Catatan Anazkia

Karena hanya tulisan yang bisa saya tinggalkan

  • beranda
  • Kisah
    • Serial
    • Cerpen
    • Celoteh
    • Reportase
    • Perjalanan
      • Gaya Travel
      • Trip Gratisan
      • Piknik Buku
  • Pojok Anaz
  • Murai
  • Sosok
  • komunitas
    • Volunteer
    • KBO
    • Semestarian
    • Blogger Hibah Buku
Inilah hari, dimana kita mengukir nama. Inilah hari, disaat kita mengukir cerita. Hari, dimana kita kelak akan ditanya kemana dan untuk apa di dunia. Hari, dimana kelak, kita juga akan dimintai pertangung jawaban oleh-Nya. Hari-hari, singgah sesaat. Hari-hari mengumpulkan bekal, untuk kembali ke akhirat. Alangkah indahnya, ketika kita mampu, mengukir keindahan pada hari ini dan berbagi, kebahagiaan kepada sesamanya.
Saat beberapa hari lalu, aku tertanya tentang kelebat kata mbak Elly, membawaku menyeret kepada facebooknya. Ucapan bela sungkawa, dari rakan sejawatnya, membuatku berkerut kening kepala. "Siapa yang meninggal?" Tanyaku tak berjawab. Aku buru-buru menghubungi nomor hape mbak Elly. kebetulan, aku memang memiliki nomornya. Sayang sekali, tak berhasil. Nadanya, tulalit! Kesibukan di dapur, juga menyibukan kepala otakku yang sibuk bertanya, "Ada apa dengan mbak Elly...??" Buru-buru, aku membuka "harta karun" dalam tumpukan rak-rak buku. Seingatku, aku menyimpan dua nomor mbak Elly. Alhamdulilah, ku temukan juga nomor satu lagi. Langusug ku hubungi, berhasil tersambung. Tapi, sayang sekali tidak diangkat. Akhirnya, kuputuskan untuk mengirim sms saja. Tak berapa lama, sms tersebut berbalas. Pertanyaanku, terjawab sudah. Bundanya, meninggal beberapa hari lalu. Ada getir kesedihan, ada ngilu kepedihan. Sedih dan pedih, pada perpisahan yang sementara. Sedih yang mebuatku melihat kelebat bayangan Bapak. Dalam sibuk meramu masakan yang hendak kujamu, otakku terasa tak berada disitu. Pikiranku, hanya satu, "segera berbagi, dengan sahabat maya lainnya" Maka, cepat-cepatlah aku menyelesaikan segala urusan dapur. Menuju kamar mandi, kemudian shalat dhuhur. Setelah itu, langsung membuka laptop. Sesegera mungkin, mengirim berita duka kepada sahabat-sahabat maya lainnya. meskipun, dengan menyesal sekali, tak semua sahabat ku kirim beritanya (karena ngetik terburu-buru jadi lupa). Entah kenapa, meskipun hanya menulis kata, seolah kesedihan yang membuncah tercurah. Betapa kurasa, indahnya ukhuwah. Apalagi, ditambah dengan postingan dari bang Atta dan Bang Ais. Semoga, ukhuwah ini mendapat keberkahan dari-Nya. Insya Allah... Dan, untuk mbak Elly dan keluarganya diberikan kesabaran dalam menghadapi cobaan ini. Dari Allah kita datang, dan kepada Allah, kita dikembalikan. Innalillahi wa innaillahi roji'un... Semoga arwah sang ibunda, ditempatkan di tempat yang layak. Allahumma amin... Dan, menjadikan sebuah pengingat bahwa, 'Tiap-tiap jiwa, akan merasakan mati." kelak, lusa atau nanti, aku juga akan kembali pergi.
Hari-hari terakhir minggu ini, entah kenapa kepalaku sepertinya bertambah pening. Nggak pening-pening banget sih tapi, ko yah lumayan pening dan ruwet. Ruwet, juga nggak ruwet-ruwet amat. Aku lagi heran aja, banyak denger cerita yang cukup menggelikan atau malah menjengkelkan di dunia maya. Tentu saja, di luar berita politik yah...??? Ini full, beritanya para blogger.
Bukan hendak bergosip, ini hanya berbagi rasa, berbagi cerita. Seperti share di dunia maya. Mengenai judul yang aku tulis, tentu saja, aku tidak akan menulis satu demi satu A B C D, secara jauhnya aku juga tidak memahami kesitu. Agak miris mendengar kisah-kisah yang menurutku tidak begitu etis, tidak berapa sopan. Agak bingung memulianya. Mungkin hanya cerita sederhana saja. Ketika aku menulis "Tatkala Rasa, Berbicara Pada Maya" Aku sedikit menyinggung tentang "Buaya Maya" Aku rasa, ia begitu kasar terbaca di mulut dan, terlalu kasar ia ketika didengar di telinga. Henny, sampai bilang, "Buaya maya itu kayaknya istilah baru nih mbak, asli buatan mbak anaz." Bukan hanya Henny, Pak Iwan pun berkata demikian. Aku tak mempedulikan, dari mana asal muasal kata-kata itu. tapi, sekarang aku fokus kepada istilah itu. Sejauh apapun kita hidup, sejauh apapaun kita memijak kehidupan, entah maya atau nyata jadilah diri sendiri, tentu kita tak akan rugi. Ketika di dunia nyata anda berpikiran putih, mengajak berpikir putihlah, saat di dunia maya. Jangan hanya putih pada tulisannya tapi, tidak pada nyatanya. Ibarat pepatah melayu, "cakap tak serupa buat" Astagfirullah... Semoga Allah selalu melindungi kita. Ketika anda merasa menjadi seorang lelaki gagah, atau wanita cantik. Tak usahlah menebar pesona kepada setiap wanita atau lelaki yang anda temui di dunia maya. terutamanya, seorang lelaki yang selalu menebar kata manisnya pada setiap wanita. Mungkin sahabat berpikir, apa Anaz korban lelaki tersebut...?? Alhamdulilah, sama sekali enggak. tapi, aku justeru mengenali beberapa orang yang menjadi korban lelaki tersebut. Entah kebetulan, atau memang Allah tunjukkan, para wanita itu, aku mengenalinya. Sahabat, tolong berhentilah lakukan itu. Ingatlah, bahwa setiap yang kita buat, akan dimintai pertanggungjawabannya. Ah, tentunya anda lebih paham. Semakin mendengar kisah ini, aku jadi semakin berkaca pada diri, sejauh mana, aku menggunakan fasilitas maya? Adakah aku, sudah sia-sia atau sebaliknya, bermanfaat untuk diri, atau yang lainnya. Menjaga hati, lebih harus berhati-hati tapi, jangan terlalu mengikut kata hati. Aku lebih suka tulisan mbak Elly di facebook, yang hanya sedikit tapi, memberi arti yang banyak, "friendly, honnest. Tidak melayani apapun bentuk keisengan." Yah, keisengan. Keisengan di dunia maya, harus disikapi dengan lebih berhati-hati. Wallau'alam Btw, ada yang tahu khabar mbak Elly? di setiap wall facebook nya, ada khabar duka cita dari sahabat-sahabatnya. Kiranya, siapa yang meninggal...?? Aku mencoba hubungi nomor hapenya tetapi, tidak aktif :(
Dulu, ketika aku kelas tiga Aliyah, saat sedang menghadapi pelajaran sosiologi, ada kejadian yang cukup "mengenaskan" bagi kami teman-teman sekelas. Hari itu, aku lupa membahas tentang apa. Tapi, guru kami, memberikan sebuah pertanyaan, tentang nama penuh HAMKA. Dan, kalau ada yang tahu, tanpa tes atau ulangan, sang guru akan memberikan nilai 8. Kelas sepi sesaat, tak ada yang menjawab. kemudian, sang guru menambahkan, menjadi 9 nilai yang dipertaruhkan. Satu persatu, wajah-wajah kami direnunginya. Sayang sekali, dari sekitar 30an murid tak ada satupun yang mampu menjawabnya. Memalukan, yah, cukup memalukan. kemudian, sang guru menulis di papan tulis bahwa nama HAMKA adalah akronim dari, Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amarullah. Yang lahir pada, 17 februari 1908 di Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat. Kalau aku tak menulisnya, apakah sahabat blogger tahu, nama penuh Buya HAMKA...???
Kemarin pagi, aku menyaksikan berita disalah sebuah satuTV Malaysia, TV3. Mengabarkan, tentang kerajaan Malaysia yang akan memberikan bantuan kepada yang hendak mengkaji karya dan sumbangan HAMKA, sebesar RM. 100,000 atau, sama dengan Rp. 260.000.000. Wuih, sungguh terkejut aku dibuatnya. terkejut dan salut, kepada kementerian penerangan, komunikasi dan kebudayaan. Dan, siangnya, aku juga membaca khabar serupa disalah satu surat khabar tempatan. Semakin membuka otak bawah sadarku, tentang kejadian beberapa tahun dahulu. Menurut surat kabar Utusan Melayu, sumbangan itu bertujuan untuk mengkaji secara komperhensif sumbangan tokoh tersohor dunia Melayu, Hamka. Menteri, Datuk Seri Dr. Rais Yatim memberitahu, peruntukkan tersebut dalam bentuk beasiswa dan penyelidikan akan diberi kepada seorang penuntut peringkat Ijazah Doktor Falsafah (Ph.D) Dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). kementrian berharap pelajar yang terpilih itu menjadi pakar berkaitan dengan Hamka dari segi sumbangannya dalam penulisan dan 69 karya yang tokoh itu hasilkan.. "Hamka seorang yang unik di Indonesia dan Malaysia serta seorang tokoh yang telah banyak menyumbang terhadap perpaduan antara kedua-dua belah negara ini." Ujarnya. Beliau berkata demikian ketika ditemui selepas meresmikan seminar Serantau Seabad Buya Hamka yang diselenggarakan oleh Fakultas pengajian Islma UKM, Jabatan kebudayaan dan Kesenian Negara serta Ikatan keluarga Mahasiswa Minang di UKM, selasa 26 Januari 2009. Salut dengan usaha yang dilakukan oleh beliau (Datuk Seri Dr. Rais Yatim), beliau yang termasuk sahabat karib dari Buya Hamka sendiri sangat menginginkan, sumbangan itu perlu dilihat daripada segi pembudayaan bahasa yang menjadikan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia sebagai bahasa penghubung masyarakat dan bahasa ilmu. Aku jadi teringat, tentang posting pidato Hamka, ketika beliau mendapatkan gelar doktoralnya dari Universitas Kebangsaan Malaysia puluhan tahun lalu. Kalau yang mau lihat, klik aja disini yah.. :) Aku sendiri, jujur banget, mengenali karya-karya Buya Hamka, setelah berada di Malaysia. tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Di Bawang Lindungan Ka'bah dan lain-lain aku juga baru membacanya saat di Malaysia menyedihkan sekali bukan... :(. Begitu banyak karyanya, antara lain yang sudah ku jamah, Tasawuf Moderen, Sejarah Umat Islam dan beberapa lagi, yang aku lupa judulnya. dari sekian banyak karyanya, aku sedih ketika membaca 'Tasawuf Moderen" buku itulah, yang selalu beliau baca, ketika dalam penjara. Dan, dalam penjaralah, karya Tafsir Al-Azhar dihasilkan. Subhanallah... menulis, seperti sudah menjadi nyawa untuknya. Semoga kita, generasi penerus mampu mengambil hikmah dari semangat Buya Hamka. Menulis, dan menulis. Sekurang-kurangnya, kita tahu, bahwa beliau adalah berasal dari ranah minang. Wallahu'alam. Gambar diambil dari sini Tulisan dipetik dari harian Utusan Malaysia, Selasa. 26 januari 2009 dengan sedikit perubahan bahasa (meskipun masih ada yang serupa)
Mbak Rie-Rie, seingatku aku mengenalinya disalah satu sebuah blog. Di blog tersebut, ia sedang di review. Dari situ, kita mulai akrab. Lebih sering, berkomunikasi melalui yahoo messenger. Sepertinya, dia juga adalah salah seorang yang memberikanku semangat untuk ngeblog. Soalnya, waktu itu aku blognya nggak aktif. Dari situlah, aku mulai semangat ngeblog. Mbak Rie-Rie, salah seorang buruh migrant di Hongkong. Aku suka cara dan gayanya dia menulis. Blak-blakan banget. Lihatlah tulisan-tulisannya di blog, babungeblog.
Ketika beberapa waktu lalu, banyak beberapa teman baru yang mengadd aku di facebook, ada beberapa yang memberikan prolog, kalau mereka telah membaca tulisanku di sebuah majalah yang terbit di Hongkong. Aku kaget! Seingatku, aku tidak pernah mengirimkan tulisan ke majalah manapun. Ada beberapa orang yang baik hati, memberi tahu kalau tulisanku dimuat di majalah peduli, yang terbit di sana. Dalam lembar media kita, blogku di tampilkan disana. Dalam hati, aku langsung "menuduh" mbak Rie-Rie. Dialah pelaku utama, yang memasukan blogku ke majalah tersebut. Setelah bertanya langsung ke orangnya. Ternyata adalah benar. Fiuh.. tuh orang, bikin aku terheran-heran aja. Mikir, kok bisa-bisanya tulisanku nyangkut disana. Meskipun, aku tidak berapa suka dengan prolog yang di tulisnya (mbak, dirimu lebih jago menulis lho) Tapi, aku ucapkan terikasih sebanyak-banyaknya. Di muatnya blog aku disitu, menjadikan semangat baru untukku. Semangat untuk nulis yang lebih bermanfaat. Makasih yah, mbak Rie-Rie :). terimakasih juga, buat U'un yang telah sudi mengirimkan gambar review blognya tadi malam. Makasih banyak yah :). Owh ya, salah satu tulisanku yang dimuat, adalah posting tentang, "menjawab Soalan Rangga"
Kalau dengerin radio Era, sekarang sering banget diputar lagunya Nidji, "Akulah Sang Mantan" Jadi, aku ikut-ikutan aja mosting judulnya. Tapi, beda-beda dikit nggak pa-pa khan..??? maksudnya, beda isinya. Ok, lanjut...
Beberapa dekad ini, ada beberapa teman dan sahabat yang mengatakan aku berubah. Pokoke, dari temen lama nyata, sampe temen lama yang kenal di dunia maya. Agak susah menceritakannya. tapi, terimakasih buat sahabat dan karib yang telah menegurku. Teguranmu, membuatku berfikir. Tapi, ko sekarang yang aktif menegur, nggak pernah negur lagi yah..?? kemana...?? Untuk sahabat semua, Aku, Ana, masih Ana yang dulu. Meskipun ada perubahan, Ana masihlah Ana yang kalian kenal. Tolong, ketika menegurku, jangan sekali menegur terus kabur. Ana dengan segala keterbatasannya, masih banyak kebodohan dan ketidak tahuan. Jadi, aku bukanlah sang mantan. Ana, tetaplah Ana yang dulu. Tiada yang hilang. Mohon maaf, kepada sahabat semua, kalau statusku di facebook, plurk, atau yahoo messenger ada yang menyinggung sahabat sekalian. "Demi massa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." QS, Al'Ashr 1-3)
Ketika karya Buya Hamka (Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk) banyak dibicarakan konon, ia adalah plagiat dari karya Mustafa Lutfi El Manfaluthi (Magdalena) penulis dari Mesir. Setelah membaca karyanya, menurutku ia tak begitu sama serupa. Mungkin, hanya mengambil temanya yang hampir sama. Aku juga pernah membaca dalam karya Buya Hamka yang lainnya bahwa, saat belajar menulis ada ketikanya, kita akan mengikuti gaya dan cara penulisan idola kita. Bukan menjiplak tapi, hanya sekedar mempelajari gaya penulisannya. Dan, setelah aku mendapat ilmu baru lagi, rupanya ia adalah "BENCHMARK", sebuah proses tentang peniruan tulisan tapi, bukan menjiplak.
Seorang sahabat dekatku, pernah berujar katanya, Tulisanku mirip-mirip dengan tulisan HM. Tuah. Menulis, dari kisah keseharian. HM Tuah, seorang penulis motivasi, ia adalah idolaku dari Malaysia.Dan ternyata, Wina pun mengangguminya juga, sama-sama memiliki karya HM Tuah, dalam jumlah yang banyak. Mungkin, ini untuk pertama kalinya, aku menganggumi penulis dan membeli buku-bukunya sampai puluhan. Tak hanya untuk koleksi sendiri tapi, juga kukirimkan untuk sahabat-sahabat terdekatku. Secara tidak sadar, aku telah melakukan Benchmark pada gaya penulisan HM Tuah. Sekali lagi, ini bukan plagiat yah? :) Dan kalau penulis Indonesia sendiri, aku menggemari gaya penulisan Mbak Helvi, Mbak Asma, Mas Gola Goang, Boim Lebon, Hilman Lupus, Tasaro GK, Kang Abik, Andrea Hirata dan lain-lain, untuk karya fiksi. Sedangkan untuk penulisan essai, aku menggemari tulisan Prie GS, Muhammad Yulius juga lagi belajar mempelajari tulisan-tulisan Goenawan Muhamad dan Emha Ainun Nadjib. Untuk para penulis blogger sendiri, aku banyak menggemari gaya, tema dan penyampaian sahabat-sahabat semua. Mbak Elly, aku menggemari gaya penulisannya tapi, aku tidak mau mengikuti gayanya. Buatku, terlalu sulit untuk menulis seperti itu. Meskipun ia masih jenis essay, Piss yah mbak :). Mbak Renny, aku menyukai gaya menulis CS nya (CS= Chicken Soup) Pengen banget, menulis CS lancar seperti itu. Mbak Fanda, hmmm ini lain lagi. Seorang wanita, yang jago menulis review buku. Panjang banget kalau review, seolah kata-demi kata dalam buku yang dibaca tak terlupa (kapan yah aku bisa review kek githu...??) Shinta, ini juga pereview buku, ngiri lihat reviewan dia. Apalagi, sekarang dah jadi pekerjaan sampingan. Bener-bener hobi, yang menghasilkan rizki. Mbak Fanny, cerpenis yang bener-bener multitalent. Kalau nulis, gayanya santai banget ingin seperti itu tapi, ko kadang bahasaku kaku. Mbak Ajeng, hmm.. Kalau ini, aku lihat hampir mirip-mirip kek mbak Fanda. Maksudnya, kalau menulis betul-betul hati-hati banget. Titik demi komanya bener-bener dijaga bahkan, sampai makna katanya terhubung keberbagai pandangan ulama. Sayang sekali, kalau aku mem BENCHMARK gaya mbak Ajeng, jauh panggang dari pada api, alias gak bakal sampai deh seperti itu. Sementara mbak Ateh, penulis keseharian berjiwa lembut ini sangat terlihat dari postingannya. Kepasrahan hidup kepada-Nya selalu menjadi intisari tulisan-tulisannya. Ingin seperti ini tapi, sama masih jauh panggang dari pada api. Soale, tulisanku selalu lari terkejar-kejar :) jeng Sri...??? Ini sih lain lagi, jelas beda banget. Lho wong kadang menulisnya pake riset segala :) kalau aku hendak mem BENCHMARK nya yah, jauh wetan dari pada kulon, aku nggak bakalan sampai-sampai. Henny, meskipun sekarang postingannya dikit-dikit banget tapi, tulisannya keren. Kelihatan banget, kalau menyukai membaca, diksi kata demi katanya runut. Nah, kalau ngomongin Henny, gak jauh beda sama Yoliz. Yoliz pun kalau menulis, gramatikal bahasanya lengkap banget. Aku sampai iri dibuatnya. Aku sering memperhatikan satu demi satu kalimat yang ditulisnya dan aku menirunya dalam diam. Kali ini, aku mem BENCHMARK gramatikal bahasanya Yoliz :) Mbak Sari, sewaktu awal-awal aku kesana, aku sering terbahak-bahak. Hampir guling-guling. Tapi, itu dulu. Sekarang, ko bawaannya serius mulu yah? Kadang aku mikir-mikir, "Aku nggak salah tempat khan...???" Soale, aku malah pengen mem BENCHMARK gaya mbak Sari yang dulu. Nah, kalau Inul, sekarang anak itu dah berubah banget. Suka banget nulis puisi padahal, dulu nulisnya macem-macem. Aku malah pengen mem BENCHMARK gaya nulis puisinya Meskipun, jauh lor dari pada kidul, secara aku kurang ngeh kalau nulis puisi. Elpa, bloggerwati baru, aku belum bisa membaca lebih jauh :) Pun dengan Mbak Senja, seorang yang suka berpuitisasi. Sayang, segala yang berhubungan dengan puisi, agak susah aku mem BENCHMARK nya. Aduh, sapa lagi yah..?? :) Owh ya, Mbak Ani. Aku pengen banget nulis seperti mbak Ani, menulis biasa tapi, dengan gaya bahasa cerpen. Ah, andaikan aku mampu mem BENCHMARK nya. Tapi, ia serasa sulit. Sepertinya, aku harus sering berlama-lama disana. Juga, ada mbak Puspita seorang guru dari Jogjakarta, gaya penceritaannya adem ayem sekali. Kapan yah, aku bisa niru...??? Yuna, seorang ABG, menulis keseharian kehidupannya, pengen mem BENCHMARK juga tapi, aku khan dah nggak remaja lagi...??? Jadi mengingatkanku, pada Itik bali nan manis nian, ini anak juga bikin aku geleng-geleng kepala, seolah aku tak percaya bahwa ia masih terlalu muda untuk menulis seperti itu. hendak mem BENCHMARK nya...??? Kagak mungkin deh Naz... Lo mah kelaut aje..., begitulah, kata hati kecil. Mpok Ratu, itu juga tulisannya kadang garing banget. Bikin aku ngiri, bikin aku ngakak juga. Ngiri pengen cepet-cepet kopdaran sama dia. Kalau mem BENCHMARK mpok Ratu, sepertinya sudah deh, soalnya kadang khan aku emang posting kisah sehari-hari :) Aduh, sapa lagi yah, yang pengen aku BENCHMARK...??? udah dulu deh kayaknya. Kenapa nulisnya wnaita semua Naz..??? Emang yang pria nggak ada...?? Yah ada sih ada tapi, ini dalam rangka majang award dari para wanaita makanya, hendak mem BENCHMARK nya juga tulisan para wanita. Kalau hendak mem BENCHMARK tulisan para pria blogger, agak susah memang. Buwel, bang Atta, mas Ivan, Nuansa Pena, mas Sugeng, Pak Iwan Pokoknya, banyak deh, aku nggak bisa nyebutin satu persatu. Untuk sahabat wanita, maaf yah kalau ada yang belum tersebut.
Award dari mbak Reni Award dari mbak Ani
Sabtu lalu, aku ke Putrajaya. Menginap di sana. Seolah menjadi kebiasaan rutin, ketika Adam berulang tahun, aku selalu tidur disana. Dan malamnya, meniup balon. Fiuh.. Sayangnya, kali ini aku tak seberuntung tahun-tahun sebelumnya. Aku, Nani, Nini dan mbak Ati setelah bersusah payah, hanya menghasilkan sedikit balon. Beda banget dengan dua tahun lalu. Mungkin karena faktor usia (hahahaha... ngeles. Padahal mah, sakit kepala). Apa hubungannya, gaji sama balon...???
Biasanya, kalau ramai-ramai gitu, kita sesama pekerja rumah tangga (cie.. lebih sopan dikit ah padahal mah, artinya sama, Pembantu!) Para majikan sering membawa pengasuh anak-anaknya. Atau nggak, mbak-mbaknya. Aku suka kalau bertemu mereka. Banyak ragam cerita kudapat dan, menjadi aset untuk aku simpan di file document cerita. Seru! benar-benar seru. Berragam orang yang kutemui, berragam pula cerita yang ku dapat. Inilah hidup. Dan, kebanyakan yang kutemui, adalah para ibu-ibu rumah tangga, yang merantau meninggalkan anak-anaknya. Ketika kutanyakan kemana suaminya, bermacam-macam juga jawabannya. Ada yang sudah meninggal, ada yang masih bekerja di Indonesia bahkan, ada juga yang suaminya, nikah lagi! beu.. Jawaban membosankan! kalau belum sanggup poligami, yah jangan menikah lagi! (ops, ko aye marah-marah yah..??) Emang terbukti khan, belum mampu poligami secara materi, kalau mampu, nggak mungkin dong isteri tuanya merantau jauh-jauh...???. Ah, sudahlah. Aku nggak mau bahas plogami kok. Aku mau bahas, kalau ketemu sama mbak-mbak ini. Di balik kegembiraanku, aku juga kadang sering sungkan dan males (lho katanya tadi seneng..??) Iyah, males dan sungkannya, kalau ditanyain gaji! Sumprit! dari dulu, sepertinya nggak habis-habis deh di tanyain, "GAJI KAMU BERAPA..??" Apa nggak ada soalan lain apa..??? Tapi, kalau aku urut-urut kan, sejak zaman dahulu kala, semenjak zaman purbakala, aku menjadi pembantu rumah tangga soalan, "GAJI KAMU BERAPA" Seolah menjadi hal yang biasa untuk penanya. Padahal, menurutku, itu benar-benar nggak sopan sodara! yah, nggak sopan! Sumprit! Emang sih, ada yang tujuannya baik. Pengen tahu keadaan kita, dibayar apa enggak, baik atau enggak majkan kita, itu semenjak aku kerja di Malaysia. Aku selalu menjawab, "Adalah Kak, alhamdulilah, cukup untuk kebutuhan saya" Sahabat tahu bagaimana raut wajah mereka setelah aku jawab begitu? Ada yang kecewa, ada yang menekuk muka ada juga yang masih penasaran bertanya. Jiah! Nggak penting banget sih...??? Sumpe! nggak penting! Ada berbagai alasan kenapa aku enggan menyebutkan gajiku. Pertama, kalau aku gajinya lebih besar dari sang penanya maka, sang penanya akan merasa berkecil hati, "Kok aku gajinya kecil yah..??" Dan, kedua, kalau gajiku lebih kecil dari sang penanya, mereka akan berkata, "Kok gajinya kecil sih, padahal, kan kamu kerja sudah lama...???" Lihat, itu yang selalu kudapat dari riak-riak wajah mereka ketika menanyakan gaji. kalau bukan aku yang kecewa, yah penanya yang kecewa. Mending, aku tutup mulut aja deh. Wong Emakku aja nggak tahu gajinya berapa :) Kalau mereka seolah-olah sudah mengecilkan gajiku, aku mulai berargumen bahwa, rizki itu, bukan hanya dalm bentuk ringgit. Tapi, juga bentuk kebahagiaan yang aku dapat juga kebebasan dan ketenangan hati. Kalau mau melihat lebih jauh, aku merasa beruntung sekali dengan majikanku. Secara nominal, mungkin gajiku memang kecil. Tapi, secara keseluruhan, aku mendapatkan, apa yang mereka tidak boleh dapat. Misalnya, internet free, 24 jam nonstop.(di Malaysia, mungkin masih jarang tapi, di Hongkong itu sudah biasa) Majikan yang baik, nggak cerewet bahkan, majikanku super baik. Owh ya, majikanku juga sudah pensiun. Dan, kalau lebaran, majikanku juga selalu mengirimkan uang dalam jumlah yang banyak untuk Ibukku. Apa itu bukan rizki juga? Jadi teringat buku yang aku baca. Katanya, 11 cara menambah rizki, tinggkatkan iman dan takwa, memperbanyak sedekah, banyak-banyak berdo-a, berbuat baik kepada ibu bapa, banyakan istighfar, banyakan shalat dhuha, membaca surat al-waqiah, silaturrahim dan membayar zakat. Kategori rizki, bukan hanya uang. Kesehatan pun rizki, kebahagiaan pun rizki, pun dengan sahabat yang baik, ia juga adalah rizki. Mengenali sahabat blogger semua, itu juga rizki bukan...?? :) Jadi, apa pendapat sahabat, ketika ditanya, "GAJINYA BERAPA...???"
Masih inget, dengan cerita "Akhir Dari Pertemuan...???" Kisah tentang persahabatanku dengan seekor kucing, sampai ia mati dan akulah yang menguburkannya dengan berlinang air mata. Sejak saat itu, aku kembali berburu dan mencari kucing baru. Setiap kucing yang melintas dan berkelamin jantan aku berharap ia akan menjadi sahabat baru. Tapi, sayangnya setelah berkali-kali mencari dan menunggu akhirnya, aku ditemukan lagi dengan kucing betina. Fiuh... Nasib.. Nasib.. Padahal, pernah sekali ada kucing yang bagus rupanya, cantik bulunya jantan kelaminnya ia singgah di belakang rumah. Sayang sekali, rupanya ia adalah peliharaan orang :( Dan, aku kembali berkutat dan ditemukan dengan kucing betina, yang sungguh luar biasa cerewetnya.
Sewaktu kucing hitam masih hidup, sebetulnya kucing yang sekarang, dulu ia selalu datang. Tapi, aku selalu menghalaunya. Menurutku, juga keluarga majikanku kucing itu terlalu cerewet. Bising, mengeong kesana kemari. meskipun, ia sudah diberi makan. Aku sering kesal dibuatnya. tapi, yah itu tadi, mungkin sudah nasib dia, dan nasib aku untuk memeliharanya. Akhirnya, dia betah di rumah majikanku. Dan, kebetulan, kucing itu lagi hamil. Bakaln repot lagi aku dibuatnya kalau sudah melahirkan. Sekembalinya aku dari Sumatra bulan lalu, tepat sehari aku baru di Malaysia sang kucing melahirkan anaknya. (Kenapa nggak ngelahirin dari kemarin2 yah...??? pikirku, saat itu) Sewaktu aku sedang bermain dengan Amir, Arwa dan Aufa di belakang rumah tiba-tiba, ia berlari-lari ke dalam rumah, dengan membawa sesuatu di mulutnya. Aku kira ia seekor tikus. Jadi, aku menyuruh Amir untuk mengejarnya dan cepat-cepat menutup pintu. Sayangnya, terlambat. Kucing, sudah berhasil masuk ke dalam rumah. Setelah diamati lebih jauh, rupanya ia membawa seekor anaknya yang berwarna putih. Tidak mau membiasakan kucing itu di dalam ruma, aku buru-buru mencari kardus, dan memasukan bantal kedalamnya. Kemudian, meletakannya di belakang rumah. Selang beberapa lama, sang kucing rupanya kembali melahirkan anaknya. Rupanya, tak hanya seekor tapi, sampai 3 ekor (Aku nggak tahu dimana dia ngelahirin. Tiba-tiba, dah bawa aja kebelakang rumah) Awalnya, sang kucing enjoy saja duduk di dalam kardus bersama dengan anak-anaknya. Dan, akupun kalau malam hari hujan akan memasukannya ke dalam rumah. Hingga suatu malam, aku lupa meletakan kucing itu di dalam rumah. Sampai keesokan harinya aku mencari-cari kelebat anak kucing tersebut tiada. Ada sedikit rasa bersalah. Apalagi, setelah Nini cerita katanya, malam sebelumnya, ada bunyi berisik anjing di belakang rumah. "Jangan-jangan, anaknya di bawa anjing." Pikirku. Sampai beberapa hari lalu, rupanya aku menemukan kucing tersebut di bawah lemari baju tak terpakai. Dan, hanya tinggal dua. Yang seekor lagi sudah tiada. Jangan-jangan, anjing memang membawanya... Susah payah, aku mengeluarkan anak kucing tersebut, mengembalikannya semula ke kotak kardus di belakang rumah. Tapi, lagi-lagi malam harinya sang ibu kucing membawanya ke dalam rumah, melalui celah-celah udara yang terbuka (tempat gosok baju, memang di buat sedikit terbuka) Aku kesal bukan main. Dan puncaknya adalah tadi, ketika pagi-pagi lagi-lagi, aku menemukan segala kotorannya, aku memaksa lagi, mengeluarkan anak-anak kucing tersebut. Sayangnya, induk kucing, lagi-lagi memasukan anaknya kedalam rumah, melalui celah yang biasa. Berhasil di bawa masuk, aku kembali mengeluarkannya. kemudia, ia kembali membawa anaknya satu lagi, ketempat semula, melalui tempat biasa juga. Tapi, sayang, ia tak berhasil. Anaknya terjatuh, yah, jatuh. Aku melihat sendiri anaknya terpelanting dari ketinggian. Astagfirullah... Aku diliputi rasa bersalah. Aku dekati induk kucing, kelihatannya, ia setres, dan langsung mengejar anaknya. Aku juga buru-buru keluar, melihat nasib anak kucing. Anak kucing tergeltak lesu. Napasnya tersengal-sengal, turun naik. Ada cairan yang keluar dari tubuhnya (aku rasa, sang anak kucing sampai terkencing-kencing saking takutnya). Karena dibatasi tembok tetangga, aku tak bisa mengambil anaknya. Seperti orang yang nggak waras, aku justeru memarahi induk kucing. Tapi, emak kucing tuh sayang banget sama anaknya. Lagi-lagi, dia membawanya naik keatas. Dan, sang anak kucing, lagi-lagi terjatuh. Masya Allah... begitu sayangnya induk kucing kepada anaknya. Aku kira, dia takut anaknya diambil lagi. Karena, merasa tak selamat ketika berada di belakang rumah. Lagi-lagi, aku mengeluarkannya. Memasukannya kedalam kotak kardus, menyelimutinya dengan kain yang sudah tak terpakai. Aku lihat, sang anak kucing masih menggigil tapi, ia sudah tertidur. Aku kira, sang induk tidak akan membawanya lagi kedalam rumah. Rupanya, perkiraanku salah. Sekembalinya aku dari kondangan tadi, aku buru-buru ke belakang rumah, melihat keadaan anak kucing. Rupanya, sang induk kucing kembali membawa anak-anaknya ke dalam rumah. Meletakannya di bawah almari yang sudah tak terpakai lagi. Pagi tadi, aku memang benci bukan main. Tapi, melihat gelagatnya, melihat caranya menyayangi anak-anaknya. Ada sedikit sentilan di hati kecil, "terkadang, naluri binatangmu lebih lembut berbanding manusia..." Subhanallah... Jadi terfikir, jadi tertanya-tanya "Sejak semakin banyak ditemukan bayi yang terbuang kini, semakin banyak pula, orang tua yang dibuang oleh anaknya. Innalillahi... Dunia tibalik, atau pemikiran manusia yang terbalik...??? Wallahu'alam."
Kayaknya, beberapa hari ini bener-bener lagi ketimpuk tag buku mulu yah...??? Kalau kemarin sama mbak Fanda nah, kemarin sore, aku kena tag lagi, sama Mbak Sita, penangggung jawab, Klub Buku Asma Nadia Jakarta. Meskipun di facebook kena tagnya, aku terpaksa, mengangkutnya ke blog. Toh, postingan ini, lanjut ke facebook kok :) Lagian, sewaktu kena tag kemarin, ada beberapa yang berharap, seru nih "kenapa aku gak di tag Naz...???, Jadi, banyak yang ngarep khan...??? makanya, aku tag aja lagi, ke yang mau :)
Make a list of books that make you cry. Don't think too hard. Choose books that you'll be able to remember (10, 15, 25, or more, up to you :D). Tag friends (how many, up to you too ;), but don't forget, tag me. I am curious to know what books my friends chose. Keknya, aku mudah menangis deh jadi, kalau suruh nulis yang buku apa aja yang bikin mewek, yah seneng banget ngingetnya.
  1. Serenade Biru Dinda, Asma Nadia. Bikin aku sesenggukan di pojok kelas :((
  2. Derai Sunyi, Asma NAdia. Kisah tentang seorang pembantu, yang mati dianiaya majikannya. Settingnya, bukan di luar negeri tapi, di Indonesia. Menjelaskan dan menggambarkan bahwa, ada ketikanya, persoalan, "Di mana kita bekerja, itu tidak penting tapi, dengan siapa kita bekerja, itu lebih penting."
  3. Emak Ingin Naik Haji, Asma Nadia. Aku dah pernah khan, review bukunya. Meskipun, sewaktu mbak Asma baca review tersebut, bilang "lain kali, jangan spoile yah...??" :D
  4. Hafalan Shalat Delissa, tere Liye. Kisah tentang seorang gadis kecil. Yang menghapal, bacaan shalat. Demi seuntai kalung berinisial huruf D. Sayangnya, ketika hari H hafalan, tsunami besar melanda daerahnya. Pokoknya, aku banyak berurai air mata deh baca buku ini.
  5. Bidadari-Bidadari Surga, tere Liye. Ceritanya, pegimane ye...??? kisah pengorbanan seorang kaka, yang buruk rupa, tidak seperti adik-adiknya. Ia merelakan tidak sekolah, demi membantu sang ibu untuk terus membiayai adik-adiknya bersekolah. Yang bikin aku sedih, adalah ketegaran hidup sang kaka tersebut.
  6. Galaksi Kinanthi, Tasaro GK. Ini lho, buku yang bikin aku nangis di gerbong kereta api. Nggak malu-malu, padahal banyak orang :D. Kisah perjalanan seorang TKW, yang mengalami banyak penderitaan bahkan, ia di jual oleh sindiket penjualan manusia.
  7. Ombak Rindu. Lupa penulisnya. Penulisnya orang Malaysia.
  8. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, HAMKA. mengisahkan tentang persoalan adat Minangkabau dan kekayaan yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih, Zainudin dan Hayati. Konfliknya khan berakhir tragis, disaat Zainudin berfikir tak bisa hidup tanpa Hayati, rupanya, kapal Van Der Wijk yang Hayati naiki justeru mengalami kecelakaan. Ada yang bilang, novel ini meniru Mustafa Lutfi El Manfaluthi, MAGDALENA. Tapi, setelah aku ubek-ubek buku tersbeut dan membacanya, sepertinya enggak deh.
  9. Di Bawah Lindungan Ka'bah. Novel paling tipis, yang pernah aku baca. Hanya memerlukan beberapa jam saja (bahkan tak sampai) tapi, selama itulah aku menangis, tak henti-henti (:D)
  10. Laskar Pelangi, Andrea Hirata. Pas adegan, Lintang kesekolah nganterin surat. Itu yang bikin aku nyengeng :D
  11. Maryamah Karpov, Andrea Hirata. Kenapa yah, cinta nya nggak bersatu sama Aling...??? Itu yang bikin aku guling-guling kayak trenggiling.
  12. Sheila, Torey Hyden. Cerita detailnya lupa tapi, bikin aku sesenggukan deh :((
Beu... pengantarnya, bahasa inggris lagi, aye mah, paksa-paksain aje untuk tahu. Soale, secara harpiah, bahasa inggris aye memang dodol banget. Bukan hanya dodol tapi, ancur-ancuran. Ok, back to tag, orang yang kena tag balik adalah... Siap-siap yah...??? . Cici_Silent, Buwel, Mbak Fanda, Mbak Elly (kalau gak berkenan gak usah gpp mbak :), Mbak Senja. Terus, untuk sahabat-sahabat facebook, Mariatul Qibtiyah, Farida Ariani Mislan, Lia Amelia, Dwina Febriyanti, Ivonie Zahra, Khairul Jannah, Zahra Latifa, mbak Tisti biar posting di FB gak pa-pamak, aku dah kangen tulisan mbak :), Muna Ray dan, para suhu bertuah, yaitu, bang Atta (yang suka nangis kalau baca Candy-Candy *ngarang deh...*) sama Bang Fiko (Bang, Uda Melvi, juga kena tag lho, sama Mbak Sita). Buku apa seh, yang bikinj mereka meweks...??? :)Itu aja kali yah dulu...??? Ngerjainnya, boleh diblog, boleh juga di facebook. bebas aja ko :)
Dan, karena beberapa hari ini posting berhubungan dengan buku juga, ada beberapa yang mengajak diskusi tentang buku, akhirnya membangunkan semangat KBO (Klub Buku Online) untuk kembali dibuka. Insya Allah, sesegera mungkin. Infonya menyusul setelah ini. Nanti, aku ngerumpi dulu sama bu Mods :) , ide barunya bu Mods, juga keren banget. Nanti, malam kita ngeggossip yah mbak..?? :)
Keinginan, adalah yang paling banyak terucap dalam hidupku. Dulu, ketika tak mampu untuk membeli buku, aku sampai membuat list beberapa para penulis, untuk aku ikuti bekerja. Helvi Tiana Rosa, Gola Gong, Asma Nadia dan beberapa penulis kenamaan lainnya. Sumpe!, aku pengen sekali bekerja di rumah mereka alasannya, sederhana aja. Aku pengen baca buku, gratisan. Biar nggak usah beli, biar aku tetap bekerja. Tapi, adakalanya, ketika keinginan itu menjadi nyata, kemauan terlupa sudah. Di Malaysia, majikanku betul-betul seorang penulis. Meskipun, bukan penulis genre fiksi. Dan, ketika aku baru datang, aku ditempatkan, disebuah bilik buku, subhanallah... Tapi, yah itu tadi, ketika berucap senang tapi, tidak ketika menjadi kenyataan. Semangat membacaku, bukannya bertambah tapi, malah menurun. Dengan alasan, sibuk! klise banget khan...???!!
Nah, kena tag mbak Fanda, bikin aku melek lagi. Bikin aku merenung lagi. Aku, nggak jauh beda sama mbak Elly. Bedanya, mbak Elly penuh dengan prinsip. Nggak kayak saya, yang kadang mikir sendiri, "kenapa yah, aku jadi males baca?" Meskipun nggak sepenuhnya males. Nah misalnya, aku beli buku dah beberapa tahun dulu tapi, belum habis terbaca juga. Padahal, nggak tebel-tebel amat. Tapi, anehnya, kadang aku hanya menghabiskan waktu yang tak sampai seminggu, untuk menghabiskan tetralogi Laskar pelangi keempat-empatnya. Nah, tag dari mbak Fanda ini, suruh menyebutkan, buku apa yang paling berkesan buatku. Sebenarnya banyak, sayangnya, aku dah banyak yang lupa. Karena, kebanyakan buku beberapa tahun dulu telah aku baca. Atau, buku-buku jaman SDku dulu, khan susah banget tuh ngingetinnya. Jadi, maaf yah mbak, kalau ada beberapa buku yang kusebut tapi, nggak menyebutkan penulis dan judulnya.
  1. Laskar Pelangi, Andrea Hirata. Buku yang memacu semangat aku, untuk terus bermimpi. Sosok Linta, yang hanya imajinasi semata, ia menggambarkan, betapa cerdik dan bijak penulisnya. Kalimat dan kata, yang mengalun dengan seksama membuatku terkadang lena dalam asmara kata. Juga, memacu aku, untuk terus semangat memupuk mimpi (semoga bukan hanya mimpi)
  2. Seteguh Tekad, Sidek Baba. Kalau dalam Laskar pelangi, Lintang adalah tokoh imajinasi, lain lagi dengan buku memoar ini. Kisah tentang perjuangan dan pengorbanan seorang remaja, untuk menunaikan mimpi. Kalau Lintang, sering dihadang buaya ketika menuju sekolah, Cik Gu Sidek, sering bertemu dengan harimau saat hendak ke sekolah. Memacu motivasi.
  3. Tersungkur di Pintu Syurga, Zabidi Mohamed. Ini juga tentang memoar. memoar perjalanan seorang bui, yang terlibat dengan jema'ah al'arqam yang diharamkan, kerajaan Malaysia pada tahun 1994 lalu. Melalui buku ini juga, penulis mengisahkan tentang kisahnya keluar dari jama'ah tersebut. Tentunya, buku ini dan yang tadi adalah penulisnya orang Malaysia. Di sini, kita bisa mengetahui, gimana sih, orang-orang yang ada di penjara.
  4. Membaca AM Fatwa. kalau yang tadi, tentang kisah para narapidana di Malaysia, nah buku ini menceritakan tentang liku-liku perjuangan seorang Andi Mapetahang Fatwa. Seru banget bacanya.
  5. Atas Nama Cinta, Isa Kamari. Sastera epik sejarah, yang membuatku terkagum-kagum pada diksi penggunaan katanya. penulisnya orang Singapura. mengambil latar, 3 negara. Indonesia, Malaysia dan Singapura. Dan, kisah yang diusung, adalah kisah nyata. tentang nasib Nadia, seorang gadis, anak keturunan Belanda yang dibsearkan oleh seorang Melayu. Betul-betul pertembungan budaya yang sarat konflik. Tak hanya budaya, bahkan juga agama.
  6. Membina Imajinasi Cemerlang, HM. Tuah. Sebuah buku motivasi, yang mengajarkan kita tak hanya berangan. Tapi, mengajarkan kita, bagaiman mengajarkan berimajinasi. Karena imajinasi itu, berbeda, dengan angan-angan.
  7. Don't Be Sad, Abdullah Al-Qarni. Buku motivasi juga. Penyemangat hidup, juga penyuluh amalan, untuk mensyukuri segala kehidupan.
  8. Ensiklopedi Wanita Muslimah. Sudah lupa nama penulisnya. Tapi, buku ini, banyak membawa perubahan dalam diri, ketika baru mengenali agama islam, secara lebih dalam.
  9. Tuhan Dalan DNA Kita, Kazuo Murakami. Baca buku ini, nggak bisa nggambarin dengan kata-kata. Subhanallah... sungguh luar biasa kuasa Allah.
  10. Menjadi Individu Menarik, Dr. fadilah Kamsah. menjadi cantik, itu bukan karena ollay, atau tottal efects (bener gak yah nulisnya...???) kecantikan itu, terlahir dari hati yang suci. lebih kurang githu deh... (dah lupa nih penjabaran panjang lebarnya)
  11. Nak Ke Tak Nak, HM. Tuah. Motivasi yang membangkitkan suis-suis yang telah mati dalam neuron-neuorn otak kita. Juga, mengajarkan, bagaimana hendak menggunakan arus alpha.
  12. Sebuah buku dongeng, lupa judulnya. Tapi, cukup membuatku menangis berhari-hari ketika kecil. Menggambarkan kehidupan hutan, dengan sang monyet adalah rajanya. Tidak harimau seperti kebiasaannya. Aku menangis, ketika musim kemarau tiba, sang raja hutan, terpaksa meninggalkan sarangnya, untuk mencari sumber air diwilayah lainnya. suediihhhh...
  13. Novel, lupa juga judulnya. Tapi, aku ingat membacanya berulang-ulang kali. Kisah tentang lima sekawan, yang mampu memecahkan sebuah pencurian lukisan. Ini juga buku yang dibaca saat aku masih SD
  14. Lagi, lagi, tentang novel, yang aku sendiri lupa judulnya. terbitan Balai Pustaka. Menceritakan, tentang kehidupan nelayan, kemiskinan tapi, sang penulis mengemasnya dengan ketegaran hidup.
  15. Jilbab Traveler, Asma Nadia dan kawan-kawan. membuatku terus bermimpu, untuk terus mengelilingi dunia (dalam hati mah, aku mengelilingi Indonesia saja, sudah cukup) :). Sepertinya, ini yang nyangkut dikepalaku saat menuliskan. Kali ini, mau aku tag kesapa yah...??? Mbak Ajeng, sama mas Nuansa pena, Reni Judanto boleh gak..??? :)
Masih meneruskan beberapa kisah, kisah tentang perjalanan. Meskipun terkadang masih tersendat-sendat. Ini dikarenakan, otaknya sedang bercampur-campur dengan polutan baik. Setiap ada ide, pengen langsung ditulis maka, terbengkalailah, sebuah tulisan tentang perjalanan. Ok, kita kembali kepada perjalanan bulan lalu. Ini masih di Bukittinggi, tepat tanggal 25 Desember 2009 setelah hari sebelumnya aku bertemu dengan Nita hari jum'at, adalah saatnya berbelanja (padahal mah, belanjanya gak banyak, cuma beberapa helai baju doank. Soalnya, malah lebih banyak titipan hehehehe...)
Ke pasar Aur Kuning, bareng Etek Yurti, kalau nggak dengan beliau, wah, bakalan sesat n gak tahu jalan pulang. Sebenernya, gak begitu penting-penting banget sih, soal shopping di sharing. Soalnya, sederhana banget, "Takut pada pengen" hhihi.. narsis deh aye. Lah, gimana nggak pengen, coba kalau aku ceritain, gimana murah-murahnya baju, mukena, kerudung dall disana. Pokoke, Aur Kuning adalah pusat grosir bukittinggi. Makanya, gak heran kalau harganya tuh, miring banget. Dan, kalau mau lebih murah, belilah, dalam jumlah yang banyak. (jangan ditiru, iklan menyesatkan ini, pembadziran itu, khan temennya setan). Ok, back to shopping. Sekali lagi, gak ada yang penting-penting banget sharing tentang shopping, selain menghabis-habiskan duit juga, menghabiskan tenaga. Dan ini, yang paling aku nggak suka (padahal mah, kalau banyak duit seharian juga mau :D). Ke pasar, aku nggak bawa kamera, nyesel banget sih. Tadinya, mikir takut ujan, gak tahunya pas sampai dipasar, terang benderang. Bahkan, siap panas :). Mengelilingi pasar, meskipun nggak semua. Aku lebih banyak membeli mukena pesenan tetangga. Cukup sebel, karena mesennya banyak banget Bahkan, aku nggak menghabiskan uangnya, soale takut overweight tasku. Aku juga sempet membeli mukena untuk Kakak dan Mamaku. Meskipun, sharing shopping tidak begitu penting tapi, rasanya ada yang istimewa ketika di Aur Kuning. Ketika aku ingin membeli sebuah daster batik untuk Mama dan Kakaku, Etek Yurti membawanya aku kepada langganannya. Mereka tawar menawar, kalau sih, diam aja. Wong gak bisa ngomong minang. Tapi, sedikit-sedikit boleh paham juga sih.. :) Nah, ternyata oh ternyata, saat tawar menawar itu, Etek Yurti bilang, kalau aku ingin membelikan daster itu, untuk Ibuku. Entah gimana ceritanya, penjual itu, ko malah nanya (aku nggak tahu, sapa yang nanya apa siapa yang memberi tahu) Tapi, kesimpulannya, pedagang itu, memberikan harga murah kepadaku, dengan alasan, aku adalah anak yatim. Sumpah! aku terkejut. Seumur-umur, aku tidak pernah menggunakan status keyatiman aku, untuk sebuah tawar menawar harga (keculai, kalau minta traktiran ama temen, aku akan selalu bilang "Bayarin gue donk, gue khan anak yatim...???" Dan pasti cuma dapet balesan, "Anak yatim pale loe, loe khan dah besar, bukan yatim lagi" Kasarnya githu) Tapi ini, lain sahabat. penjual itu, mau memberikan harga murah, karena aku anak yatim! yah, itu alasannya. Subhanallah... Etek Yurti terkekeh. Lain dengan aku, ada ketidak enakan hati. Ko murah hati banget penjual itu. Sungguh, aku jarang sekali menemukan fenomena seperti ini. Sampai-sampai, aku berjanji didalam hati, kalau sewaktu-waktu, aku kembali lagi ke Bukittinggi, aku akan mengunjungi toko itu lagi. (Semoga Allah memudahkan rizki pedagang tersebut...) Dan, ketika beberapa waktu lalu aku menelpon ibuku, aku nanya dasternya muat apa enggak. Dan, jawaban Ibuku, cukup membuatku tersenyum haru dan gembira. "Ma, dasternya muat?." Tanyaku "Alhamdulilah mbak, muat. Mama pake untuk sembayang. Mama suka banget pake daster itu." Mendengarnya, sungguh aku terharu. Sahabat, tahukah berapa harga daster itu...??? Ah, harganya murah sekali, sangat murah, hanya Rp.20.000. Tapi, ibuku berkata dengan penuh gembira dan sumringahnya. Aku jadi teringat dengan kebaikan penjual tersebut, dengan kemurahan hatinya, ia memberiku harga murah. Sementara, dengan bangganya ibuku pun menyukainya. Subhanallah... Inikah keberkahan perniagaan...??Aku yakin, tidak banyak jiwa murah hati seperti pedagang daster tadi.
Baru saja, aku singgah di blognya Pak Kabasaran Soultan, yang menceritakan tentang anak bungsunya, Purnama. Membaca, diksi demi diksi kata disitu, sesekali aku terharu, mengharu biru. Ada kecemburuan pada sosok Purnama, yang bisa begitu manja kepada Ayahnya. Tertanya-tanya, kapankah aku terakhir kali bermanja-manja dengan Ayahku...??? Sepertinya, aku sudah lupa.
"Ana, besok Bapak pulang." Ujar suara talian diseberang. "Injih Pak.." Setelah beberapa sapaan bertanya khabar, kami berbicara, ringkas saja. Bapak, hanya mengabarkan, hari senin akan pulang. Aku ingat, ketika itu hari minggu. Aku yang sedang asyik bermain ikan dikolam depan rumah Om Christ, menghentikan aktifitas sesaat. Sudah cukup lama juga, Bapak tidak pulang ke Cilegon. Sementara, bapak di Pamulang. Aku memang selalu berjauhan dengan orang tuaku. Tibalah harinya senin, ketika aku masih sekolah di Serang saat itu. Aku menanti-nanti kepulanganku. Karena Bapak berjanji, akan pulang hari itu. Sayang sekali, senin, adalah jadwal terpadat di kelas saat itu. Bimbel Matematika, juga ada ekskul Merpati Putih. Jadilah, kepulanganku saat senja, hampir terbenam. Siang nya, hari begitu terik. Entahlah, hanya aku yang merasa atau semuanya. Bahkan, aku sempat menumpang mandi, di kosan salah seorang teman. Sampai di rumah, hari sudah merayap malam. Tapi, bapakku belum sampai juga. Ada sedikit kekhawatiran. Entah apa yang aku buat, akupun sudah lupa... Saat hari mendekati tengah malam, tiba-tiba ada telepone, mengabarkan kalau Bapak kecelakaan. Dan aku beserta adik-adikku di suruh segera menuju Pamulang, malam itu juga. Saking penasarannya, aku menanyakan keadaan bapak. Tapi, sang penelpon tetap keukeuh, bilang bahwa secepat mungkin aku harus ke Pamulang. Jam sebelas malam, sunyi mulai terasa. Aku dan kakakku, kehilangan ide. Setelah menelpon kesana kemari, akhirnya, diambil keputusan, aku ke Pamulang beserta dua adik dan budeku. Sementara, kakakku, menyusul bersama suaminya malam itu juga. Hampir jam dua belas malam, aku, kedua adikku dan Budekku menunggu bis jurusan Kalideres, di Simpang Tiga Cilegon. Sepi sekali, hanya ada beberapa tukang becak dan lalu lalang kendaraan sesekali. Semenjak mendapat telpon tadi, sebetulnya, hatiku sudah menangis. Menangis, takut dengan keadaan bapakku. Menangis, jangan-jangan, bapakku sudah pergi untuk selamanya. Jadi sepanjang jalan, antara Cilegon-Kalideres air mataku tak henti-henti berderai. Meskipun sesekali hanya isaknya saja. Budekku, membiarkan saja aku demikian. Sesekali, ia mengelu-elus badanku. Sementara kedua adikku, hanya diam membisu. Mereka masih terlalu kecil, untuk memahami sebuah musibah. Hatiku masih menangis, segala doa dan harap ku ucap dalam hati. Ya Allah, andaikan bapakku Kau ambil, maka, berilah hamba keikhlasan untuk menerimanya. Segala harap, kusimpan erat. Segala perkara buruk, kusiapkan bulat-bulat. Bapakku, sosok sederhana yang aku sendiri tak begitu dekat dengannya ketika hidup. Aku dekat dengan bapakku, hanya beberapa waktu ini, tepatnya belum begitu lama. Selama ini, aku, kakakku, ibarat air dengan minyak dengan bapak. Berpisah semenjak kecil, menimbulkan jarak yang begitu jauh buat kami (aku dan kakakku). Sementara kedua adikku, mereka semenjak kecil bersama dengan kedua orang tuaku di rantau. Pernah saat itu, bapak marah-marah denganku karena, aku tidak meneruskan sekolah. Aku justeru bekerja di Tangerang. Aku dan bapakku kembali "perang dingin" Pernah sekali ketika bapakku pulang beberapa hari ke Jawa, sama sekali aku tidak mau bersalaman dengannya :(( :(( :(( Tak hanya sekali aku dan kakakku berbeda argumen dengan bapak. "Perang" diantara kami semakin berlarut-larut. Mengingatnya semua, aku semakin sedih. Bahkan, sempat aku dan kakakku berucap, "Nanti kalau bapak dah tua, juga nyari kita, menyusahkan hidup kita." Lebih kurang seperti itu. Semakin mengingat, semakin deras air mata mengalir. Dan, disaat kedekatanku dengan bapak mulai nampak, kenapa justeru aku mendapat khabar tentang kecelakaan itu...??? Ya Allah, sekali lagi, kalau bapakku pergi, maka berilah keikhlasan pada kami anak-anaknya juga aku yang selalu berperang, saat sehatnya. Innalillahi... Ampuni aku ya Allah... Sampai di Kalideres, sudah melewati tengah malam. Kami mencari kendaraan menuju Muncul dari situ, baru kamu mencari angkutan lagi menuju Pamulang 2. Sampai di depan perumahan Pamulang 2, kita naik becak. Ah, betapa luluhnya hati ini. Mendekati gang rumah yang kami tuju, terpacak sebuah bendera kuning. Yah, bendera kuning. Itu artinya, sebuah bendera kematian. Lagi-lagi, aku menangis. teka-tekiku terjawab sudah. "Bapakku, telah pergi..." Bude memegang erat tanganku, mungkin untuk menyejukkan hati. Semakin mendekat ke rumah yang aku tuju, ramai orang berkerumun. Aku cepat-cepat mencari ibukku. Dan, apa yang aku khawatirkan memang betul. Ibuku sedang menangis, merintih juga sesekali meraung. Bahkan, terlihat lebih histeris ketika bertemu dengan kami (anak-anaknya dan juga Bude, kakanya sendiri) Ibuku lunglai di pelukan bude. Sementara aku, aku hanya tergugu pilu. Ya Allah, ternyata engkau betul-betul telah mengambil bapakku. Tak lama setelah itu, kakak sepupuku datang dari Jakarta. Ia memelukku erat, aku terisak di pundaknya. Aku belum melihat jenazah bapakku. Setelah reda tangis kami. Akhirnya aku, kedua adikku, Bude dan kaka sepupu menuju jenazah bapak. Innalillahi.. Lelaki yang menelponku kemarin, yang mengabarkan hari itu pulang ternyata, ia pulang kembali kepada-Nya. Seluruh badannya, dingin dan beku. Pias, seolah tiada setetes darah lagi di tubuhnya. Aka menekuri satu persatu wajah bapakku. Satu persatu, ku pegang dahi dan pipinya. Sejuk sekali. Dan, ada sisa-sisa airmata di kedua pelupuk matanya. Aku mengusapnya dengan penuh cinta, cinta yang tak akan lagi terkata dan, sampai kapan pun, bapak tak akan mendengarnya. Ah, Bapak, apakah bapak berat meninggalkan kami?. Tangisku sekali lagi pecah tercurah-curah. Ya Allah... Ampuni bapakku juga aku sebagai anaknya. " Wahai Tuhanku, kasihihlah mereka keduanya, sebagai mana mereka telah mendidik aku waktu kecil." (QS, Al-Israa:24) Tiap-tiap jiwa, akan merasakan mati. Maka hanya kepada Kami (Allah).kamu dikembalikan. QS. Al-Ankabut:57)
Tadi malam, seorang gadis, mengejar-ngejarku di dunia maya (fiuh.. kek gimana yah dikejar-kejar di dunia maya...???) :D hehehehe.. Rupanya, ternyata oh ternyata, dia ngefans ama aku. Eh, salah nding. Lebih tepatnya, dia mau curhat githu. Gadis manis nan imut tapi, terkadang sering amit-amit *kalau marah, aku pentung nanti anak itu* rupanya, dia mau curhat tentang buah hatinya di dunia maya. beuh... Segithunya. kek aku dokter cinta maya ajah (Bah, gak penting banget sih..)
Kalau secara intensitasnya, aku gak begitu sering ngobrol ama ni cewek. Tapi, tumben-tumbenan, malam tadi, dia bercerita kepadaku :) so sweet honey, pesanku, "Hati-hati menjaga rasa di dunia maya" takut terlena, nanti jadi lupa segala :). Minimalis, jangan sekarang mati-matian mabuk asmara eh, nanti mati-matian juga membunuh rasa *Jiah, Anaz mulai gak nyambung dueh...* Gak ada panjang-panjangnya posting kali ini. Tapi, pada intinya di dunia maya, adakalanya perasaan lebih mudah terbuka (ini untuk yang gak berhati2 lho). Bahkan, cenderung terbuka kepada "rasa" yang lebih. *tahu khan maksudnya...??? *itu lho, pirus merah jambu* Nah, untuk cewek yang curhat tadi, semoga lebih berhati-hati lagi. Jangan lagi, terpengaruhi, oleh "Buaya Maya" beu... kasare bahasamu Naz... (Emang ada khan "Buaya Maya") huehehehe.. ini posting dudul sepanjang zaman. Semoga untuk sang gadis tadi, "hati-hati menjaga hati dik, kadang kita lebih berat membawa hati, berbanding membawa benda berat lainnya." Wallahu'alam. Nyuri gambar, dari google :)
"Ma, kalau saya pulang tinggal nama, mohon ikhlaskan dan, ampuni segala dosa dan salah saya." Itulah kalimat terakhir, ketika aku mencium tangan Mamaku saat hendak berangkat ke Jakarta menuju proses untuk ke Malaysia. Mamaku terlihat tegar. Meskipun aku yakin, hatinya sudah berinai air mata. Aku pun tak mau menangis di depan Mama, toh, kepergianku ke Malaysia, adalah kemahuanku sendiri. Bahkan, lebih tepatnya, aku "memaksa" meminta izin supaya Mama melepaskanku ke Malaysia. Itulah, sepenggal epiosde kehidupan bahwa, "HIDUP BERANI UNTUK GAGAL." Kasarnya, aku meletakan nyawa, ketika hendak pergi ke Malaysia. Apakah berlebihan...???
Kisah tragis dan penganiayaan tenaga kerja di Malaysia, tentunya, sangat lumrah sekali kita saksikan. Itulah, mengapa Mamaku berkeras, menahan kepergianku ke negeri jiran tersebut. Tapi, dengan segala upaya, aku bahkan cenderung memaksakan kehendak kepada Mamaku. Sampaikan terucap, "Nanti Mama yah, yang penuhi segala kebutuhanku" Ah, betapa kejamnya aku. Ibuku yang hanya seorang pekerja serabutan, mungkin teriris hatinya mendengar kalimatku. Akhirnya, dengan segala pertimbangan dan "terror paksaan" aku mendapat juga izin restu dari sang Mama, untuk merantau ke tanah Malaysia sebagai TKW (Tenaga Kerja Wanita). HIDUP BERANI UNTUK GAGAL, ku mulai di tanah Melayu, sebagai seorang pembantu. Meskipun sebelumnya, jabatanku juga nggak jauh beda :) Segala proses keberangkatan diuruskan. Dan, alhamdulilah, tidak memakan waktu lama. Kata Pak Agen yang mengantarku, akulah yang paling cepat keberangkatannya. Alhamdulilah... Segala puji bagi Allah, tentunya, ini berkat doa dari Mamak. Selama beberapa minggu, aku tinggal di Jakarta. Menunggu hasil visa kerja turun dari kedutaan Malaysia di Kuningan Jakarta. Dan, beberapa hari sebelum keberangkatan, aku juga sempat menginap di Kedutaan Malaysia tersebut. Sempat juga, aku bertemu dengan majikanku, yang kebetulan saat itu ada kerja di kedutaan Malaysia di Jakarta. Lagi-lagi, HIDUP BERANI UNTUK GAGAL. Tidak sampai sebulan, aku diberangkatkan ke Malaysia. Aku mulai membatin, inilah awal pejalanan ke tanah Malaysia, sebagai seorang tenaga kerja. Tatkala kecil, aku sering berdialog dengan kawan-kawan dengan pertanyaan yang agak lucu tentunya, "Eh, kalau kamu naik pesawat, kamu mau kemana...???" Ujar kami saling melempar pertanyaan. Saat itu, kami sama-sama berada di atas pohon cengkih. Karena kami sama-sama ditinggal orang tua merantau, jawabannya pun tak jauh beda. "Mau menyusul Bapak sama Mama ke Jakarta" ujar temanku dan aku, "Mau menyusul Mama dan Bapak ke Banten." Kadang, impian anak kecil begitu polos. Sangat berbeda dengan kenyataan orang dewasa. Kalau saat itu, aku ingin naik pesawat mengunjungi orang tuaku di Banten, nyatanya pada 6 Januari 2006 ketika untuk pertama kalinya aku menaiki pesawat menuju Malaysia, justeru aku harus meninggalkan Mamaki. Sementara Bapakku, sudah tenang di alam sana. "Ma, ampuni anakmu, HIDUP BERANI UNTUK GAGAL, Mak. Mohon ikhlaskan kepergianku." Dan, kini empat tahun berlalu. Terkadang, bekerja di luar negeri, ibarat menghitung nasib. Kalau beruntung, menjumpai majikan yang baik. Tak sedikit pula, bertemu dengan majikan yang tak baik, ataupun sebaliknya, majikan yang baik, mendapat pembantu yang tak baik. Keberadaanku di Malaysia Alhamdulilah, baik-baik saja. tentunya, berkat doamu Mama... Kalau ada beberapa orang yang berkata, "Ana, kamu adalah seribu satu, pembantu yang beruntung di Malaysia." Aku membenarkan kalimat itu. Dan itu, sekali lagi tak lepas dari do'a siang malammu Ma... Di mana engkau selalu menahan tangis, ketika lama tak mendengar suaraku. Dimana kadang engkau menyimpan rindu tatkala aku tak memberi kabar padamu. "Ma, kini aku baik-baik saja di tanah Malaysia. Di sini juga, aku banyak menemukan ragam dan arti kehidupan. Sungguh, bahwa HIDUP BERANI UNTUK GAGAL." Aku bernasib baik, menjumpai majikan yang baik. Alhamdulilah ya Allah, dari Engkaulah datangnya kebaikan. Dan segala buruk, adalah sifatku, sebagai manusia yang lemah. Di tulis untuk mengikuti kontes HIDUP BERANI UNTUK GAGAL. Terimakasih kepada sahabat Denaihati blogger Malaysia, atas "paksaanya" untuk aku mengikuti kontes ini. menang atau kalah, yang penting aku sudah mengalahkan kemalasanku mengikuti kontes. Apakah aku kontestan pertama dari Inonesia...??? :) (semoga iya, soalnya, dapet hadiah lumayan) *ngarep banget* sedikit mengambil info kontes HIDUP BERANI UNTUK GAGAL Kalau melihat syarat-syaratnya, keknya aye jauh banget dari kategori menang, but ini kontes, ada menang dan kalah. Ok! Ayuuukkkk... Sapa mau ikutan lagi, jangan lupa, yang mau ikutan, kasih tahu, dari mana dapet infonya, dan link langsung yah...?? :) *link Anazkia maksudnya :)* Update Contest 1. Keyword yang sah untuk ranking di google adalah “HIDUP BERANI UNTUK GAGAL” BUKAN “Hidup Berani Untuk Gagal” atau “hidup berani untu gagal”. 2. Setelah dianalisa semua penyertaan yang ada maka diumumkan bahawa HADIAH untuk pemenang akan diubahsuai. 2.1. Blog yang tersenarai di sesawang pencarian google.com/ncr menggunakan page the web berdasarkan browser FireFox dengan kata kunci “HIDUP BERANI UNTUK GAGAL” pada ranking 1 - 5 akan memenangi hadiah bernilai RM400. 2.2. Blog yang tersenarai di sesawang pencarian google.com.my menggunakan pages from Malaysia berdasarkan browser FireFox dengan kata kunci “HIDUP BERANI UNTUK GAGAL” pada ranking 1 - 5 akan memenangi hadiah bernilai RM400. Blog yang telah menang hadiah untung ranking 1-5 google.com/ncr tidak layak untuk menang. 3. Hadiah untuk referral kekal RM10 untuk setiap referral. Senarai referral @ Referral. 4. Hadiah bernilai RM50 untuk setiap entri terbaik. Admin akan pilih 10 entri terbaik daripada semua penyertaan. Undian akan dibuat oleh pelawat DENAIHATI untuk memilih 5 diantara 10 yang tersenarai. 5. Tarikh tutup penyertaan Contest HIDUP BERANI UNTUK GAGAL telah ditetapkan pada jam 20.20 pm pada 20.01.2010. Peserta diberi masa sehingga 11.59 pm pada 27.01.2010 untuk menukar link entri dengan entri terbaik bagi didaftar untuk contest entri terbaik. 6. Undian 5 entri terbaik akan dibuat dari 28.01.2010 sehingga 11.59 pm 03.02.2010. 7. Ranking 1-5 yang tersenarai di google.com/ncr dan google.com.my akan ditentukan juga pada 11.59 pm 03.02.2010. 8. Pemenang untuk semua HADIAH akan diumumkan 1 minggu selepas 03.02.2010. 9. Blog yang tersenarai sebagai pemenang tetapi tidak mengikut syarat-syarat contest yang telah ditetapkan tidak layak untuk menang hadiah. Contest ini berjaya dianjurkan atas sokongan sponsor yang sentiasa bermurah hati iaitu DSGClicks, Berani Gagal Network, One Malaysia Blogshops, Anisha Online Mall dan Saudacare. Boleh bertanya terus melalui ruang komen, twitter @Denaihati, facebook @Denaihati atau tinggalkan pesan di contact. Jangan lupa untuk lawat blog ini untuk melihat update terbaru. “HIDUP MESTI BERANI UNTUK GAGAL UNTUK KEJAYAAN YANG LEBIH CEMERLANG PADA TAHUN 2010″.
Hari rabu, sebelum aku berangkat ke Lobang Jepang, Nitha seorang sahabat blogger dari Medan, mengirim sms untukku. Dari Wina, ia memperolehi nomorku. Katanya, ia sedang berada di Payakumbuh bersama suaminya. Dan hari kamis, Nita akan berkunjung ke Bukittinggi. Sungguh di luar dugaan, Nita yang jauh-jauh berada di Medan, rupanya ada di Payakumbuh dan aku, ada kesempatan untuk bertemu dengannya. Sedangkan dengan Mbak Elly, yang sudah aku rencanakan jauh-jauh hari, batal untuk bertemu. Manusia, memang hanya mampu berencana dan, Allahlah pemilik sebaik-baik rencana. Aku belum bisa bertemu dengan mbak Elly tapi, aku justeru ditemukan dengan Nitha, sang pemilik lubunghati.
Kamis, sejak pagi, aku setia menanti khabar dari Nitha. Tidak meletak jauh-jauh hape(padahal hape orang :D) takut, sewaktu-waktu Nita sms atau telphone, aku tidak mendengarnya. Akhirnya, setelah beberapa kali sms dan telephone aku bersiap-siap menuju ke Jam Gadang. Disitulah, aku dan Nita membuat janji bertemu. Sebetulnya, ketika keluar hari rabu dengan Romi, aku sudah mengunjungi Jam Gadang dan Kebun Binatang. Tapi, kali ini aku pergi seorang diri. Lagi-lagi, Etek Yurti selalu mengkhawatirkan kepergianku. Berulangkali, aku harus meyakinkannya, kalau aku Insya Allah akan baik-baik saja (model Ratu bangets...) Sampai di Jam Gadang, baru pukul 11. Menghalau kebosanan, aku berjalan kesana kemari, berulangkali mengambil foto Jam Gadang dari berbagai sisi tapi, hasilnya gagal. Kali ini, aku kecundang. Padahal, dulu aku bisa mengambil gambar menara petronas lengkap, dari atas kebawah. Jam Gadang, tidak begitu tinggi, hanya 30 meter, kata A Fuadi, epnulis Negeri 5 Menara. Kata A Fuadi juga, dulu orang umum diperbolehkan masuk kedalamnya menaiki menara setinggi 30 meter tersebut. Tapi, sekarang tidak boleh. Menurut sejarah, Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazid Sutan Gigi Ameh. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, Controleur (Sekretaris Kota) Bukittinggi pada masa Pemerintahan Hindia Belanda dulu. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun (sumber, wikipedia Indonesia) Dinamakan Jam Gadang, karena jam tuh "gadang" dalam artian besar. menurut bahasa Minagkabau. kembali kepenantianku terhadap Nita, lelah menyusuri area jam gadang, aku berusaha mencari warnet, sayangnya, tidak ketemu. Aku malah masuk kesebuah mall yang bersebelahan dengan Jam Gadang, Ramayana. Berharap, disitu aku bisa membeli buku. Sayangnya, sampai saja di dalam, rupanya, di Mall tersebut, tidak ada toko bukunya. Mengeluh kesal, mall sebegitu besar, kenapa tidak menyediakan toko buku? Apa minat membaca di Bukittinggi sangat rendah? Selalunya, banyak tidaknya toko buku, ditentukan oleh banyak tidaknya statistik pembaca dan pembeli. Wallahu'alam. Semoga, saat aku kembali kesana, sudah ada toko buknya. Akhirnya, aku hanya duduk di bawah pohon, membaca sebuah majalah, yang aku beli saat di Padang. Sesekali, pengamenan jalanan menghampiri, mendendangkan suaranya. Juga, hilir mudik beberapa pengunjung, yang hendak melihat Jam Gadang. Semakin siang, semakin ramai. Nita, tak juga kunjung datang. Ternyata, ban mobil yang dinaiki beserta penumpang lainnya pecah. Saat adzan berkumandang, buru-buru aku mencari masjid. Lurus saja aku menyebrang dari jam gadang, melewati berderet-deret pelataran toko. Kalau masuk sebelah kanan jalan, itu adalah pasar atas. menjual berbagai kebutuhan juga barang-barang khas oleh-oleh Bukittinggi. Aku menuju masjid raya, entah apa namanya, aku lupa. Saat hendak mengambil air sembayang, Nita menanyakan keberadaanku. Masuk ke tempat wudhu, ada yang lain di sini, tidak seperti di tempat yang ku temui, temat wudhu di sibi, tidak menggunakan keran. Tapi, bangunan kolam berbentuk panjang dan lebar melingkari sekeliling. mangkuk-mangkuk plastik kecil, bertebaran di atasnya, sebagai pengganti gayung. Sebuah hal baru buatku. Aku mengambil wudhu, menggunakan mangkuk kecil itu dan, membayar Rp.1000 setelahnya. (terfikir juga, kenapa harus bayar yah...??? *kalau gak punya uang gimana...??*halah..). Masuk kedalam masjid, penuh dengan jama'ah. Subhanallah... Baru kali ini, shalat jama'ah di tempat umum penuh dengan para makmum. Kesejukan, terasa, perasaan juga sedikit hiba. Mungkin terharu, akupun tidak tahu. Alhamdulilah, aku mmebawa mukena sendiri jadi, gak harus ngantri, menunggu giliran mukena. Jama'ah lelakipun, terdengar penuh. Selesai shalat berjama'ah, aku dan jama'ah wanita lainnya, dikejutkan oleh rengekan seorang anak kecil. Yang terburu-buru mengejar sang ibu, yang belumpun melepas mukenanya. Menyedihkan, rupanya tas sang ibu telah digondol maling. Innalillahi... Denger-denger, anak kecil tersebut, menjaga tas sang ibu, ketika ibunya shalat. Tapi, telah raib dibawa sang maling. Innalillahi... ditengah banyak-banyaknya jama'ah, ada juga yang mencuri. Ketika ramai orang yang mengerumuni ibu-ibu tadi, bukan tak mungkin, sang pencuri masih disitu, jangan-jangan, malah sedang memperhatikan!. kehidupan, memang berpasang-pasangan. baik dan buruk, juga hitam dan malam... Selesai shalat, kembali menuju Jam Gadang. Nyoba foto sana sini, ambil dari berbagai sisi Jam Gadang, rupanya, tetap gagal total. Sepertinya, aku harus mundur lebih jauh, sayang sekali aku malas melakukannya. hasilnya, tiada satupun foto jam Gadang yang bagus, ku ambil. Aku betul-betul kalah. padahal, tingginya hanya 30 meter, lebih rendah dari menara KLCC. Dulu aku mampu mengambil gambar KLCC tapi, tidak dengan Jam Gadang. Setelah sibuk foto sana sini, akhirnya, Nitha dateng juga. Alhamdulilah... Jauh-jauh bertemu di dunia maya, rupanya bisa juga berjumpa di dunia nyata. Nita, seorang wanita dari Aceh dan aku, dari Jawa, ternyata, setelah kenal di dunia maya, tempat bertemunya di tanah Sumatra. Maha besar Allah, yang telah menemukan kita. Karena beberapa tempat aku kemarin dah pergi, akhirnya, aku kembali jalan-jalan ke tempat yang sama :D. Nitha bersama suaminya. makan siang di pasar atas, di kedai Nasi Kapau, hmmm... Yummi, jadi pengen lagi deh! belanja oleh-oleh untuk keponakan-keponakan Nita. Sementara, aku hanya jadi penonton saja :). Pergi ke kebun binatang. Dan, atas nama kenekatan, jam 4 sore, kami menuju Danau Singkarak. Sampai sana, dah petang hujanpula! AKhirnya, kita tidak kemana-mana. Sampai saja, langsung menunggu mobil untuk kembali pulang ke Bukittinggi.
Gagal mengambil gambar Jam Gadang
Mall sebesarini, gak ada toko bukunya :((
Foto Jam Gadang, dalam 3 zaman...
Nita dan misua :)
Ehem.. ehem.. Anaz dan Nita action :)
Nggaya di depan rumah baanjuang :)
Dua2nya, mesen kalung, nama. Buat kenang-kenangan..
Beberapa waktu lalu, saat Emo (Nanlimo Datuk Bertuah kumpulan blogger bertuah Pekanbaru) menggulirkan isu Jambore Blogger Indonesia, aku semangat sekali memberi dukungan. Dan, 100% memberikan dukungan tersebut,. Selain itu, program itu harus jelas, visi dan misinya untuk apa? Sampai-sampai, aku memberikan cadangan, "Gimana kalau mengusung Blogger Peduli TKW". Meskipun, belum mendapatkan feedback, terutama, dari sesepuh blogger bertuah tapi, dua orang yang aku kirimi cadangan tersebut memberikan respon yang baik. Salah satunya, bertuliskan seperti ini, "blogger peduli TKW/TKI sebagai jargon perlu dibuat lebih detail lagi. semisal peduli pada bagian mana, apakah keagenan, kesemrawutan bandara, potensi tki, penanganan konsulat/dubes atau bagian lain. karena lingkupnya sangat besar."

Sekilas membaca gambar
Hari ini, cukup sibuk dengan sebuah hape, yang terhubung keberbagai rangkaian, Kaka, Sahabat juga teman. Cukup seru, haru, syahdu, jadi satu. Kadang, harus menghadapi kenyataan tentang hidup. Sedih, bahagia dan tertawa. Karena itu adalah proses kehidupan. Satu bercerita gembira, disatu pihak ada kisah duka. Kedua-duanya sama, saling menyatu, dan bertemu. Ada sedikit salah. Ada terbersit kalah. Hidup harus kembali kuayun. Pada-Nya, aku berserah. Di tangan-Nya segala rencana tercurah. Melirik sekilas gambar di dinding. Sebuah penyemangat, yang selalu ku semat! Insya Allah...
Jeda sejenak, mengalihkan cerita perjalanan, kepada sebuah kisah, kisah tentang persahabatan. Persahabatan dunia maya, yang tak berpijak, pada dunia nyata (bukan kunti lho). Berapa tahun aku bergelut dan mulai aktif di dunia maya...??? Rasanya, belum begitu lama. Tahun 2006, yah baru hendak memasuki, empat tahun. Meskipun, sejak tahun 2005, aku juga sudah mengenalnya tapi, tidak kerap aku menggunakannya. Dunia yang awal kukenali, hanyalah e-mail, kemudian, berlanjut untuk mempelajari Yahoo Messenger, friendster, barulah aku merambah blogger.
Berbicara Yahoo Messenger, mungkin tak semua yang kita kenal itu orang baik-baik. Tapi, tak bisa dipungkiri, kita juga bisa menemukan sahabat (atau bahkan ada yang menikah...??) melalui YM ini. Cerita tentang YM, mengingatkan aku pada seorang sahabat. Seorang yang sudah lama sekali aku mengenalnya, sejak aku aktif di dunia maya. Namanya, Arwani. Aku mengenalnya di sebuah room, Jogja kalau tidak salah. Dan, aku masih ingat, hari apa pertama kali mengenalnya. Kamis harinya, Mei bulannya. Saat itu, aku belum lancar menggunakan komputer. Bahkan, sempat Hanani yang mengetikan kalimat-kalimatnya. (Hanani, anak majikanku) Hanya sekejap saja kita berbicara melalui kata-kata. Karena hari menjelang petang, dan aku disibukkan dengan rutinitas harian. Kebetulan, Arwani meng-add YM ku. Jadi, tak sulit, saat online berikutnya kita masih bisa bertegur sapa. Tidak butuh waktu lama, kita menjadi akrab. Mungkin, karena sama-sama berada di rantau. Terkadang, kita sama-sama bertukar cerita. meskipun, dia sendiri adalah seorang pelajar. Tapi, tak ada batasan diantara kita. Sama-sama belajar dan saling mengingatkan. Darinya, aku belajar banyak hal. Tentang arti persahabatan.Dari sekian banyak sahabat maya, khususnya YM dengannyalah, aku bertahan lama menjalin silaturrahmi. Sudah hampir empat tahun. Tatkala majikanku berkunjung ke Negeri seribu menara, sahabatkupun berkunjung menemuinya. Arwani juga, yang mengajari aku tentang dunia blog. Meskipun, dia bukanlah seorang penulis blogger. berawal dari hobiku menulis, aku memintanya membuatkan blog untukku. meskipun, aku membuat blog atas saran seorang senior disebuah milis. Akhirnya, terciptalah, blog, "Belajar dan Berukhuwah" Dulu, tampilannya sederhana sekali. Lagipun, Arwani belum begitu mahir saat itu. Dan, dia juga, yang mengajarkan aku, bagaimana caranya hendak memposting sebuah tulisan. Awalnya, begitu susah sekali. maklum, pertama kali itulah, aku mempelajarinya. Meskipun anaknya urakan, meskipun anaknya conssled-an, meskipun gayanya preman-nan, Arwani tetap bersabar mengajariku. Tak sedikit, ia diambeki dan dimarahi. Yang aku sebel, kalau dia mau ujian. Pasti akan cari gara-gara. Misuh-misuh gak tentu. Marah-marah gak genah. Tak jarang, saat aku mengajaknya ngobrol, malah dia diam seribu bahasa. Sebel!, kesel! dan benci meruak-ruak menjadi satu. Tapi, besoknya akan tertinggal kalimat di ofline YM, "Mbak, maaf yah, kemarin aku lagi conssled" begitulah, rupa cerita, persahbatan dunia maya. tentunya, bukan kebetulan saat aku ditemukan dengannya. Ada hikmah, pada setiap pertemuan. Ada pembelajaran, pada setiap insan, yang aku kenal. Sebuah coretan singkat, mendekati waktu ujian. Sebuah sisipan dan harapan, selalu kuselit. Belajarlah semampumu, yakinlah dengan do'a Ayah dan Ibumu juga, do'a-do'a dari orang terdekatmu. Dalam banyak-banyak ilmu yang kau pelajari, masih banyak yang belum kau pahami, Dan, pada ilmu yang kau pahami, masih ada yang belum kau amalkan (sok bangets.. :D). Semoga Allah, selalu memberikan kelapangan hati dan keluasan fikiran untukmu. Insya Allah...
Abis ini, dia ngamuk2 ama aku, karena majangin photonya :D
Hal yang paling sulit, yang aku rasa ketika di alam persekolahan adalah, saat harus mengingat dan menghapal pelajaran sejarah. Entahlah... Rasanya, otak ini serasa tersumbat, ketika harus mengingati berbagai peristiwa zaman sebelum merdeka, masa sebelum moderen juga saat harus dilengkapi dengan menghapal tahun dan bulan kejadian lengkap. Rasanya, betul-betul beku otak dikepalaku. Lama-lama kemudian, aku baru sadar bahwa, sejarah bukan untuk diingat atau hanya dihapal sementara saja. Tapi, sejarah adalah untuk dipahami.
Rabu pagi, 23 Desember 2009. Aku masih berada di Bukittinggi. Seperti biasa, saat pagi adalah saat duduk tenang di depan layar kaca televisi, menyaksikan acara berita di Metro TV. Sesekali, aku juga sambil mengobrol dengan beberapa sahabat melalui telphone. Lagi asyik-asyik ngobrol sama teman, tiba-tiba aku merasa ada kelainan dengan kursi yang kududuki. Entah hanya perasaanku, atau apa. Kursi yang aku duduki serasa bergerak. Awalnya, hanya sekejap. Meyakinkan apa yang aku rasa, aku segera menutup telphone. Pelan-pelan, memperhatikan ruangan sekitar. Astagfirullah... Tiba-tiba televisi bergoyang kekanan dan kekiri. Sedang bingkai-bingkai foto di dinding juga bergerak kesana kemari. Innalillahi... Gempa kecil, melanda Bukittinggi pagi itu. Ada bayang ketakutan menghantui diri. Seumur-umur, aku hanya sekali merasakan gempa. Dulu sekali, ketika masih kecil. Dan, itulah kali kedua aku merasakan gempa. Hanya beberapa saat gempa itu. Tapi, sudah membuat lemas seluruh badanku. Padahal, rencananya, siang itu aku berniat jalan-jalan bersama anak Etek Yurti, Romi. Alhamdulilah, gempa itu skalanya kecil saja dan tidak begitu lama. Etek Yurti Risau, karena kita mau keluar siang harinya. Hujan pun tak berhenti sejak pagi hari. Alhamdulilah, menjelang tengah hari, huja reda. Niat keluar Akhirnya terlaksana. Siangnya, aku pergi dengan Romi menuju Panorama. Awalnya, aku akan pergi dengan calon isterinya tapi, tiba-tiba calon isterinya Romi tidak jadi pergi. Etek Yurti pesan, supaya kami tak usah masuk ke Lobang jepang, Saat di Panorama. Tidak begitu jauh jaraknya dan. Setelah berada beberapa hari di Bukittinggi, hari itu, untuk pertama kalinya aku menuju ke pusat kotanya. Cukup bersih, dan baliho besar-besar dengan tulisan "Bukittinggi Kota Pariwisata" terpampang jelas di tiga persimpangan jalan (lupa, dua atau tiga yah...?? :D). Tak lama kemudian, kami sampai di objek wisata, Taman Panorama. Disitu, ada beberapa lokasi wisata. Lobang Jepang dan melihat keindahan sungai Ngarai Sianok. Romi langsung mengajakku ke Lobang Jepang. Sampai disana, sudah ada beberapa wisatawan yang hendak masuk kedalamnya. Beberapa rombongan keluarga, dari Malaysia yang sedang mengambil gambar disitu. Setelah puas mengambil gambar, baru mereka beranjak memasuki Lobang Jepang. Di pandu, oleh seorang guide lelaki. Memudahkan perjalanan, aku dan Romi mengikuti mereka. Dengan membayar, RM.5/orang. Hanya aku yang bayar, Romi sendiri tak bayar. Sebaik masuk kedalamnya, gulita menyapa kami. Rupanya, sedang mengalami perbaikan jadi, lampu belum bisa dinyalakan. Tiada pencahayaan. meskipun sang guide membawa lampu tapi, ia sudah berjarak beberapa meter didepan sana. Alhamdulilah, ada juga cahaya lilin, dari seorang rakan guide tadi. Tapi, itu tak lama, sang rakan guide tadi, juga mendahului jalannya. Berjalan dalam gelap. Kalau dulu, aku hanya mempelajari sejarah, kini, ada suasana lain, saat aku harus memasuki sendiri bekas sejarah. Lobang Jepang, berada dibawah kedalaman 40 meter, begitulah ujar seorang guide. Ia lincah sekali menerangkan berbagai sisi dan seluk beluk Lobang Jepang. Ditemukan, pada tahun 1946 ujarnya, pasca merdeka. Di dalamnya, kita bisa menemukan berbagai pintu-pintu jeruji besi. Ujar sang guide, di pintu-pintu pertama adalah tempat menyimpan amunisi laskar Jepang. Dan, disel pintu jeruji besi lainnya, sang guide menunjukan, kalau hendak di bangun studio. Untuk menayangkan sejarah dan kisah LObang jepang, juga tentang negara Jepang. Selanjutnya, adalah jeruji besi, yang akan dijadikan tempat miniature bekas barang-barang yang dipakai bekas para romusa (tempat makan yang terbuat dari batok kelapa, tempat minum, yang terbuat dari buluh bambu etc...). Sel-sel jeruji besi banyak sekali ditemukan. Cukup ngeri berada dibawah situ. Udara dingin menyeruak, setiap langkah kami semakin mendalam ke dalam goa (aku lebih pantas menyebutnya goa) Sang guide, masih fasih menerangkan satu demi satu sejarahnya. Sepertinya, Ia sudah biasa sekali. Kalau melihat kedalamnya, aku rasa sudah banyak sekali perubahan didalamnya. Tidak merubah bentuk asalnya memang tapi, dalam gua tersebut, dinding-dindingnya terlihat lebih kemas. Kami juga dibawa ketempat, dimana para romusa menikmati hidangannya (konon, sewaktu baru ditemukan, batok kelapa dan buluh bambu berserak didalamnya) dan, semakin masuk kedalam, kami di bawa ke beberapa sel, untuk menahan para romusa yang enggan melakukan kerja (Ternyata, berat sekali perjuangan para pendahaulu kita). Sang guide juga menjanjikan kami akan membawa kesebuah "dapur". Entah kenapa, dia begitu menekankan kata "dapur". Sampai saja kami di "dapur" tadi, sang guide menyajikan cerita yang begitu menyedihkan. Rupanya, disitu, bukan "dapur" sembarang "dapur" Dulu kala, disitulah, para romusa mengalami berbagai penyiksaan yang enggan berbuat kerja atau terkadang banyak juga yang sedang sakit, disiksa dan dianiaya. Kemudian, mayatnya di campak ke lembah sungai Ngarai Sianok (Innalillahi... ngeri mendengarnya). Ada sedikit lubang kecil disitu. Guide bilang, dulu lubang itu besar. Tapi, demi keamanan para pengunjung, akhirnya lobang itu ditutup dan hanya menyisakan sedikit saja. Ada kengerian menyayat hati, terbayang, begitu susahnya perjuangan para pahlawan kita dulu. Kerja paksa, aniaya, seolah menjadi makanan sehari-harinya. Fiuh... Sungguh tak terbayang... Kami kembali diajak mengelilingi ruangan. Selanjutnya, tak banyak tempat lagi yang kami kunjungi. Ujar guide, ada 3 persoalan yang belum terjawab hingga kini yaitu, 1. berapa banyak tenaga romusa yang dikerahkan untuk membuat lobang, 2. Siapa pengasasnya(orang Jepang tentunya, dan 3. kemana larinya para pendiri tersebut setelah pasca merdeka?. (Wallahu'alam. Aku belum search di goole, untuk kisah Lobang Jepang ini. Ada yang tahu....???) Itulah, sekilas perjalanan ku ke Lobang Jepang. Ada kelainan, saat mempelajari sejarah melalui buku dan melalui kenyataan, menyaksikan sendiri bekas-bekasnya. Di bawah situ, sejuk sekali. Aku membayangkan, bagaiman para romusa itu melakukan kerja. Sungguh tak terbayang, badan yang sejuk, perut yang kelparan dan mungkin, dulu juga tiada penerangan lampu. Sekali lagi, sungguh tak terbayang kesusahan para pendahulu kita, sebelum meraih merdeka. Betapa bersyukurnya aku, terlahir pasca merdeka. Meskipun tertanya-tanya, apa yang sudah kuberi, kepada negara....??? :((
Tampak depan... Beberapa huruf telah hilang, ditelan tangan-tangan jahil...
Ada yang mau datang lagi kesini...???? (aku pengen lagi.. :D)
Terusan Ngarai Siaonk, dari sebelah kanan
Inilah Ngarai Soanok yang sesungguhnya. Tidak ada airnya. Ibu bilang, beberapa ratus tahun dahulu, saat gunung merapi meletus, lahar api bersimbah disini...
Banyak beruk yang bersahabat
Banyak juga pelukis disini, bagus-bagus lagi...
hehehehe... Anaz bersahabat dengan beruk :D
"Bu, berarti, tergantung pondasi bangunannya yah...???" Mataku melihat ke sekeliling bangunan
"Enggak juga De, kita tidak bisa memprediksi kekuatan sebuah kondisi bangunan dari pondasinya. Itu betul-betul kuasa Allah, menguji kita." Bu Wati menjawab bijak. Sekilas dialog pagi, ketika aku menyaksikan sendiri sisa-sisa reruntuhan gempa yang berada disekitar rumah bu Wati. Rumah di depan bu Wati, kedua-duanya hancur. Pun dengan tetangga sebelah kanannya. Hancur, tak berwujud. tak bisa lagi digunakan. Sementara, rumah bu Wati masih berdiri kokoh.
Selepas ngobrol dan makan pagi, aku mempersiapkan diri bertemu dengan Ferdi. Seorang mahasiswa di sebuah Universitas Negeri Padang. Jam 8 pagi, aku menelphonenya tapi, rupanya tidak diangkat. Aku kira, dia masih tidur. Tak lama setelah itu, Ferdi sms, rupanya sudah ada dikelas dan tidak diperbolehkan mengangkat telphon. Awalnya, janjian jam 9 lebih tapi, rupanya ada kelas tambahan jadi, diundur jam 10an janjian di Tunggul Hitam. Dan kita, sepakat untuk melihat sisa-sisa reruntuhan gempa. Aku tidak tahu, bagaimana caranya kalau hendak menuju tunggul Hitam, tadinya mau naik ojek tapi, tidak boleh sama Bu Wati. Dan, kebetulan, Abangnya bu Wati mau mengantarkan adik-adiknya yang dari Pasaman ke Tunggul Hitam. Akhirnya, aku menumpang. Turun saja dari mobil, ada seseorang yang menegurku. "Mbak Anaz..." Ujarnya. Rupanya, Ferdi sudah nangkring diatas motornya. Bertukar senyum, bertanya khabar. Kedua tangan menangkup diatas dada, menganggukan kepala sebagai pengganti jabat tangan. Tidak menyangka, akhirnya, bertemu juga dengan Ferdi, bloger dari Padang. Sebelumnya, Ferdi mengingatkan aku, untuk membawa helm. Tanpa menunggu lama, akhirnya, kita memulai perjalanan. Melihat, sisa-sisa gempa 30 September. Aku diajak memasuki kota Padang, melintasi sebuah Mall, yang sudah hancur disana sini. Ferdi bilang, ketika gempa terjadi, Ferdi berada didalam. Baru pulang kuliah, sedang makan bersama teman-temannya. Merinding dengernya, ujarkau, "Allah masih melindungi kamu fer." Semakin masuk ke pusat kota, reruntuhan semakin terlihat disana sini bahkan, masih ada yang belum tersentuh, sejak gempa. Sebuah bangunan lama, khas suku Padang. Ferdi menghentikan laju motornya, untuk menyilakan aku mengambil gambar. Hampir disetiap bangunan yang rusak parah, Ferdi berhenti untuk memberi kesempatan aku mengambil gambar. Lagi pula, Ferdi pun belum posting tentang gempa. Aku tersenyum mendengarnya. Ferdi bilang tidak mau ikut-ikutan posting hal yang sama. Entah jalan apa namanya, aku tidak mencatat setiap yang dilalui. Aku hanya erat memegang kamera. Sementara, buku kecil dan pena, tersimpan rapi didalam tas. Kemudian, aku diajak ke kampung China. Disitu, hampir semua bangunan rata dengan tanah. Kalaupun ada, hanya sisa-sisanya. Ya Allah, betapa besar ujian yang kau berikan kepada saudara-saudaraku di Padang. Aku hanya mampu menangis dalam hati, merasa begitu kecil. terkadang, aku selalu mengeluh dengan kehidupanku. ternyata, masih ada yang lebih berat cobaan hidupnya. Aku tak mampu membayangkan, bagaimana sebuah keluarga, yang harus kembali menyusun kehidupannya dari nol lagi. Ya Allah.. Kuatkanlah mereka. Herannya, meskipun bangunan masih banyak yang berserak, mobil berat (apa namanya yah? kalau gak salah buldozer, apa bego?) hanya ada di satu titik. Di kawasan kampung China tadi, hanya ada satu. Selebihnya, tidak ada. Aku bertanya dengan Ferdi, apa Pemda sudah tidak menyediakan. ferdi hanya menggeleng kepala, tidak tahu apa yang hendak dijawab. Aku jadi teringat beberapa bulan dahulu, saat pasca gempa beberapa minggu, Abah, majikanku berkunjung ke kota Padang, menyerahkan bantuan. Abah, mewakili dari YADIM (Yayasan Dakwah Islam Malaysia) bekerja sama dengan YADMI (Yayasan Dakwah Indonesia Malaysia) bersama dengan Bapak Tarmizi Taher menyerahkan bantuan sebesar RM.50.000. Atas saran pak Tarmizi, akhirnya Abah memberikan bantuan itu langsung ke para warga. menyusuri kota Padang, sampai ke pedalaman Pariaman. Di masukannya dalam amplop, dan diberikan kepada setiap kepala keluarga. perkepala keluarga, mendapat Rp.300.000. Pak Tarmizi bilang, tidak usah melalui instansi apapun, karena, akan susah jadinya. Ah, apakah ini birokrasi namanya? Dalam musibahpun, masih dipersulit. Wallahu'alam. Melintas sebentar, di depan hotel Ambacang, pembangunan sudah dimulai. Sebetulnya, geliat membangun sudah terlihat Tapi, aku rasa akan memakan waktu yang cukup lama. Mungkin, beberapa tahun, untuk menjadi Padang, seperti sedia kala. Dari situ, kita pun berjalan kesebuah tepian pantai Padang, tidak singgah, hanya melintas saja. Mengambil gambar, kemudian pergi lagi. Pun, ketika aku diajak kesebuah jalan, dimana jalan itu retak hampir keujung-ujungnya. Innalillahi.... betul-betul merinding. Jalan itu, terbelah Masya Allah, betapa dahsyat dan kuatnya gempa ketika itu. Aku tak mapu membayangkan, di saat-saat kejadian gempa. Kesedihan, begitu terasa, betapa kecilnya aku di mata-Nya. "Ya Allah, jadikan aku orang yang pandai memetik hikmah, pada setipa musibah-Mu" Ferdi juga mengajakku kesebuah jembatan, jembatan Siti Nurbaya. Disanapun, hanya mengambil gambar, kemudian kita jalan lagi. Waktu hampir mendekati tengah hari. Dan saatnya makan siang. Ferdi mengajakku ketempat makan langganannya. Ajo Lolong lama, nama tempat itu. Lokasinya, berdekatan dengan taman makam pahlawan. Cerita mengalir begitu saja, ketika kami menikmati hidangan siang. Fiuh, makan masakan Padang, di kampung halamannya ternyata, pedasnya tidak kira-kira. Aku tak tahan, dan dengan terpaksa menyisakan hidangan makan :(. ferdi senyum-senyum aja ngeliatnya. "kalau aku sih udah biasa mbak" ujarnya bangga.
Selesai makan siang, kumandang azan terdengar. Ferdi mencari masjid, dan kami shalat dhuhur di masjid al-Azhar, berdekatan dengan kampus Ferdi. Alhamdulilah, ada juga kesempatan memperoleh shalat berja'ah. Selesai shalat, bu Wati menelphonku. Menanyakan keberadaanku. Dasar dudul, aku tidak tahu itu ada dimana, baru, setelah bu Wati ngasih ciri-cirinya, aku mengiyakan. Anaz emang dudul! Karena sudah hampir mendekati pukul satu, dan pukul dua Ferdi ada kelas, akhirnya aku pulang. Bersama-sama dengan bu Wati dan keponakannya Ferdi beriringan mengantar aku ke rumah bu Wati. Alhamdulilah.. Perjalanan, yang sarat dengan hikamh, hikmah dari musibah, juga hikmah silaturahmi. Untuk Ferdi, termakasih banyak atas pertolongannya juga, sebagai guide di kota Padang :)
Nampang, abis shalat Dhuhur, minta tolong orang motoin :)
Pake kamera otomatis :)
Ferdi, yang selalu narsis
Disinilah makan siangnya...
Jalan yang terbelah....
Ambacang, pasca tiga bulan gempa
Pantai Padang, yang sunyi pasca gempa
Hotel 5 tingkat tapi, setelah gempa, hanya menyisakan 3 bangunan. Innalillahi...
jembatan Siti Nurbaya
dari atas jembatan Siti Nurbaya
Hanya ada satu, kendaraan berat yang beroperasi, kapan siapnya...???
retak diseluruh bangunan
Tak tersentuh, sejak gempa melanda
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Teman-teman

Sering Dibaca

  • Minyak Gamat Bukan Hanya untuk Obat Luka
  • Kemerdekaan Bagi OYPMK Bagaimana?
  • Bagaimana Cara Membuat KTKLN?
  • Orenji, Salah Satu Restoran Jepang di Cilegon
  • Resep Sambal Terong Dicabein

Harta Karun

  • ►  2022 (8)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2021 (8)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (4)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2019 (41)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2017 (21)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2016 (63)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Februari (23)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2015 (137)
    • ►  Desember (25)
    • ►  November (20)
    • ►  Oktober (34)
    • ►  September (19)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (9)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (52)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (6)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2013 (40)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (12)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2012 (74)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Februari (13)
    • ►  Januari (14)
  • ►  2011 (87)
    • ►  Desember (10)
    • ►  November (8)
    • ►  Oktober (18)
    • ►  September (13)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (8)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (4)
  • ▼  2010 (141)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (12)
    • ►  Juni (12)
    • ►  Mei (17)
    • ►  April (20)
    • ►  Maret (17)
    • ►  Februari (18)
    • ▼  Januari (23)
      • Indahnya Ukhuwah...
      • Tata Krama, Dunia Maya
      • RM.100,000, Untuk Mengkaji Sumbangan HAMKA
      • Terimakasih, Untuk Mbak Rie-Rie
      • Aku, Bukanlah Sang Mantan
      • Benchmark
      • Gajinya Berapa...???
      • Tak Ingin Mengenali Kucing Lagi Tapi...???
      • Books That Made Me Cry
      • Kena Tag, 15 Buku Berkesan
      • Jum'at, Shopping di Aur Kuning
      • Pertemuan, Awal Dari Perpisahan
      • Tatkala Rasa, Berbicara Pada Maya
      • Menghitung Nasib
      • Kamis, Bertemu di Jam Gadang
      • Blogger/Facebooker Peduli TKW, Mungkinkah...???
      • Penyemangat, yang Selalu ku Semat
      • Arwani
      • Rabu, Menuju Lobang Jepang
      • Selasa, di Padang
      • Senin, ke Padang
      • Antara Ndeso, Katro dan Posmo
      • Dialog perjalanan
  • ►  2009 (124)
    • ►  Desember (11)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (17)
    • ►  Juni (14)
    • ►  Mei (16)
    • ►  April (20)
    • ►  Maret (12)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2008 (105)
    • ►  Desember (7)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (10)
    • ►  Juni (16)
    • ►  Mei (19)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (22)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2007 (30)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (12)
    • ►  Agustus (2)

Kategori

Ads Blogger Hibah Buku Celoteh Cerpen Featured GayaTravel KBO komunitas Murai Perjalanan Piknik Buku Pojok Anaz Reportase resep reveiw Semestarian Serial Sosok Teman TKW TripGratisan Volunteer

Catatan Anazkia By OddThemes | Turatea.com