Asri deh anak SMU Cilegon) Padahal, asli, cerpennye bener-bener pendek. Itu hari terakhir, hari pertama, tentunya lebih seru. Petang di susuli semburat-semburat senja merah saga kami para peserta duduk lesehan di tepi pantai. Mendengar dan berbagi cerita tentang keluh kesah, juga kesulitan menulis lainnya. Tak sedikit yang malu-malu tak juga malu orang yang memiliki keberanian untuk tidak berani malu. Mas Gong senantiasa memberikan suoprt dan dorongan kepada para peserta. Saat malamnya deklamasi puisi di iringi petikan gitar salah satu peserta juga jagung bakar yang mengepul di atas api menyala-nyala. Aku begitu mengingatinya. Hingga tanpa sengaja, aku membuka blognya mas Gong, ternyata, dalam waktu dekat Rumah Dunia kembali mengadakan Writing Camp. Tentunya, dengan format dan situasi yang berbeda. Untuk lebih lanjutnya, silakan baca di sini
Kamis kemarin, aku merasa begitu sibuk tak sedikit juga hati mengusik sebenarnya, sok sibuk aja. :D Tidak sempat blogwalking, tidak sempat ngamen juga tak sempat posman hehehe... Kecuali, ngamen di blognya Jeng Sri (ku link ah, nanti dapet protesan lagi neh..) , huh! otakku ampe kering gara-gara merah sisa-sisa neuron yang lagi tidur. Hanya untuk mencari sebuah arti huruf "S". Fiuh... Entah apa maksudnya, aku sih ngiranya, es teler, es doger, es campur dan kawan-kawan es lainnya. Kamis kemarin, di milisnya mbak Asma Nadia mengadakan confrence. Semangat confrence kali ini. Kemarin, aku terpaksa mencambuk jutaan neuron yang setengah pingsan bahkan, tak sedikit yang mati suri dalam kepenulisan (wekekeke... tulisane anazkia mulai ngaco.com) Sok sibuk selanjutnya, aku di amanahkan untuk buat resumnya. Yang mau baca, ada di bawah sini. Ada tips n triks menulis lho... Dasar sok sibuk, niatnya tadi malam mo buat resume konfrence, eh malah ada yang sms mo kunsultasi gratis (Biasa, konselor dadakan, mo nyaingin Jeng Sri. Meskipun aku tanpa ijazah... weks.. anazkia ngelindur maning). Akhirnya, buka ym tanpa membuat resuman. Maklumlah, otaku ini tidak bisa di pake bersamaan antara kanan ama kiri. Aku pernah ngetes "kesaktian" otak kanan kiri ternyata, aku ini jenis yang lumayan o'on hehehe... Dulu, sodaraku pernah testing, "Ana, kamu bisa gak buat kotak dan bulatan dalam masa yang sama dengan dua tangan?." Sah, aku gak bisa, meskipun bisa juga gak sempurna. Coba temen-temen nyoba. :) Sok sibuk selanjutnya, malam ini aku mo jalan2, menyusul jejaknya mbak Fanny(le hai pin to lei a?) yang baru pulang dari Hongkong. Kali aja bisa ke Victoria Park, Ocean Park dan Disney Land (mimpi kali yeee....???) kidding, aku mo jalan2 ke dunia maya aja, biar bisa keliling sejagat ;) Sok sibuk terakhir, pengen buat postingan untuk minggu depan tentang:
  1. Nulis untuk undangannya Trimatra (kayaknya, blognya gi off deh, makanya gak aku link. Gi ada reparasi sepertinya bakalan keren nih) untuk meriview something dalam rangka postingan emasnya.
  2. Update Klub Buku Online.
  3. Writing Camp Yuks...??? (dari pada gak bisa ke Hongkong ma Mbak Fany, mending ikutan ini aja dapet ilmu kepenulisan. Gak percaya? tunggu aja infonya).
  4. Bagi-bagi award yang sudah ada di my kompi. Menyusul protesnya Pak Setiawan.
  5. Postingan ini, paling ngelindur kale... Anazkia, mo bagi-bagi beasiswa Sekolah Menulis Online untuk temen-teman yang beruntung. Syarat dan ketentuannya tunggu aja yaks info lebih lanjut...???.
Yang lebih seru, aku dapet temen baru yang kiut miut pokoke subhanallah cantik... siapakah dia...??? mbak Dwina yang katanya mo kenal dekat dengan aku. Hmmm... seneng banget aku. Malam ini, aku mo berkunjung ke rumahnya, minta jeruk gratis hehehe... Itu aja kali yah... Yang mau baca resuman confrencenya, silakan... Nah, postingan ini, panjang banget. Kalau yang males bacanya, langsung aja ke koment. OK! :)
Karena kepanjangan postingnya, dan pada protes akhirnya, aku cut aja. Dan sekarang, mo meneruskan sok sibuk selanjutnya. Yaitu... beres2, gosok baju yang sudah dua bakul banyak lagiah sok sibuk lainnya.
Seperti anak kecil yang berlari-lari gembira menyambut pemberian ayah ibunya. Itulah aku kini, tatkala beberapa teman dan sahabat bloger berganti dan beriringan memberikan award. Seperi sebuah motivasi primer buatku yang menjadi pendorong dan penyemangat untuk aku terus belajar menulis kata demi kata melalui dunia maya. Di dunia maya, ku temu yang tak ku jumpa di dunia nyata. Di dunia lain ini, ku dapat sahabat yang tak pernah bertemu muka dan bertegur sapa tapi, senantiasa bercerita. Hari demi hari, ketika kedekatan itu mulai terasa dan tatkala satu demi satu teman dan sahabat silih berganti saling mengunjungi dan berbagi. Ku rasakan keakraban itu juga, ku temukan kebahagiaan di dunia lain. Aku akan memboyong beberapa award dari teman dan sahabatku
Award pertama, datang dari mbak Fanda, seorang pecinta buku. Hasil sambanganku kesana, rupanya banyak memberikan info dan motivasi buatku. Seorang pecinta buku dan aku yakin beliau juga sang pecinta ilmu (mo nyari ilmu khan banyak dalam buku, selalin net tentunya) :). Aku berharap, mbak Fanda mau menyertai klub buku online. Supaya aku banyak belajar banyak darinya. (Mbak, info terbaru, nanti Insya Allah ku update)
Award ini, ku bagikan lagi untuk sendal jepit santri yang suka jualan sendal goreng keju, black_id, semoga tidak adalagi kegelapan, mbak Quini (gak usah link ah, wong wis tenar ko hehehe...) tetep jadi ratu blog tentunya, Jeng Sri ilmunya, semoga selalu bermanfaat(ini juga aku gak link, wong dah famous di kalangan bloger ). juga mbak Ani seorang guru. Mohon maaf jikalau teman2 semuanya sudah mendapatkan award yang sama. Award ke dua, ku terima dari mbak Reni. Penilaianku masih sama, seorang pemerhati kemiskinan. Dan atas award ini, aku merasa begitu di perhatikan oleh beliau. Komenanku, kunjunganku ternyata di sambutnya dengan baik. Ku terima award ini dengan suka cita. Semoga ini menambah kekayaan semangat hidupku.
Award ini, ku berikan kepada Inul (maaf kalau dah dapet yah neng...), juga Laila di Cilegon yang blognya aku gak bisa komentari. Juga Moris Maulana di Semarang seorang yang sangat obsesi untuk menjadi penulis Selanjutnya. award dari Pak Setiawan Dirgantara. Mohon maaf, aku lambat ambilnya. Ko kayaknya segen gitu atas penawaran awardnya. Untuk menambah kekayaan hidup ku ambil ini dengan gembira. Terimakasih banyak pak.. :). Yang ini, untuk sapa yah...??? Aku rasa, dah banyak yang punya. Almaklumlah, sang pemberi pun tak kalah famousnya dengan Jeng Sri :)
Dan, adalagi yang membuat ku bingung atas penawaran award dari Tovarossi. Bingung mo ngambil yang mana? Aku sering mampir ke sana tapi, jarang sekali memberikan komentar. Habisnya, blog itu rame banget komentatornya :). Ku pilih berbagai award di tempatnya. Dan inilah yang berhasil ku boyong...
Semuanya kebetulan, Betulkah...??? Semuanya kebetulan, Mungkinkah...??? Aku rasa tidak! Aku tidak ada niat apa-apa Dan aku bukan siapa-siapa Jadi, Jangan bertanya aku siapa Karena itu akan membuatku terluka Berselimut duka Apakah ini betul...??? Rasanya tidak Ataukah kebetulan...??? Sekali lagi dengan tegas, aku menjawab tidak! Aku jelaskan di sini Sekali lagi Bahwa, Aku bukan siapa-siapa Yang layak untuk di tanya Kamu siapa, kenapa dan mengapa Apakah semuanya kebetulan...?? Tidak, aku yakin tidak! Karena aku makhluk Tuhan Dan aku, tidak menganggap segala sesuatunya kebetulan
Sebelum kutulis ini, ku ucap takziyah sedalam-dalamnya atas meninggalnya pahlawan devisa kita saudari Kartini yang baru berumur 20 tahun dan baru 2 bulan menginjakan kakinya di negri jiran ini. Korban ditemukan dengan kecederaan parah pada kepala di percayai akibat di dera (Berita Minggu, 24 Mei 2009). Semoga amal ibadahnya di terima di sisi-Nya, Insya Allah... Dan, tiada lagi Kartini-Kartini berikutnya yang mati sia-sia demi untuk merubah nasibnya.
Setahun yang lalu tepatnya, ketika 1 Mei 2008 aku menghadiri sebuah pengajian akbar di sebuah masjid Asyakirin KLCC (Kuala Lumpur City Center). Pembicaranya saat itu, Ustdz Didin Hafidudin. Dan tatkala salah seorang ketua panitia menyampaikan sambutannya di situ terucap, bahwa ia adalah seorang Doktor pembantu rumah tangga (wis, aku asli keder). Sudah lama juga aku ingin posting ini tapi, sepertinya aku merasa belum lengkap. Rupa-rupanya, beliau adalah seorang mahasisiwa S3 yang sedang menyusun tesisnya tentang Pembantu Rumah Tangga. Dari situ, aku mulai penasaran. Apa sih yang menarik sampai-sampai seorang calon Doktor pun membuat skripsi tentangnya. Seribu kali sayang saat aku sama sekali tidak mengatahui sosok beliau ketika itu. Hendak bertanya lagi, aku pun tidak mengenalinya dan tidak tahu bertanya kepada siapa. Kenyang search di mbah Google akhirnya, aku menemukan juga tesis yang serupa tentang pembatu rumah tangga oleh salah seorang mahasiswa Malaysia. Lagi-lagi, ini untuk calon Doktor. Tidak tanggung-tanggung, seorang calon Doktor Falsafah (tabik aku). Judulnya, "

PERLINDUNGAN PEMBANTU RUMAH INDONESIA DI MALAYSIA: ANTARA IMPIAN DAN REALITI

di tulis oleh,
(Darul Amin bin Abdul Munaf)Calon Doktor Falsafah di Jabatan Pengajian Asia Tenggara, Fakulti Sastera dan Sains Sosial, Universiti Malaya aku tidak akan membicarakan tulisan belaiu. Hanya saja, ternyata menarik dari segi aspek apapun ketika membicarakan pembantu rumah tangga (wabil khusus, TKW tentunya). Ada juga aku menemukan di sebuah web tentang skripsi dan tesis lagi-lagi tentang pembantu. Sebuah web yang di kelola oleh orang Indonesia. Kalau aku baca lebih lanjut, isinya ada yang sedikit kesamaan dengan tesis di atas. Kembali kepada seorang calon Doktor Mahasiswa Indonesia tadi, aku betul-betul berburu tentang beliau. Meskipun sudah hampir satu tahun berlalu, aku belum juga menemukan identitasnya (maklumlah, pergerakan aku terbatas) Hingga pada suatu waktu, tatkala aku bertemu dengan ketua PPIM (Persatuan Pelajar Indonesia di Malaysia) dan aku mengantongi nomor hpnya aku berani menanyakan tentang beliau. Aku kira, dulu yang mengambil tesis tersebut bernama Pak Askar. Rupa-rupanya, lain di kepala, lain pula jawabannya. Pak Askar adalah seorang enginerring S2. Dan yang aku cari ternyata bernama Pak Muhammad Ikbal mahasiswa UKM (Universitas Kebangsaan Malaysia) Fakultas Psikologi. Dari situ, aku mendapatkan nomor hanphonenya dan sejak itu juga, aku mulai menghubunginya. Pada awalnya, aku bingung harus memberikan intro seperti apa. Ternyata, pak Ikbal cukup friendly. Dan, beliau di amanahkan sebagai presiden UNIMIG(Union Migrant) Indonesia. Melalui beliau juga, aku di mintanya membantu menjadi pemantau pemilu sebulan yang lalu (dan aku berfikir, cukup sekali itu aku mengikutinya) :) Kembali kepada tesis, tak di sangka dan tidak di duga saat kemarin aku mengikuti kajian di sebuah Surau Kilang, aku melihat kelebat Pak Ikbal. Tertanya-tanya juga di dalam hati. Hasrat aku untuk mengajukan soalan beberapa hari yang lalu, kembali muncul di kepalaku. Terfikir, ketika aku akan membuat posting ini aku akan bertanya kenapa beliau mengambil tesis tentang PRT. Rupanya, Allah berkata lain saat aku di temukannya ahad kemarin. Meskipun aku tak bertanya apapun kecuali khabar tapi, aku di beri kesempatan untuk mengisi angket kuesioner untuk penelitian beliau. Hmmm... aneh... aneh... Peserta pengajian yang cukup banyak dan angket yang di bawa terbatas hanya 50 keping aku tak berhasrat sedikitpun untuk mengisinya. Toh banyak yang lain ujar hati kecilku dan ini, mungkin khusus untuk pekerja kilang. Tapi nasib berkata lain, setelah selesai shalat dhuhur, aku malah di suruh ngisi tuh angket sama ketua panitia. Padahal, aku sudah menolaknya :(. But, sure not bad mengisi angket tersebut. Lembar-lembar permulaan soalan-soalan tentang kesehatan, lembar berikutnya, kenyamanan pekerjaan, selanjutnya tentang libur dan jam kerja dan lembar berikutnya tentang pengenalan diri. Termasuk introvertkah atau ekstrovet? (bener gak yah nulisnya) dan lembar terakhir, tentang umur, tempat tinggal, majikan dan gaji. Sepertinya, gajiku akan paling kecil tertulis di situ. Untung aja usah nyebut nama :). Fiuh... selelsai juga ngisi tuh angket. Cukup instant dan cepat, soalnya sudah menunggu mendengarkan Bank Muammalat melakukan promosi. Selesai angket itu, terfikir juga pertanyaan kepada pak Ikbal, ada gak angket untuk para pembantu? :)
Informasi terbaru yang memang tidak baru buat yang dah konfrens seminggu yang lalu denganku inilah keputusannnya, bahwa The Girl Of Riyadh menjadi pilihan untuk Klub Buku Online pertama. Sepertinya, info ini menjadi lambat dan Klub Buku ini pun jadi tersendat-sendat. Mohon maaf kepada Jeng Sri, Mbak Quini, mbak Irma dan Coey_Paringin karena begitu lambat ku up-date info ini. yah maklumlah masih baru jadi, AAG (Agak-agak Grogi). Apa sih Klub Buku Online, silakan baca di sini Sebuah ide dari orang norse (noraks sekali), kemudian, aku menyambangi beberapa anggota OSIS (Orang-orang narSIS) yah mereka mereka yang aku tulis namanya di atas. :)
Untuk menghandle segala sesuatunya, mohon maaf jikalau aku bersikap otoriter (paan tuh yah...???) . Untuk memudahkan jalannya Klub Buku Online yang pertama ini aku ambil keputusan untuk bulan pertama bahwa, Penanggung jawabnya adalah aku sendiri (Habis Jeng Sri gak konfirmasi lagi :( Jadi, sistem keanggotaannya adalah seperti ini (Cie... cie...) Penanggung jawab, Anazkia. Anggota, Jeng Sri, Mbak Quini, Mbak Irma, Coey Paringin. Kalau ada teman yang ingin bergabung, silahkan hubungi aku :). Dan untuk konfrensinya, pada tanggal 13 Juni 2009 jam 20:00 WIB (kalau ada yang tidak setuju silakan komplain. Buat temen-temen yang mau bergabung, dengan senang hati aku menyambutnya. Asal memenuhi syarat, harus baca bukunya :). Adapun persyaratan konfrensi, untuk moderatornya ku serahkan kepada Jeng Sri (Aku sudah menghubunginya). Cara-cara konfrensi, yang pastinya harus add dulu ym aku (wekekeke... sok banget ya?) dsan tata cara pelaksanaannya, untuk moderator silakan membuka jalannya acara. Setelah itu, baru ada tanya jawab. Untuk memudahkan tanya jawab, silakan kepada yang mau bertanya untuk memberikan tanda tanya (?), setelah moderator mengizinkan, baru soalan di ajukan. Selanjutnya, untuk jawaban dari para anggota, silakan memberikan tanda seru (!). Juga menunggu izin dari moderator untuk menjawab. Mungkin itu saja dulu infonya. Yang mau bantai atau koment silakan.... :)
Tulisan ini ku buat untuk mengingat dan mempererat silaturahmi dengan teman-teman sesama bloger. Juga terinspirasi atas award yang di berikan oleh Sendal Jepit Santri juga oleh mbak Irma. Tulisan imaginasi yang sedikit membuat aku geli. Geli sendiri, kenapa aku tiba-tiba berfikiran kalau aku menjadi pembantunya para bloger, agaknya, apa yang akan terjadi...???
Kalau aku jadi pembantunya Mbak Rie Rie, hmmm... sepertinya, akau akan sering kena marah. Gimana enggak, mbak Rie Rie khan perfect sebagai seorang pembantu. Kalau aku jadi pembantunya, yo keok kena marah atas kemalasanku. :) Kalau aku jadi pembantunya sendal Jepit Santri, mungkinkah aku akan teraniaya...??? Sepertinya, jawabannya adalah "ya". Lho, ko bisa...??? yah bisa aja, coba lihat dialog ini.. Sendal Jepit: "Ana, kamu sudah semir sendal aku...???" Aku : "Sudah tuan..." Sendal Jepit: "Bawa ke sini cepat!, aku sudah terlambat mau pergi kerja." Aku : "Baik Tuan." Tak berlengah, aku buru-buru mengambil sandal yang baru di semir Sendal Jepit: "Sandal Jepitku, kamu apakan ha?!." Tiba-tiba denga suara meninggi dan intonasi tak berarti Sendal Jepit mengamuk berkacak pinggang. Aku : "Aku hanya menyemirnya tuan, seperti yang tuan suruh." Sendal Jepit: "Semir apa yang kamu pakai...???." tanyanya lagi berapi-api. Aku : "Ini tuan..." Aku menunjukan bulatan kaleng kecil semir berwarna hitam, tak ayal semakin naik darah sendal jepit di buatnya. Kalau aku jadi pembantunya Jeng Sri, kayak gimana yah rasanya jadi pembantu seorang Psikolog...??? Bakalan seru nih... Bisa curhat banyak, cerita banyak dan bisa minta berlian Dublin yang banyak. Yang serunya, bisa share juga tentang pernikahan dan seribu satu masalah tentang UNICEF dan lain-lain. Hasilnya, karena keseringan ku bercerita, akhirnya Jeng Sri jenuh dengan perilakuku. Dan nasibku, di pecat! tanpa pesangon. :D Kalau aku jadi pembantunya Mbak Quini, bagaimanakah agaknya nasibku. Lihatlah sedikit cuplikan dialog ini... Mbak Quini: "Ana...!!!" Aku : "Yah nyonya." aku tergopoh-gopoh ke ruang makan. Mbak Quini: "Kamu lihat gak Katak yang ada dalam toples?." Aku : "Katak, katak apa nyonya." Tanyaku o'on.. Mbak Quini: "Itu lho, yang aku letak di atas meja makan." Aku : Berfikir keras, meningat kemana nasib katak yang di cari majikan Aku :"Owh... yang dalam toples tutup merah tuh ya nyonya?." Mbak Quini: "Iya... iya... dimana kamu letak?." Aku : "Yah nyonya aku dah siap mask tadi pagi." Mbak Quini: "masak?! maksudnya...???!!!" Aku :"Iya, aku masak tadi, buat sarapan nyonya barusan..." Nyengir kuda... Mbak Quini: Berubah mukanya, berubah warnanya, merah kuning hijau di langit yang biru... Kalau aku jadi pembantunya Trimatra, sepertinya aku akan bekerja pada orang yang over protectif pada kebersihan. Karena dia adalah sang pecinta lingkungan alam sekitar. Yang sama sekali tidak suka melihat orang membuang sampah sembarangan. Tak heran, kalau dia harus menyiapkan tiga bakul sampah di pojok dapurnya. Lho, ko bisa...??? yah bisa aja, dia selalu memilah dan memilih sampah organik, non organik dan mana sampah yang boleh untuk di recycled. Karena aku seorang yang kemproh, hanya baris-baris kata inilah yang di ucapkannya, "pintu ini, terbuka luas untuk kamu keluar dan tertutup rapat untuk kamu kembali." Tanpa gaji, tanpa pesangon, aku berlalu pergi... Kalau aku jadi pembantunya Pak Ari, mungkinkah saya akan menjadi orang yang mampu menanggung amanahnya...??? Pak Ari: "Ana, kamu sudah siapkan bahan-bahan untuk soto esok?." Aku : "Belum Pak... sebentar lagi." Ujarku, tanpa berganjak dari meja memandangi baris demi baris kalimat yang tertera di hp. Pak Ari: "Nak, bukankah hari sudah malam. Kenapa tak siapkan saja dulu." Aku : "Iya Pak... saya faham..." Tak berkedip dari kalimat-kalimat yang di bacanya. Pak Ari: "Nak, kefahaman itu di lakukan sekaligus, bukan hanya ucapan." Aku :"Baiklah." Aku bangkit dari tempat duduk dengan muka di tekuk seribu pulau. Pak Ari: "nak, bekerjalah dengan ikhlas. Maka penat lelahmu akan terbayar bukan hanya dengan nilai uang tapi juga kemurahan Tuhan. Aku : Terdiam, tanpa berkata. Mencoba mencerna kata demi kata. Kalau aku jadi pembantunya Mbak Reni, tentunya, aku akan bertemu dengan seorang ibu rumah tangga yang peduli akan kemiskinan. Jadi, tak heran kalau di sini, aku akan di manjakan dengan berbagai nasihatnya juga kata-kata bijaknya. Kalau akau jadi pembantunya anak nelayan bikin badanku kering kerontang kepanasan. Soalnya, suruh jemur ikan hari-hari... :). Nah kalau Hoiron (webnya gak bisa di buka) lain lagi, malah di suruh bikin kopi terus :D. Nah, yang lebih seru kalau aku jadi pembantunya Moris Maulana, sering berantem soal EYD (Ejaan Yang Diada-adakan) kata temen bloger mah :). Kalau jadi pembantunya Pak Setiawan... Ini seru nih, di sana, aku akan di sekolahkan. Karena beliau adalah sosok yang peduli akan pendidikan (betul pak...???). Nah, kalau jadi pembantunya Manusia Hero, yakin deh... sering di suruh nyuci baju dekilnya yang dari Gunung antah berantah :D :P. Lain lagi dengan mbak Irma, sosok yang lemah lembut ini, akan mengajariku berbagai perkara tak segan pula, aku akan memintanya mengajariku membuat puisi. Berbeda lagi dengan mbak Elly Suryani, seorang pecinta tanaman. Kalau aku kerja di sini, yakin deh bakal sering di komplain karena lambat siram bunga :). Gimana nasibnya kalau dengan Bunda Lina, di ajarinya aku alif bata, juga tulis kata yang sesungguhnya. Kalau black_id gimana...??? wekekeke... bakalan suruh masak terus, soalnya, tuh orang kagak bisa masak. Pak Attaya, gimana...??? seorang yang peduli lingkungan hidup. Sepertinya, akan peduli juga dengan pembantunya. Kalau aku kerja di situ, dateng-dateng, paling suruh nanem pohon :). Kalau mantan Copet, gimana...??? Aku akan banyak mendengar cerita, cerita tentang wajah-wajah Indonesia yang sesungguhnya. Nah, kalau aku jadi pembantunya Alang, nih kayaknya, care ama pembantu nih... saranmu bagus, makasih yah... kalau dengan mbak Ajeng... fiuh... pedulisentris, caringitis (care) dan banyak lagi.. azas manfaatnya bener2 simbiosis mutualisme saling menguntungkan. :) satu lagi adalah Inul, kalau aku bekerja dengannya, akan banyak tukar cerita dan khabar berita. Bahwa pengalaman, adalah berlainan, bahwa cerita kadang menimbulkan semangat yang luar biasa. Dan, Kalau aku jadi pembantu untuk majikanku. Aku akan mengenali mereka-mereka semua sebagai teman juga sahabatku. Yang ku kenali melalui dunia maya juga dunia kata. Tulisan ngaco...
Ku tulis ini, atas postingan Jeng Sri tentang TKW. Semoga sedikit goresan ini bermanfaat. Insya Allah...

Pembantu terbelakang, itulah pandangan pada kasat mata umumnya. Di lihat dari sebab-sebab apa dan kenapa pembantu rumah tangga seolah-olah terbelakang adalah bagaimana penempatan pembantu itu bermula ketika ia di rumah majikannya. Mengingat lagi kebelakang, sewaktu awal-awal aku jadi pembantu. Sepertinya, setiap pembantu, kamarnya di belakang. Berdekatan dengan dapur dan sumur. Dan, hampir semua seperti itu. Kalau penempatan saja sudah di belakang, apa pemikiran pun harus terbelakang juga?

Pertama kali aku bekerja sebagai pembantu di Tangerang, di sebuah Perumahan. Kamar aku di tengah-tengan antara dapur dan kamar mandi. Kemudian, ketika Aku bekerja di pamulang kamarnya di atas sendirian, ini bermakna, di bawah sudah tidak ada tempat lagi jadi, di buatlah kamar di atas untuk pembantu. Itu bukan hanya aku temen-temen yang lain juga githu. Nah, kalau di perumahan KS (Krakatau Steel) lebih keren lagi, mereka di buatkan kamar di tepi rumah (deket dengan Garasi). Bukan jauh2 masih satu tembok tapi, ketika masuk ke kamar, mereka harus keluar dulu dari rumah majikannya. Dari sini, apa aku masih mikir kalau pembantu itu harus terbelakang? Hmmm… Rasanya tidak! 

Ada sebuah pengalaman yang membuat aku berubah fikiran bahwa tempat pembantu yang di belakang tidak mewajibkan pembantu untuk bersifat terbelakang. Misalnya…??? Bermula mula saat aku membaca sebuah Majalah Remaja Islami di situ biasanya ada rubrik remaja berprestasi. Suatu ketika Majalah Annida mengangkat topik profile seorang pembantu rumah tangga yang berasal dari Hongkong. Subhanalloh, sungguh luar biasa ketika aku membaca baris demi baris kalimat itu, aku tidak percaya tapi, ia benar-benar nyata ada di Hongkong sana. 

Tapi, yang aku lebih salut majikan pembantu ini subhanalloh, luar biasa baiknya. Kalo tidak salah, namanya Mbak Susan(ketua FLP Hongkong pertama tahun 2004) Mbak Susan, boleh menggunakan fasilitas apapun yang ada di rumah majiakannya dari telefon sampai internet. Setiap minggu, majikannya memberikan dia cuti. Dan yang aku masih ingat, kata-kata Mbak Susan adalah, ketika kita bekerja sebagai pembantu dengan majikan jangan asal yes boss aja. Nah, kalau di Hongkong khan tantangannya banyak banget tuh… Dari majikan yang melarang shalat, menyuruh memasak babi, melarang pakai jilbab pokoknya, 1001 masalah lainnya. Tapi, aku rasa Mbak Susan Nih orang yang bener-bener beruntung. Waktu itu, aku mimpiin banget punya majikan kayak gitu. 

Dan, setelah aku selidiki Dari berbagai majalah, ternyata kebanyakan pembantu di Hongkong memang lebih educated. Mereka pembantu tapi, bisa internet. Mereka pembantu tapi, bisa menulis dan menjadi seorang penulis. Mereka pembantu tapi, masih bisa berorganisasi. Mereka pembantu tapi, di sela-sela kesibukanya dalam mengurus rumah mereka masih bisa menuntut ilmu. Dan yang pastinya, mereka tidak terbelakang seperti yang aku fikirkan. Ini menjadi motivator buatku, untuk merubah dan berubah supaya aku tidak merasa terbelakang. 

Terlepas dari pemahaman keterbelakangan ku, bahwa semua pembantu itu terbelakang aku juga membandingkan gimana sich orang Malaysia nempatin pembantunya ketika di rumah?. Setelah aku teliti dan lihat, model-model rumah di Malaysia mereka kebanyakan rumahnya tingkat (orang Malaysia menyebutnya rumah teres) di mana mereka mengkhususkan tingkat atas hanya untuk kamar dan ruang istirahat. Dan di bawahnya, khusus untuk ruang tamu, ruang makan, dapur sebelum dapur ada kamar mandi dan kamar yang bentuknya lebih kecil. Aku ambil kesimpulan, “Sama aja di belakang dekat dengan dapur.” Bukankah kerja seorang pembantu itu di dapur?

Terlepas dari pandangan itu semua, aku ingin merubah imej keterbelakangan pembantu itu sendiri. Tak kira di mana kamar pembantu ia di tempatkan, sama ada di belakang, di depan atau di tengah yang penting, daya fikir dan cara fikir kita tidak terbelakang. Ibarat kata seorang pelajar di sebuah majalah remaja, “Berfikir seperti raja, bekerja seperti hamba” Mengikuti jejak-jejak para pembantu di Hongkong… Nyatanya, tidak semudah itu…??? 

Sepertinya sulit. Coba, sekarang aku melihat kondisi para pembantu yang ada di Malaysia. Di lihat dari latar belakang para pembantu sendiri kita datang dari bermacam-macam latar pendidikan. Terutama pendidikan formal. Tak jarang dari para pembantu sendiri yang tidak mengenal baca tulis. Terbukti ketika Aku tiba di Bandara kedatangan LCCT Sepang, ada beberapa ibu-ibu yang tidak bisa mengisi formulir kedatangan. Nah, ini satu punca “label keterbelakangan pembantu.” Selain dari latar belakang yang berbeda, para pembantu (khususnya TKW di Malaysia) kebanyakan setelah datang dan bekerja dengan majikan di Malaysia mereka tidak mengetahui apa yang telah menjadi hak-haknya. Kita lebih banyak mengetahui kewajibannya saja yaitu, bekerja dan bekerja. Satu hak yang kita tahu adalah mendapat gaji, hanya itu. 

Nah, ini yang kebanyakan kita alami. Tanpa mengetahui hak-hak yang telah ada, kita seolah-olah biasa saja ketika hak-hak itu tidak di berikan padahal, hak-hak majikan sudah kita tunaikan. Aku baru mengetahui tentang hak pembantu, setelah hampr tiga tahun kerja di Malaysia. Itupun, ketika Aku buka website imigressen Malaysia. Baru aku tahu, ternyata seorang pembantu tidak di perbolehkan mencuci mobil, bekerja lebih dari satu majikan, mendapatkan istirahat yang cukup, memberikan kebebasan beribadah kepada yang muslim (untuk yang majikannya China), tidak memasak babi (ini pun untuk orang China) 

Nah, nyata banget dari semua yang ada di atas, kebanyakan para majikan menyepelekan. Dan pembantupun tidak ambil tahu. Akhirnya, terjadi ketimpangan di mana majikan dengan sewenang-wenang ini itu tanpa melihat kerja pembantu atau bukan. Selain dari beberapa perkara di atas, banyak hal yang membuat para pembantu di lihat terbelakang (khususnya pembantu di Malaysia). Misalnya, masalah bahasa. Tidak semua yang datang ke Malaysia faham dan mengerti bahasa Indonesia. Nah, bahasa Indonesiapun tidak tahu, ini apatah lagi bahasa Melayu. 

Juga kedatangan para pembantu sendiri yang terkadang dari desa terpencil, tiba-tiba datang ke sebuah Bandar kita merasa terkejut dengan segala seuatu yang baru di temuinya. Kita bukan bekerja, malah banyak nontonnya, kita jadi exited dengan hal-hal yang baru kita temui (kalau kata bahasa sosiologi mah kayanya Culture Shock) atau ketika di suruh menggunakan alat-alat dapur yang semuanya menggunakan elektrik kita tidak bisa. (aku banget waktu pertamakali jadi prt) ngaku.info Ini yang banyak mengakibatkan penganaiayaan majikan terhadap pembantu. Majikan merasa kesal karena, mereka sudah membayar mahal untuk mengambil pembantu tapi pembantu sendiri, malah tidak bisa bekerja. 

Seperti kasus Nirmala Bonat (alhamdulilah, sekarang majikannya sudah di penjara 18 tahun, semoga setelah ini tiada lagi kasus penganiayaan TKW) Yin Pek Ha bilang (majikannya Nirmala) kalau Nirmala Bonat itu menganiaya diri sendiri dan dia “bodoh” dalam membuat kerja rumah. Nirmala Bonat menganiaya diri sendiri…??? Aku tidak percaya suer! Tapi, kalau dia “bodoh” dalam membuat kerja rumah aku sih percaya aja. Jangan ngibul deh Yin Pek Ha… please dech ah… 

Dan, tidak semua majikan bisa menerima cara kerja pembantunya. Ada jenis majikan yang perfect semuanya mau sempurna atau malah kadang ada yang over protective dengan kebersihan. Nah, kalau kita-kita yang dari kampung yang kadang bersifat sebodo teuing dengan kebersihan apa itu gak jadi bomerang dengan majikan? Itu masalah majikan. Nah, kalau untuk pembantu sendiri, aku rasa karena banyak mendapat tekanan di luar kemampuannya para pembantupun jadi tertekan. Ini yang menyebabkan banyaknya kasus pembantu yang lari dari majikan. Mereka tidak peduli dengan resiko yang di tanggung, sama ada selamat atau di tangkap ama Polisi. Bahkan, tak sedikit pembantu yang dendam dengan majikannya sehingga tega berbuat jahat, sama ada mencuri, menculik anaknya atau bahkan membunuhnya. Naudzubilah…, wallahu’alam.
Masih inget gak dengan syair lagu ini...??? Kita jadi pintar, membaca dan menulis, dari siapa Kita jadi tahu, beraneka bidang Ilmu dari siapa Kita jadi pintar, di didik pak guru Kita jadi pandai di bimbing bu guru Guru bak pelita, penerang dalam gulita Jasa mu tiada tara...
Menjejaki yang berarti di bulan Mei. Hari buruh tak begitu penting buatku dan tidak juga bermakna bagiku. Tiada sambutan (tetep di dapur) almaklumlah, buruh dapur. Ultah temen dan sahabat juga Abi trus ada juga hari Ibu, hari telekomunikasi apa iya yah harus di peringati...??? Mengingati itu perlu tapi, memahami adakalanya lebih utama. Sekedar berbagi, aku lebih fokus untuk membahas dan mengucapkan hari guru. Meskipun tak lupa aku ucapkan selamat hari lahir kepada sahabat-sahabatku juga Abiku. Selamat hari ibu kepada semua para ibu (kalau bisa mah posting dalam judul lain :) Istimewa di hari Guru, teringat dengan sebuah huruf yang pertama kali ku temu dalam ilmu. N, itulah huruf pertama yang aku jumpai dalam dunia ranah tulisan dan kata. hari Jum'at aku mengetahuinya dan yang mengenalkannya sosok seorang guru berwajah lembut yang memang kebetulan sekali bernama Bu Guru Ning (tepatnya, aku tidak tahu dan lupa). Agak lucu ketika aku tidak sama dengan murid-murid lainnya saat mendaftar sekolah. Tatkala yang lainnya bermula sejak hari senin aku malah hari jum'at. Tidak heran ketika aku telat mengetahui huruf A dan abjad-abjad sulung lainnya. Tak terucap syukurku kini saat aku mulai bisa dan boleh mengeja kalimat demi kalimat juga makna pada beberapa kata. Setahun yang lalu, aku pernah juga menuliskan ucapan selamat hari guru dengan mengutip syair lagu ini di blog kini, aku kembali mengutipnya. Semoga Allah selalu menghadiahkan dan mencurahkan Rahmat-Nya yang tak ternilai untuk semua para guruku. Kepada yang telah mengajariku alpabet, kepada yang telah mengajariku baris-baris alif bata, kepada yang telah mengajariku syair dan doa, kepada yang telah mengajariku dunia kata, kepada yang telah mengajariku rumah dunia. Ku lafazkan ini sebuah kalimat, semoga ilmu yang beliau-beliau ajarkan kepadaku menjadi amal jariyah di kemudian hari. Juga menjadi keberkahanku di akhirat nanti. Munajatku, sujudku, tengadahku, duhai para guru berkahilah ilmu yang kau berikan, jadikan ia bermanfaat bagiku. Selamat hari guru, 16 Mei.
hantaran, oh hantaran...
Sedikit mengecoh pembaca, ku buat judul yang AGG (Agak Gimana... Githu...???) ngaco.com. Kalau nak ikutkan, sepertinya, aku bakalan kena saman nih sama Hanani dan Putrimona buat posting nie. But, whatever lah aku nak tulis jugak. Sesiapa pun nak koment, aku terima dengan ikhlas. Buk Mona bilang, "Jangan ikutkan hati, nanti bisa mati." baiklah buk Mona. Aku na tambahkan sikit, "Berhati-hatilah tapi, jangan ikutkan kata hati." betul tak ye...??? (Jiah, cakap Melayu pulak)
Sekedar mengimbas peristiwa kemarin. Abah (my employer) mengadakan tunang anak perempuannya yang nomor 5. Ina namanya, comel mukanya meskipun tembab pipinya tapi, ia masih cantik seperti anak patung rupanya. (walah, bakalan di manyunin nih ama Ina). tak banyak berkata, hanya mau berbagi cerita melalui ra.kaman warna
Dua buah keluarga
Ina ciut miut tapi, ndak kayak semut khan...??? :)
Tumpang gembire...
Penat nak upload, lambat sangat dah dulu ar.. nak keje balik :)
Sedikit perenungan, Setitik penemuan, sebaris pengalaman, beberapa dukungan, tak terkira kawan-kawan yang masih mau mendengar keluhku, kesahku, sedihku, lukaku, ceritaku juga segala macam kerenahku. Insya Allah, akan dan selalu blog ini terbuka untuk siapa saja. Mohon maaf dalam beberapa hari ini tertutup pintunya. Bukan berarti, menutup semua matahati dan telinga ku untuk tidak mengingati teman-teman semua. Terimakasih kepada yang komplain, ngasih saran, ngasih dukungan juga yang sudah memberikan sebiji sawi berlian Dublin. Juga Ratu Blog yang sudah memberikan vote untuk tetap semangat dan belajar.
Kini, tangan2 itu mulai menulis, menulis dan menulis. Menulis tentang jalan, juga tujuan. Jalan hidup, juga tujan hidup. Indahnya kebersamaan, indahnya ketika duka di bagi bersama, sama rasa juga sama rata (yang gak kebagian, jangan minta :) ) yang di minta, jangan merasa di aniaya (ngaco.com). Dikit dulu ah postingnya... Namanya juga permulaan setelah peristirahatan :)
Ku rangkai, cawan demi cawan kata Ku tuang, dalam cupak-cupak makna Ku cari, berbagai-bagai inspirasi Ku curi, bait-bait motivasi Kata-kata ini untukmu Kalimat-kalimat ini buatmu Tulisan ini dariku Untukmu...
"Katakanlah, "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS, Az-Zumar:9) "barang siapa yang menyusur jalan, untuk menuntut ilmu, Allah akan mempermudahkan perjalannannya ke Syurga. Tidaklah berkumpul satu kaum itu di rumah Allah (Masjid) menuntut serta mempelajari ilmu sesama mereka, melainkan mereka di kelilingi para malaikat. Dan di turunkan ketenangan ke atas mereka serta di limpahi Rahmat." Sepenggal hadis. (HR. Muslim. Abu Daud, Turmudzi, An-Nasaie, Ibn Majah, Ibn Hibban dalam sahihnya, al-hakim dan di katakan sahih). "Bertambah luas akal, bertambah luaslah hidup, bertambah datanglah bahagia. Bertambah sempit akal, bertambah sempit pula hidup, bertambah datanglah celaka. (HM. Tuah) "Melihatlah dengan mata Burung, jangan melihat dengan mata tempurung." (HM. Tuah) "Mengusahakan sesuatu adalah jauh lebih baik dari pada tidak melakukan apa-apa walaupun adakalanya yang di usahakan itu gagal." (HM.Tuah) "Senantiasa beringat bahwa azam anda untuk sukses adalah penting dari pada apapun perkara lain." (Abraham Lincoln) "Jauh berjalan luas pandangan. Usah terlalu jauh berjalan, nanti tak jumpa jalan pulang." (HM.Tuah)
Sebelumnya, aku ucapkan terimakasih banyak untuk teman-teman semua yang sudah koment di posting Klub Buku Online, Mungkinkah...??? Tidak menyangka kalau akan banyak juga yang tertarik dengan ide ini. Harap maklum, kalau aku sedikit grogi juga :). Ini sebuah permulaan buatku dan aku harap, teman-teman semua mau membantu bekerja sama. Kalau ada yang bertanya, "mba boleh tau g sih? kenapa mba ngajakin aku salah satu untuk ikutan buku online,sedangkan yang aku liat temen2 bloger yg lainnya itu bener2 bloger2 yang sudh jago banget. Jago nulis, jago juga aplikasi blognya....hehe, jd minder akyu.... bisa gak ya...aku bener2 masih belajar banget loh mba. Tapi...thanks banget ya mba...."
Siapakah yang bertanya soalan itu...??? Silahkan angkat tangan (gak ada yang tahu ko :D) Aku jadi mikir, emangnya, aku siapa...??? Aku juga bukan siapa-siapa yang layak mengajak sesiapa. Aku berharap, kegiatan ini akan memberikan manfaat untuk yang berminat. Melihat beberapa teman bloger yang lain, khususnya temen-teman wanita yang aku undang memang, mereka hebat-hebat. Apa salahnya, aku yang bukan siapa-siapa ini bisa belajar dari mereka. Terimakasih untuk jeng Sri, Mba Quinie, Irma juga Mbak Fanny. Bukannya genderitas tatkala aku tak mengundang pun seorang sahabat bloger lelaki. Tapi, aku sudah mengirimkan tiga imel undangan untuk mengikuti klub ini. Kepada sahabat lelaki yang berminat, silakan... Kami tunggu partisipasinya. Buat Pandu, Ferdi... silakan... Untuk permulaan, sebetulnya, aku sudah meminta Syafwan atau jeng Sri sebagai Penanggung Jawab. Tapi, sepertinya Syafwan keberatan (menolak bahkan :(. jeng Sri...??? ngambang... Jadi, menurut temen-temen, siapa nih yang akan jadi penanggung jawab untuk bulan pertama...?? Bulan Juni. Sedikit saran dan usul, aku ada beberapa buku rujukan, yang lumayan bagus. Setuju atau tidaknya, terserah teman-teman semuanya. Ini hanya usulan, atau bahkan, teman-teman malah sudah memebacanya.
Sekedar pilihan, mau syukur, gak mau juga syukur :). Ada yang aku suka dari buku di atas, sebuah kalimat yang mengajarkan aku tentang arti mimpi, "Jangan biarkan orang lain mencuri mimpimu"
"Ummi, Dellisa mencintai Ummi karena Allah", demi sebatang coklat Dellisa mengungkapkan kata-kata itu. Mampukan kita mengungkapkan kepada ibu kita...??? Belajar dari anak kecil... Kalau buku ini, no coment deh. Tapi yang pastinya bikin penasaran abiz! :)
Yang ini, apalagi...??? Ayo atuh... buruan, buku mana yang akan di bahas dan baca? atau temen-temen semua dah ada rujukan lain. Kita harus kompak yah nantinya. Tapi, kalau salah satu bukunya gak ada di Malayisa gimana yah...???
Yang kurik itu kundi Yang merah itu saga yang cantik itu budi Yang indah itu bahasa (peribahasa)
Klub buku online, mungkinkah...??? Tiba-tiba, ide itu muncul bukan tentang klub bukunya tapi, klub buku online. Setelah sering merayau ke sana kemari di dunia maya, banyak juga aku menemukan teman-teman yang satu kepala (ada gak sih orang satu kepala...???) Berlebihan kalau di bilang seperti itu. Tepatnya, menemukan orang-orang yang mempunyai hobi sama. Dan ide itu muncul, setelah aku bertemu dengan blognya Mbak Quinie Mbak Quinie, mereview sebuah buku yang sepertinya cukup menarik. Seandainya aku baca buku itu, khan lebih seru kayaknya :). Terus, mulai deh aku mencari para korban, yang mau di ajakin bikin Klub Buku Online, aku mengunjungi beberapa rakan bloger yang sepertinya tertarik kalau di ajakin. Mbak Irma, yang sudah merespon balik rupanya dia berminat. Jeng Sri pun setuju. Sedangkan mbak Quinie sendiri masih bertanya apa itu klub buku. Dua orang lagi yang aku sambangi belum ada tindak balas lagi. Mbak Fanny dan Mbak Tisti Rabani Awal aku tahu klub buku, dari milisnya Mbak Asma Nadia. Dan Mbak Asma sendiri dengan teman-temannya sudah mendirikan klub buku Asma Nadia di Jakarta, tidak melalui online tentunya. Mau juga sih bikin yang gak online tapi, yah itu, keterbatasan waktu yang aku miliki untuk keluar sangat terbatas. Akhirnya, munculah ide Klub Buku Online. Buat temen-temen yang minat dan mau berbagi cerita tentang buku hayo atuh, rame2 kita bikin Klub Buku Online.
Sumber foto, http://www.google.com.my/search?hl=en&q=foto+buku+&btnG=Search&meta=
Klub buku itu apa dan bagaimana sih...??? Alhamdulilah, beberapa waktu lalu, setelah berhenti dengan rongrongannya Mbak Sita (Penanggung Jawab Klub Buku Asma Nadia Jakarta), menjelaskan panjang lebar tentang klub buku. Menurutnya, di negara-negara maju seperti Jepang dan Amerika, klub buku bukanlah sesuati yang unik dan orosinil. Pengikatnya cuma satu, kegemaran membaca buku. Jadi, tiada kepengurusan yang rumit. Hanya saja, di butuhkan penanggung jawab untuk menentukan buku apa yang hendak di baca dan kapan penentuan jadwal pertemuannya. Nah kalau online gimana...??? yah kalau online gampang aja, kita buat pertemuannya secara online. Misalkan, kita sudah menetukan buku apa yang akan di baca, sebulan berikutnya kita kumpul bareng. Di mana kumpulnya...?? Yah dunia maya lagi, bisa lewat Yahoo Messenger, Skype atau google talk. Kita buat konfrensi bareng-bareng. Untuk kali ini, kita membutuhkan moderator supaya konfrensi berjalan dengan baik. Pas Konfrensi, ngapain aja...??? Kita mbahas buku yang sudah di baca. Contoh, kita baca buku Laskar Pelanginya Andrea Hirata. Masing-masing dari kita yah bikin pertanyaan yang menjawab teman-teman lainnya. Sebagai contoh, apa sih yang menarik dari Laskar Pelangi...??? apa dari segi karakter tokoh, sudut pandang atau malah gaya penulisan...??? bisa macem-macem deh pertanyaannya. Mungkin, ini dulu kali yah... Mbak Irma, Jeng Sri, Mbak Quinie, Mbak Tisti dan Mbak Fanny, aku tunggu khabar selanjutnya...
Aku menulis, dengan tanganku AKu menulis, dengan kakiku Aku menulis, dengan mataku Aku menulis, dengan telingaku Aku menulis, dengan mulutku Aku menulis, dengan hatiku Aku menulis, dengan jiwaku
Hari ini, aku menulis dengan kedua tanganku. tangan-tangan kecil yang terus menari di atas tuts-tuts kompi menceritakan segala yang di lihat dengan mata, yang di dengar oleh telinga juga yang di tarik oleh ayunan langkah kakiku. yang tak jemu menapaki bumi menari dan mencari arti sebuah pekerti juga terkadang budi. Hari ini, tanganku menulis tentang pandangan mataku, bahwa aku menyaksikan seorang lelaki tua menegadahkan tangannya cacat. di sebuah stasiun kereta api. "Hatiku berbisik, tangan di atas lebih baik." tangan menuliskan, "Aku beruntung ketika tak harus menegadahkan tangan kepada sesamanya. Karena aku berharap, Dialah yang selalu ku tengadah sepuluh jari. Hari ini, kakiku mengayunkan langkah. Menyusuri lorong demi lorong sebagaian kota metropolitan Kuala Lumpur. Sepanjang Chow kit, aku berjalan melilau dan mencari tempat yang aku tuju, Alhamdulilah ku temu. Berlalu dari yang ku temu, kakiku kembali melangkah, mengejar laju bis, berselisih dengan orang, juga laju kendaraan yang lalu lalang. Aku duduk bersebelahan dengan seorang gadis berjilbab. Manis, batinku. Kerudung, selalu memberi nuansa lain buatku. Dalam diam, kusaksikan kesesakan lalu lintas, tiba-tiba aku melihat orang berjalan tertatih-tatih dengan dua tongkat di kanan dan kirinya. Hatiku terusik, "Ya Allah, Aku masih memiliki dua kaki tanpa harus bergantung pada dua tongkat." Hari ini, aku melihat. Sepanjang jalan yang ku temu, sejauh tempat yang ku tuju. Di dalam gerbong sebuah kereta api, yang tak begitu ramai penumpangnya, aku melihat sepasang suami isteri yang berkata lewat bahasa di luar kebiasaannya. Menggerakan kedua tangganya, mengaggukan kepala, melihat dengan penuh seksama. Hatiku tergugu pilu, mereka bisu ya Allah... mereka tak mampu berkata-kata seperti aku. Hari ini, aku menulis dengan kata-kataku, aku menulis dengan panca inderaku yang Allah anugerahkan kepadaku yang kelak, akan di mintai pertanggungjawabannya. Wallahu'alam
Aku menangis di tengah-tengah orang tertawa 
Aku bersedih diantara orang yg sedang bahagia
Hatiku terasa hampa dengan apa yang didunia 
Teringat sahabat lama 
Di mana saat kita bersama 
Kebahagiaan kita bagi 
Kesedihan kita angkat bersama 
Tak terasa air mata menetes dari lubuk mata 
Air mata kerinduan yg mendalam 
Kerinduan yg terpisakan oleh raga, jarak dan negara
Aku tak yakin tahun ini kita bisa bersama 
Namun aku yakinTuhan Maha Kuasa 
Dan aku selalu mengharap kemurahanNya

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Teman-teman

Sering Dibaca

  • Minyak Gamat Bukan Hanya untuk Obat Luka
  • Kemerdekaan Bagi OYPMK Bagaimana?
  • Bagaimana Cara Membuat KTKLN?
  • Resep Sambal Terong Dicabein
  • Bunga Tahi Ayam Untuk Arr Rian

Harta Karun

  • ►  2022 (8)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2021 (8)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (4)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2019 (41)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2017 (21)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2016 (63)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Februari (23)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2015 (137)
    • ►  Desember (25)
    • ►  November (20)
    • ►  Oktober (34)
    • ►  September (19)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (9)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (52)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (6)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2013 (40)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (12)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2012 (74)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Februari (13)
    • ►  Januari (14)
  • ►  2011 (87)
    • ►  Desember (10)
    • ►  November (8)
    • ►  Oktober (18)
    • ►  September (13)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (8)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2010 (141)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (12)
    • ►  Juni (12)
    • ►  Mei (17)
    • ►  April (20)
    • ►  Maret (17)
    • ►  Februari (18)
    • ►  Januari (23)
  • ▼  2009 (124)
    • ►  Desember (11)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (17)
    • ►  Juni (14)
    • ▼  Mei (16)
      • Writing Camp yuks...???
      • Sok Sibuk, Dapet Apa Sich...???
      • Ku Temukan Dunia Lain
      • Kebetulan Yang Tidak Betul, Betulkah...???
      • Berburu Tesis Pembantu
      • The Girl Of Riyadh, KBO Pertama
      • Kalau Aku Jadi...???
      • Pembantu Terbelakang, pembantu di Belakang
      • Yang Berarti Di Bulan Mei
      • Datuk Nakahie "Bertunang"
      • Aktif Lagi
      • Bingkisan Motivasi
      • Lagi, Tentang Klub Buku Online
      • Klub Buku Online, Mungkinkah...???
      • Hari Ini, Aku Menulis
      • Arti Sahabat
    • ►  April (20)
    • ►  Maret (12)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2008 (105)
    • ►  Desember (7)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (10)
    • ►  Juni (16)
    • ►  Mei (19)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (22)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2007 (30)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (12)
    • ►  Agustus (2)

Kategori

Ads Blogger Hibah Buku Celoteh Cerpen Featured GayaTravel KBO komunitas Murai Perjalanan Piknik Buku Pojok Anaz Reportase resep reveiw Semestarian Serial Sosok Teman TKW TripGratisan Volunteer

Catatan Anazkia By OddThemes | Turatea.com