Catatan Anazkia

Karena hanya tulisan yang bisa saya tinggalkan

  • beranda
  • Kisah
    • Serial
    • Cerpen
    • Celoteh
    • Reportase
    • Perjalanan
      • Gaya Travel
      • Trip Gratisan
      • Piknik Buku
  • Pojok Anaz
  • Murai
  • Sosok
  • komunitas
    • Volunteer
    • KBO
    • Semestarian
    • Blogger Hibah Buku
Sudah hampir pukul sepuluh malam. Aku merebahkan kepala di kursi mobil, setelah sebelumnya memasang sabuk pengaman. Nani membiarkan kaca jendela terbuka, membawa mobil dengan kecepatan yang sederhana. Mbak Samini di kursi belakang sibuk dengan handphonenya. Radio Hot FM menjadi teman tambahan kami di perjalanan. Aku lelah. Ingin segera rebah setelah seharian menggosok puluhan kemeja, baju kurung juga celana panjang.

"Hai...."

Sebuah suara mengejutkanku. Aku menengok sekilas. Ah, dia lagi. Dia yang selalu datang dengan wajah ceria secara tiba-tiba.

"Hai, kamu blogger, ya?" Dan selalu soalan itu yang ditanya awal-awal sebelum merembet ke persoalan lain.

"Ah, cape aku menjawab soalanmu. Nanti paling kamu akan jawab, karena kamu telah menggogling hatiku."

"Wahahahaha...." Dia tertawa terbahak. Musik dari radio mengalun, terdengar suara Anuar Zain mendendangkan lagunya.

Ajari aku tuk bisa
Menjadi yang engkau cinta
Agar ku bisa memiliki
Rasa yang luar biasa
Untukku dan untukmu

"Kamu suka lagu ini, ya?" Tanyanya. Dan aku hanya mengangguk saja. Mata ini semakin lelah dan sepertinya aku ingin cepat-cepat terlelap.

"Eh, blogger inspiratf itu yang kayak gimana, sih?" aku meliriknya sekilas. Dan ingin kembali memejam mata.

"Hei, jawab dulu soalanku." ia mengguncang-guncang bahuku.

"Apa, sih?" aku enggan menjawab soalannya.

"Itu tadi, blogger inspiratif."

"Hmmm, yah blogger yang bisa memberikan manfaat untuk pembacanya, meski tulisannya curhat sekalipun." 

"Kamu tahu KEB?" tanyanya lagi. Dan pertanyaannya membuat mataku terbuka selebar-lebarnya.

"KEB? Dari mana kamu tahu?" kantukku hilang tiba-tiba.

"Yah tahulah, gue...." ia menabik dada. "Kamu aktif di sana? Suasananya gimana, sih?" ia kembali melanjutkan soalan.

"Aku aktif di sana. Dan aku juga akrab dengan jajaran admin serta kerap bertegur sapa dengan member-membernya." aku tersenyum. 

"Kenapa, sih, perempuan suka curcol? Terus, kayaknya jarang banget deh yang mengangkat dunia perempuan di blog" ia memandangku sekilas.

"Eh, perempuan aja suka curcol? Cowok juga kali." aku melihat wajahnya yang  tak puas dengan jawabanku. "Pada akhirnya, curcol teman-teman perempuan itu juga mengangkat isu-isu dunia perempuan. Dan dari curcol sederhananya  itu terkadang justru isu perempuan terungkai." Aku melihat ke luar jendela. Gelap.

"Terus ngapain itu ada Srikandi Blogger 2013 segala? Apa nggak jadi gap antara blogger lelaki dan perempuan?

Aku tersenyum, diam kemudian berpikir.

"Wajar saja menurutku, tapi dengan adanya event itu bukan berarti sebuah jurang untuk memisahkan antara blogger lelaki dan perempuan."

"Apa pendapatmu tentang nama Srikandi?" ah, dia bertanya lagi. kepalaku mendadak berat kembali. Ngantuk.

"Saya tidak pernah mempermasalahkan nama itu."

"Aih, cuman itu aja. Alesannya apa? Mosok cuman itu doang?"

"Entah...." aku mengedikan bahu dan tersenyum melihat ia yang semakin tak puas.

"Ngapain, sih aktif di KEB?"

Hening, karena aku enggan menjawabnya.

"Kamu ikutan lomba Srikandi Blogger?" tanyanya lagi, tak jera dan aku hanya mengangguk saja.

"Kalau menang kamu sanggup jadi dutanya?" dan aku lagi-lagi hanya mengangguk.

"Dan kalau kamu kalah, kamu akan tetap di KEB atau mengundurkan diri dari KEB?" duh, pengen aja ini nimpuk ke dia. Aku udah ngantuk banget kali....

"Dalam setiap perlombaan pasti ada menang dan kalah dan aku sudah mengantisipasi jauh-jauh hari. Dan aku juga  tak akan lari dari KEB karena kekalahan saya." dengan penuh semangat aku  menjawab persoalannya.

"Nggak ada pertanyaan lagi?" tanyaku yang melihat ia mendadak terdiam.

"Kak, bangun, Kak." Nani mengejutkanku

Ah, rupanya aku bermimpi dan lagu Anuar Zein sudah tak terdengar lagi.


Ajari aku tuk bisa
Menjadi yang engkau cinta
Agar ku bisa memiliki
Rasa yang luar biasa
Untukku dan untukmu

Terngiang-ngiang lagu itu dan aku, berharap bisa belajar mencintai. Apapun hasil yang didapat nanti, tetap mencintai dunia blog, para emak, 10 finalis Srikandi Blogger 2013, admin, panitia, teman-teman yang sudah mendukung. 

Dari kiri ke kanan, Mbak Alaika Abdullah, Anazkia, Mbak Dina Begum, Mbak Diajeng Larasati, Mbak Eka Putri, Mbak Nchie, Mbak Myra, Mbak Oktaviani, Mbak Shinta Ries juga Mbak Winda Krsnadaefa

Minggu 21 april dua hari lalu. Pagi itu, saya bangun kesiangan. Ini dikarenakan begadang sampai malam, kejar-kejaran posting ikutan kontes di blognya Pak Dhe Cholik (sebenernya emang gak bisa tidur juga, sih :D). Lucu, sama Mbak Lidya balapan :) sama Mbak Nchie, Mbak Alaika. Bahkan akhirnya OOT di group facebook. Masuk ke kamar, mata tak juga dapat terpejam. Akhirnya, mendekati pukul tiga barulah mata saya bisa terlena.

Tulisan ini diikutkan pada #8MingguNgeblog bersama Anging Mamiri minggu kedua

"Kemarin itu setelah seminar peresmian EUB saya sempat meminta data-data dengan Pak Agus, atase tenaga kerja mengenai jumlah TKI di Malaysia. Satu juta lebih TKI yang resmi dan hampir satu juta lebih juga TKI yang tak resmi berarti dua juta lebih TKI kita di Malaysia. Nah, ini kan berarti TKI di Malaysia sudah sama seperti penduduk di Bandung. Bayangkan, seluruh penduduk Bandung tinggal di Malaysia." 

Saya menyimak kalimat demi kalimat dari Pak Sugiri, sementara Om Brad dan Baha mengangguk-angguk. Kami sama-sama sedang menunggu makanan siang dihidangkan. Hiruk pikuk suasana foud court Kuala Lumpur City Central tak mengganggu keakraban kami bercerita. Bercerita tentang Malaysia, yang mempunyai rasa Indonesia.... Kamis lalu, kebetulan Om Brad blogger dari Jakarta sedang berada di Kuala Lumpur. Jadi saya menghubungi beberapa teman yang bisa hadir siang itu karena hari kerja.

Ya, itu baru para TKI. Belum lagi WNI yang sudah berpindah warga negara, baik yang baru maupun keturunan yang sudah puluhan tahun di Malaysia. Kata pak ustadz yang saya lupa namanya ketika saya ikuti kajiannya di UIA (University Islam Antar Bangsa) berkata kalau dalam sejarahnya rakyat Malaysia ini empat puluh persennya adalah keturunan dari Indonesia. Meski pendapat ini pernah dibantah oleh salah seorang teman kompasianer Malaysia ketika saya menuliskannya, tapi bukan berarti ia adalah isajapn jempol belaka. 

Kalau membaca jurnal Saat Harus Menjadi WNA, sejatinya ia bukan hanya urusan demi materi beberapa WNI rela menukar identitas kewarganegaraannya. Sebelum ada Malaysia, para nenek moyang kita sudah banyak yang berpindah randah ke Malaya (waktu itu masih Malaya kali, yah?)








Foto di atas diambil tanggal 13 maret lalu, saya dan teman-teman backpacker koprol backpackeran ke anak gunung Krakatau. Sebelum berangkat, kami sudah berkoordinasi kalau BHSB akan menyumbangkan bukunya. Karena niat dari awal jalan-jalan tersebut memang bukan sekedar jalan-jalan. Kami akan berkunjung ke SDN Tejang yang berada di Pulau Sebesi. Setiap bajet yang ditetapkan panitia juga dipotong Rp. 25.000 untuk membeli buku. Karena di BHSB sendiri tersedia cukup banyak buku-buku pelajaran, akhirnya kami bawa. 

Kalau saya biasanya mengkoordinasi kegiatan BHSB , rupanya untuk urusan packing buku masih nol nilainya. Jadilah ketika sampai di Merak hujan lebat kardus buku itu terkoyak, isinya pun berserak. Akhirnya buku yang berserak ini kami bawa begitu saja bersama-sama. Dan foto di atas adalah  sesi memasukan buku ke dalam perut perahu kecil, takut kena ombak jadi dimasukan ke dalam perahu :) foto di Jeti, menuju ke pulau Sebesi. Buat Haqi, terimakasih jepretannya :)


Foto ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Sehari Menjadi Srikandi

Teringat dengan komen Kang Rawins di sini, yang meminta oleh-oleh monyet :D selama tinggal di Malaysia, saya sering banget membaca berita mengenai monyet yang kerap datang ke rumah warga. Ada berita seorang nenek dikerubutin sekawanan monyet sampai dibawa rumah sakit karena luka parah. Bahkan pernah kejadian seorang pemilik pohon mangga tersasar menembak orang yang dikiranya adalah monyet :(


Berkeliarannya monyet-monyet di rumah warga, bisa saja karena mereka telah kehilangan habitatnya. Lihatlah di kawasan rumah majikan saya, lima belas tahun lalu di sekitar rumah tersebut adalah kawasan hutan. Itulah kenapa Mak Cik Janah diamanahi tugas oleh bosnya untuk menjaga kawasan kebun. Di rumah majikan saya juga sering banget monyet-monyet berkeliaran. Bahkan sampai masuk ke rumah. Kalau kita lengah sebentar saja membuka pintu dan jendela, dengan cepatnya monyet-monyet itu mengobrak-abrik isi dapur.


Dia makannya tamak banget (lak kok malah disediain makanan) hahahaha

Jumlah populasi manusia yang semakin banyak, sepertinya akan menggugat populasi makhluk yang lain :|


Suatu hari di sebuah taman KLCC (Kuala Lumpur City Center) saya sedang duduk bersama dengan Mbak Dewi salah satu pembicara dari internet sehat yang esok harinya akan mengisi workshop blogging dengan teman-teman TKI. Saat itu, kami sedang menunggu Mbak Nike Rasyid seorang blogger perempuan yang berasal dari Palembang.

"Mbak, perkembangan dunia blog di Indonesia pesat juga, ya? Itu ibu-ibunya juga semakin banyak yang eksis di dunia blog dengan adanya group Emak-emak Blogger." saya bertanya dengan Mbak Dewi. Kebetulan, saat itu saya belum lama tahu mengenai group Emak-emak Blogger di facebook.

"Ah, nggak juga, Mbak Anaz, itu kan baru di kalangan menengah ke atas. Untuk masyarakat kalangan bawah itu masih susah. Selain keterbatasan fasilitas, mereka juga malas untuk mengikuti pelatihan-pelatihan blog yang yang dilakukan, meski itu gratis. Karena saya dan tim internet sehat pernah punya program khusus di mana memberikan pelatihan ngeblog untuk para ibu-ibu dan hasilnya masih jauh dari dari sasaran." mbak Dewi menjelaskan panjang lebar.

Sekilas perbincangan pertengahan tahun lalu.


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mamiri, minggu pertama.

Kalau dihitung-hitung, sepertinya ini tahun ke tujuh saya berada di Malaysia dan selama itu pula saya bekerja mengikuti majikan yang sama. Kalau dua tahun lalu saya tidak tinggal dengan majikan, itu karena saya mengikuti anaknya. Dan sekarang saya kembali tinggal dengan majikan sementara menghabiskan permit kerja. Awal saya datang, rumah majikan saya berada di Gombak. Dan kini majikan saya sudah pindah rumah di Kajang. Kalau dulu ketika di Gombak saya sering didatangi ayam-ayam tetangga, sekarang yang datang bukan lagi ayam. Yang datang adalah gerombolan monyet, ia memakan apa saja yang ditanam Abah maupun Mbak Samini.

Di seberang rumah majikan saya ada rumah sederhana yang dihuni oleh sepasang suami istri dan seorang anaknya. Sebenernya, anaknya ada dua, tapi yang satu lagi sudah menikah. Mak Cik Janah, begitulah saya memanggilnya. Sementara dengan kedua anak dan suaminya saya tak begitu mengenalnya. Mak Cik Janah dan suaminya ini berasal dari Indonesia. Mak Cik Janah asli keturunan dari Minang, sementara suaminya berasal dari Pekanbaru. Mereka semua sudah lama berada di Malaysia, sejak dua puluhan tahun yang lalu katanya (atau malah lebih, ya?)

Setiap berbincang dengan Mak Cik Janah, ada saja cerita yang dikisahkannya. Sejak kedatangannya, tentang keluarganya, suaminya, anaknya juga bagaimana ceritanya ia menghuni rumah di seberang jalan rumah majikan saya. Mak Cik Janah,  sudah puluhan tahun menetap di Kajang. Rumah yang ditempatinya itu bukanlah miliknya, ia hanya menunggu dan menjaga rumah tersebut beserta  menjaga kebun yang ada. Rumahnya memang dikelilingi kebun, beragam buah-buahan ada di sekitar rumah tersebut. Dari Nanas, pisang, rambutan, mangga, rambutan hutan, durian juga sayur-sayuran yang banyak ditemui.

Awalnya saya mengira Mak Cik Janah masih seorang Warga Negara Indonesia (WNI) ternyata, sejak tahun lalu ia sudah menjadi warga negara Malaysia dan sudah memegang IC (Identity Card) biru dan tahun ini dibolehkan ikut mengundi dalam pilihan raya ke 13. Jadi, bulan lalu ketika Mak Cik Janah barengan dengan majikan saya beserta rombongan persatuan Minang ke Jakarta untuk jalan-jalan beliau jadi pengunjung. Yah, pengunjung di "bekas" negara sendiri. Entah apa rasanya....

Waktu Mak Cik Janah ke Jakarta, saya masih berada di Indonesia jadi sempat singgah ke hotel dan menginap di sana selama dua malam.

"Mak Cik pernah ke Jakarta?" 

"Sama sekali nggak pernah, ini pertama kalinya Mak Cik ke sini." Jawabnya

Ya, itulah Mak Cik Janah, tak pernah berkunjung ke ibu kota. Sekalinya berkunjung ke ibu kota ia telah menjadi warga negara asing. Mak Cik Janah, hanya satu dari sekian banyak orang WNI yang berada di Malaysia kemudian menentukan pilihan untuk pindah kewarganegraan. Tentunya bukan hal mudah ketika membuat pilihan tersebut.

"Kenapa Mak Cik pindah warga negara?" Tanya saya ketika kami sedang berbincang.

"Sebab cari uang di sini lebih mudah," katanya tersenyum sumringah. "Mak Cik nggak tahu harus ngapain kalau pulang ke kampung halaman." Ujarnya lagi menambahkan.

Ah, retorika anak bangsa ketika hidup di luar negara begitu lama dan tak tahu harus berbuat apa ketika pulang ke negaranya sendiri. Eh, ini saya diminta nulis sekitar rumahmu, tapi kok nulisnya di sekitar rumah majikan saya, ya? Lak abis gimana wong sayanya tinggal di rumah majikan. Dan semoga, semoga kedatangan saya kali ini benar-benar untuk mematikan permit kerja saja kemudian pulang, jadi saya bisa menuliskan tentang sekitar rumah saya  Aamiin :D

 Bersebrangan jalan rumah majikan saya dan rumah Mak Cik Janah


Penampakan rumah Mak Cik Janah

Gunung Krakatau berada di Selat Sunda, perbatasan antara pulau Jawa dan Sumatera. Tepat pada tanggal 26-27 agustus tahun 1883  gunung Krakatau meletus. Letusan yang sangat dahsyat disertai dengan awan panas serta tsunami itu menewaskan 36.000 jiwa. Sebelum terjadi tsunami pada tahun 2004, tsunami yang terjadi dari letusan gunung Krakatau saat itu adalah yang terbesar di kawasan Samudera Hindia. Letusan Krakatau menyebabkan terjadinya iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Dan juga terbentuknya tiga pulau akibat dari letusan gunung Krakatau, pulau Panjang, Rakata dan Sertung. Lebih kurang dari 40 tahun pasca meletusnya gunung Krakatau, muncullah gunung api yang disebut dengan anak gunung Krakatau. Sumber wikipedia



"Selamat hari raya idul fitri ya, Mbak. Mohon maaf atas segala salah-salah kata, abis Mbak Anaz kadang nyebelin, sih." Lebih kurang, isi SMS lebarannya kayak gitu. Hahahaha, asyemmm, asli saya ngakak. Yah sebel, yah lucu juga baca sms pas lebaran lalu. Tapi beneran saya jadi mikir, jangan-jangan saya nyebelin beneran, yaks? Yo wis, nanti kapan-kapan mikir lagi. Ini lanjut mau nulis tentang teman-teman yang sudah saya temui dan mungkin jadi membosankan bagi yang lain. Yang bosan skip aja, ya :)

Kalau di Indonesia, ada Indonesia Mengajar yang digawangi oleh Pak Anies Baswedan, Indonesia Berkibar oleh  Mas Syafiq Pontoh, Akademi Berbagi yang digagas oleh Ibu Ainun Chomsun maka di Malaysia, ada EUB (Edukasi Untuk Bangsa) yang dipelopori oleh Pak Aulia Badar. Selain yang telah ditulis, masih banyak lagi komunitas-komunitas yang kini banyak bermunculan baik bergerak di bidang sosial, maupun untuk pendidikan di Indonesia. Mereka bukanlah orang-orang yang ingin mengubah bangsa, tapi mereka bergandeng tangan bersama untuk memperbaiki kualitas anak bangsa menjadi lebih baik.

Mengitung-hitung, mengira-ngira akan jadi apa nantinya....???

Dokumentasi Pak Dian Kelana
"Apa peranan ASEAN Blogger dalam menghadapi hubungan dua negara yang kerap kali terjadi, khususnya antara Indonesia dan Malaysia?" Pertanyaan itu pernah saya lontarkan kepada ibu Maria, pada acara ASEAN Blogger peduli yang diadakan di Pusat Pendidikan dan Latihan Departemen Republik Indonesia 1 desember 2012 lalu. Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Tujuh tahun lamanya saya tinggal di Malaysia, sejak di Malaysia juga saya mengenali dunia blog. Ragam cerita dan rupa-rupa rasa selama ngeblog saya dapatkan.  Beragam teman saya kenali melalui blog, terutamanya teman-teman blogger dari Malaysia. 

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Teman-teman

Sering Dibaca

  • Minyak Gamat Bukan Hanya untuk Obat Luka
  • Kemerdekaan Bagi OYPMK Bagaimana?
  • Bagaimana Cara Membuat KTKLN?
  • Resep Sambal Terong Dicabein
  • Bunga Tahi Ayam Untuk Arr Rian

Harta Karun

  • ►  2022 (8)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2021 (8)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (4)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2019 (41)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2017 (21)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2016 (63)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Februari (23)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2015 (137)
    • ►  Desember (25)
    • ►  November (20)
    • ►  Oktober (34)
    • ►  September (19)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (9)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (52)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (6)
    • ►  Januari (2)
  • ▼  2013 (40)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (3)
    • ▼  April (12)
      • Ajari Aku Mencintai
      • 10 Finalis #Srikandi Blogger 2013
      • Malaysia Rasa Indonesia
      • Mengangkat Buku yang Berserak
      • Oleh-oleh Untuk Kang Rawins
      • Srikandi Blogger dan Sebuah Mimpi
      • Saat Harus Menjadi WNA
      • Mendaki Anak Gunung Krakatau
      • Almascatie dan Sang Putri
      • Lebih Dari 18 Ribu Anak Indonesia di Sabah, Akhirn...
      • Jomblo Jadian
      • Asean Blogger Festival Indonesia 2013
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2012 (74)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Februari (13)
    • ►  Januari (14)
  • ►  2011 (87)
    • ►  Desember (10)
    • ►  November (8)
    • ►  Oktober (18)
    • ►  September (13)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (8)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2010 (141)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (12)
    • ►  Juni (12)
    • ►  Mei (17)
    • ►  April (20)
    • ►  Maret (17)
    • ►  Februari (18)
    • ►  Januari (23)
  • ►  2009 (124)
    • ►  Desember (11)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (17)
    • ►  Juni (14)
    • ►  Mei (16)
    • ►  April (20)
    • ►  Maret (12)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2008 (105)
    • ►  Desember (7)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (10)
    • ►  Juni (16)
    • ►  Mei (19)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (22)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2007 (30)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (12)
    • ►  Agustus (2)

Kategori

Ads Blogger Hibah Buku Celoteh Cerpen Featured GayaTravel KBO komunitas Murai Perjalanan Piknik Buku Pojok Anaz Reportase resep reveiw Semestarian Serial Sosok Teman TKW TripGratisan Volunteer

Catatan Anazkia By OddThemes | Turatea.com