Catatan Anazkia

Karena hanya tulisan yang bisa saya tinggalkan

  • beranda
  • Kisah
    • Serial
    • Cerpen
    • Celoteh
    • Reportase
    • Perjalanan
      • Gaya Travel
      • Trip Gratisan
      • Piknik Buku
  • Pojok Anaz
  • Murai
  • Sosok
  • komunitas
    • Volunteer
    • KBO
    • Semestarian
    • Blogger Hibah Buku


"Membicarakan tentang aspek seksualitas, hak kesehatan seksual dan reproduksi merupakan hak bagi setiap orang tak terkecuali disabilitas, dan OPYMK (Orang yang Pernah Mengalami Kusta). Hak tersebut sudah diatur dalam undang-undang nomor 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas. Meski kesehatan seksual dan reproduksi belum dapat porsi besar untuk dipahami oleh teman-teman disabilitas dan OPMYK, masih ada gap bahwa orang tua tidak mengajarkan kepada remaja disabilitas tentang kesehatan seksual dan reproduksi dengan benar. Karena dianggap remaja disabilitas tidak butuh pengetahuan seksual dan bagi OPYMK dianggap tidak bisa menikah dan terpenuhi hak reproduksinya sehingga mereka tidak cukup paham serta pemberian layanan yang belum menjangkau."

Menyimak sesaat kalimat pembuka Mas Rizal Wijaya, host di talkshow online KBR mengenai "Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi bagi OYPMK dan Remaja Disabilitas" membuat pikiran saya jauh ke masa lalu selama mengikuti talkshow tersebut.

Dulu, di kampung saya ada seorang hamba Allah yang sedikit mengalami keterbelakangan mental. Dia cenderung terasing dari kawan-kawan normal lainnya. Saya tak pernah melihatnya ke bangku sekolah, atau mengaji petang bersama kami. Tapi, dia juga akhirnya menikah dengan lelaki berkebutuhan khusus. Saya lupa anaknya berapa, saya pun tak mengikuti perkembangannya lagi ketika sudah merantau ke kota. Terakhir, kabar yang saya dengar anak dia yang pertama kerja di kota tak jauh dari Desa. Tapi, pulangnya dia tidak sendiri. Karena ada anak kecil yang menemaninya. 

Ya, dia pulang membawa anak. Tak perlu diceritakan kronologinya bagaimana, tapi terkadang di kampung-kampung yang jauh dari akses pendidikan memadai, orang-orang dengan disabilitas ini lebih tidak diperhatikan. Baik oleh lingkungan sekitar, maupun dinas kesehatan terkait.

Dari talkshow yang dibuat oleh KBR, saya baru tahu kalau puskesmas menyediakan pelayanan-pelayan untuk remaja yang baru mengenal atau akan datang bulan baik yang normal, maupun disabilitas. Apa saja yang perlu diketahui untuk remaja disabilitas dan OPYMK ini? Menyimak paparan dari tiga narasumber dengan latar belakang yang lebih kurang sama, tapi beda generasi ini sangat menarik. Ada Kak Nona Ruhel Yabloy, Project officer HKSR, NLR Indonesia. Mbak Westiani Agustin Founder Biyung Indonesia juga Adik Wihelmina Ice, Remaja Champion Program HKSR.


Menurut Kak Nona, selama ini kita berbicara mengenai hak kesehatan seksual dan reproduksi itu selalu menjadi hal tabu. Tabu untuk dibicarakan. Karena sebagian besar beranggapan "Dia akan tahu dengan sendirinya seiring berkembangnya usia. Padahal, menurut Kak Nona kita harus mempersiapkan anak dan remaja apalagi, khusus dengan remaja disabilitas. Bahwa mereka juga punya hak, karena mereka ada hak untuk melihat dan mengetahui apa yang terjadi. Misalnya, menstruasi. Terkadang, itu tidak disampaikan kepada anak perempuan. Atau, mimpi basah lebih sering tidak dijelaskan. Sehingga anak-anak dengan disabilittas dan OPYMK itu menjadi korban kekerasan, menjadi korban pelecehan, karena itu saling berkaitan.

Langsung makdeg, inget kasus hamba Allah di kampung saya. Sudah lebih dari 20 tahun, tapi sampai hari ini tak jarang ada keterbatasan informasi mengenai akses kesehatan seksual dan reproduksi. Tambah Kak Nona, informasi memang banyak, tapi, yang betul itu sedikit dibandingkan yang tak betulnya. Selain dari orang tua, sekolah juga salah satu tempat untuk pengenalan dan pembelajaran mengenai hak kesehatan seksual.

Apa saja hak kesehatan seksual dan reproduksi yang perlu diketahui oleh remaja disabilitas dan OPYMK?

Pubertas. Bagaimana anak mau berbicara atau menjaga dirinya dia dari kekerasan seksual dan pelecehan. Terkadang, kita melihat bahwa pelecehan seksual itu terjadi, anak takut untuk berbicara. Takut untuk melaporkan. Jadi, orang dewasa mau mengajarkan bagaimana dia berani bersuara ketika dia menjadi korban. Seterusnya, adalah relationship. Karena anak disabiltas sekalipun bisa menjalin hubungan. (contohnya, kasus di atas yang saya tulis).

Mbak Westiani, dari Biyung Foundation menjelaskan mengenai apa iti Biyung Foundation dan pola kerja mereka. Biyung Foundation adalah sebuah aktivitas dan usaha sosial yang bergerak di lingkup isu perempuan dan lingkungan. Lahir di Jogja, sejak tahun 2018. Misi mereka, untuk meningkatkan kesejahteraan perempuan dan pelestarian bumi.


 






Metaverse, atau meta semesta menurut Wikipedia adalah bagian internet dari realitas virtual bersama yang dibuat  semirip mungkin dengan dunia nyata dalam dunia internet tahap kedua. Dalam pengertian yang lebih luas, Wikipedia mneuliskan jika Meta semesta dalam arti yang lebih luas mungkin tidak hanya merujuk pada lingkungan virtual yang dioperasikan oleh perusahaan media sosial tetapi seluruh spektrum realitas berimbuh.

Selasa, 24 Mei 2022 bertempat di Istana Ballrom Hotel Sari Pasific Jakarta, saya hadir di soft launcing video game dengan tema "Bridge In Gain Metaverse" atau game berbasis blockcain yang menggunakan VR dan AR yang diluncurkan oleh PT Benua Integrasi Global. Menurut Pak Alexander Zulkarnain, game ini baru resmi dirilis nanti pada pertengahan atau 23 Juli 2022. Tambah Pak Alexander sebagai CEO Benua Integrasi Global, dalam launching pada bulan Juli nanti, sekaligus launching blockcain untuk transaksi virtual yang bisa digunakan memainkan game ini nantinya.

Konsep yang akan digunakan nantinya ialah helistik dan futuristik di mana memang ide ini sengaja dibuat lebih riil yang hampir serupa dengan dunia nyata. Jadi, di dunia virtual itu nantinya tidak ada bedanya dengan dunia nyata. Tak hanya itu, rancangan yang dibuat juga nusantara di mana nama-nama gedung yang digunakan dari nama daerah yang ada di Indonesia. Ini menunjukkan kepada khalayak global jika game ini berasal dari Indonesia. Tambah Pak Alex, bahwa tekhnologi yang digunakan oleh mereka belum dimiliki pihak lain. Ini yang membuat penasaran para gamer's. Karena permainan ini bertaraf global, nanti dalam permainan akan muncul auto translete. Big metaverse, dunia tanpa batas. Sebagai penerjemah lepas, rasanya saya mahu menjadi transleter game begini, meski nggak kebayang alurnya, karena saya bukan pecinta game.

Pada bulan Juni nanti, akan diadakan game antara dunia nyata dan dunia virtual. Akan ada banyak hadiah. Motor juga mobil. Waw! Ini kalau saya pecinta game, bakalan niat banget ikut. Yah mana tahu, dari games ini bisa dapat motor gratis hehehe. Owh ya, kemarin game baru bisa diakses oleh pengguna Andorid. Belum ramah sama Aple. Hehehehe.

Pak Alexander juga menambahkan kalau game ini nantinya akan memiliki fitur yang bisa mengakomodasi para pelaku usaha di berbagai bidang, termasuk BUMN sampailah ke pemilik UMKM. Karena Bridge In Gain memiliki fitur yang diberi nama Big Tenant.



Jadi, Big Tenant ini ialah fitur toko perbelanjaan virtual di dalam Bridge In gain yang terintegrasid engan dunia nyata. Fitur ini didukung dengan sistem perbelanjaan langsung di dalam permainan yang terhubung dengan smartphone, serta nantinya akan dikirim melalui kurir instant atau ekspedisi. 

Ada yang nggak sabar? Terutama pemain game?






"Bumi ini bukan warisan. Tapi adalah amanah Allah dan kita diwajibkan untuk menjaga amanah ini dengan baik. Itu yang pertama. Terus yang kedua, bahwa bumi ini sementara. Kita hidup di dunia ini sementara, tidak akan selamanya. Dan kemudian harus ingat, bahwa setelah kita ini ada generasi manusia yang lain. Oleh karena itu, bumi yang diamanahkan oleh Allah ini bukan untuk kita. Tetapi, harus kita wariskan kembali kepada generasi selanjutnya. Jangan sampai, kita meninggalkan kerusakan. Meninggalkan bumi yang tidak layak huni lagi oleh umat manusia bahkan makhluk-makhluk yang lain. Yang ketiga, Islam sangat menganjurkan, bagaimana kita hidup ramah dengan lingkungan."

Baris-baris kalimat di atas, disampaikan oleh Pak Marzuki Wahid. Rektor Studi Islam Fahmina (ISIF) dan pengurus Lembaga Perguruan Tinggi Nahdatul Ulama). Dalam podcast Ramadan Vibes Season 2 KBR didukung oleh Greenpeace Indonesia.

Menyimak kalimat demi kalimat yang disampaikan, saya langung melihat ke dalam diri, sudah sejauh mana saya sebagai umat manusia, beragama Islam pula menjaga bumi dengan baik? Beliaupun menambahkan, menurutnya ada sebuah hadis Nabi di mana manusia itu bersekutu dengan tiga hal; "Pertama dengan rumput, yang kedua dengan air, dan yang ketiga dengan api." Tiga hal tersebut, merupakan kebutuhan primer dari umat manusia yang tidak bisa dilepaskan.

Sederhananya, dalam kehidupan sehari-hari ada hal-hal kecil dan sederhana yang bisa kita buat. Misalnya, menggunakan public transport ketika pergi ke mana-mana, berjalan kaki (jika memungkinkan)  ketika menuju public transport dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

Dalam podcast tersebut, ada tiga narasumber. Dua di antaranya selain Pak Marzuki Wahid adalah Mbak Rizkiana Sidqiyatul Hamdani (Peneliti Urban Greenpeace Indonesia) dan Mas Fahmi Saimima (Ketua Umum Bike to Work)

Ketiganya, berbicara dari latar belakang yang berbeda. Kenapa saya membidik Pak Marzuki Wahid sebagai pembuka? Karena ternyata dalam agama Islam sendiri, Allah sudah mewanti-wanti bahwa bumi dans egala isi ini titipan. Bukan warisan yang dengan mudah kita keruk habis-habisan. Pun ada dalam Alquran, "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar." QS Ar-Rum ayat 41.

Dalam world inequality report 2021, kualitas udara di Indonesia ada di peringkat ke 17. Negara dengan kualitas udara khususnya partikel PM2.5 terburuk di dunia. Menurut Mbak Rizkiana, menanggapi pencemaran udara terburuk di Indonesia ini ada banyak faktor. Indonesia ini negara yang luas, pencemarannya pun beragam. Setiap wilayah, memiliki pencemarannya sendiri. Yang didominasi hutan, isunya ialah pembakaran hutan dan segala macam. Sedangkan pada podcast tersebut, Mbak Rizkiana berbicara dalam konteks urban, yang pencemaran udaranya di kota. 

Kenapa kita harus aware dengan perbedaan ini? Karena menurut beliau kalau kita nggak aware, nanti obrolannya jadi jaka sembung, alias nggak nyambung. Hehehehe. Sebab nanti dampaknya akan tidak nyambung ke penanganan, juga ke bentuk aksinya. 

Apa itu PM25? PM25 ialah singkatan dari Particulate Meter, atau bagian dari pencemar udara. 25 adalah ukurannya. Jadi, 25 itu 2,5 micrometer. Kecil banget, kan? Milimeter saja sudah keceil, ini micro. Jadi, kalau mau bayangin itu, satu helai rambut dan PM25 itu adalah 3% persen dari kecilnya satu helai rambut. Aduh! Ini pas nonton dan dengerin podcast otak awak tak sampai ngebayanginnya :(

Menurut Mbak Rizkiana, dari hasil inventarisasi emisi udara di perkotaan itu 47-52% berasal dari kanlpot kendaraan. Itu kenapa dalam podcastnya, ia menekankan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, beralih ke public transport dan perbanyak jalan kaki. Tapi, bukan berarti harus menambah infrastruktur secara terus menerus. Meski memerlukan faktor lain untuk bisa menikmati kemudahan jalan kaki. Paling tidak, aman menurut beliau. Dan Ramadan ini menurut Mbak Rizkiana menjadi momen refleksi, sejauh mana kita bisa terlibat dalam Pengurangan emisi ini.

Mas Fahmi, sebagai ketua umum Bike to Work Indonesia bilang kalau beliau tidak anti kendaraan. Menurutnya, ini adalah proses bijak dalam menggunakan transportasi. Karena mereka tetap berprinsip, dalam visi mereka ingin memberikan kualitas hidup yang layak bagi bangsa Indonesia. Menurutnya, tak semestinya kita harus senantiasa bersepeda atau berjalan kaki. Menurut Mas Fahmi, ada hal yang lebih besar lagi, misalnya, menggunakan transportasi umum. Dan dari tempat transportasi umum itu bisa terintegrasi sepeda atau akses jalan kaki dengan baik itu pun sangat bermanfaat. Sampai sekarang, Mas Fahmi masih menggunakan kendaraan pribadi untuk ke tempat kerja, karena mobilitas di kerjaannya tinggi.

Prinsip bike to work menurut Mas Fahmi, ingin berupaya membuat kualitas hidup yang lebih baik dengan sepeda.

Dari tiga percakapan narasumber di atas yang disampaikan melalui podcast KBR, saling kait mengait. Pak Marzuki dari sisi agama, Mbak Rizkiana dan Mas Fahmi dari perilaku hidup sehari-hari. Cocok. Lengkap. Hanya kitanya mau berubah atau enggak, minimal dari hal kecil dulu. Ke warung yang tak begitu jauh, nggak usah naik motor. Kalau masih bisa dijangkau jalan kaki, ya jalan. Eiya, sekarang saya sudah selalu jalan kalau mau ke stasiun. Jarak, 1, 8KM. Sejak pandemi, semua terasa dekat saat jalan kaki. Itu, kalau niat tentu saja. Meski mirisnya, jalanan kita itu tak ramah untuk pejalan kaki. Di mana-mana... Di Jakarta, di puast-pusat kota mendingan. Tapi, coba kalau ke pinggiran :(



 

"Saya itu besar dengan Raskin, Teman-teman. Mudah-mudahan ada yang relate dengan ini, ya menonton di sini. Karena saya biasa kalau ngomong begini, ada banyak yang tak mengaku miskin. Begitu. Tidak pernah tahu raskin."

Dengan wajah sedikit senyum Bang Abdur Arsyad membawakan materi stand up comedy di salah satu YTube markeplace Indonesia. Saya menontonnya tertawa terbahak. Padahal, saya pribadi sangat emosi ketika membicarakan raskin beberapa tahun lalu. 

"Teman-teman, raskin itu beras miskin. Biasanya diperuntukkan untuk keluarga miskin, dan saya besar dengan itu. dari kecil, dari saya bisa makan nasi sampai saya tamat SMA, selalu makan raskin. Tubuh saya kalau dibelah, isinya semua kebijakan pemerintah."

Saya lagi-lagi tertawa. Bisa-bisanya dia becanda seperti itu.

"Karena menyedihkan sekali itu teman-teman. Teman-teman, kalau pernah makan raskin itu menyedihkan. Harganya memang murah, tapi kondisinya pun mengerikan."

Pernah lihat raskin? Kalau belum, yah berarti nggak relate sama Bang Abdur. Saya pribadi, sangat relate kalau ngomongin raskin. Saya dulu mikir, raskin ini bentuk penghinaan kepada rakyat miskin. Itu kenapa saya emosi kenapa harus ada raskin. Tapi, di tangan Bang Abdur, ngomongin raskin bisa jadi bahan tawa, tanpa menghilangkan esensi bahwa dia sedang mengkritik pemerintah.

Atau, dalam potongan-potongan tayangan bang Abdur Rasyad di acara stand up comedy Kompas TV, saya menemukan dialog-dialog ini.

"Di Indonesia itu, jasa pendidikan itu, tidak masuk dalam PPN, tidak kena PPN. Tapi barang pendidikan, sepatu, seragam, buku, tas, itu kena PPN. Ini sama seperti kalau tidur gratis, tapi kalau tutup mata bayar."

Satu studio, tertawa terbahak diiringi tepuk tangan. Atau, masih dalam potongan-potongan ketika ia tampil di Kompas TV di mana ia debut sebagau runner up,

"Teman-teman, Indonesia itu emmang terlalu terpusat di Jakarta. Terlalu terpusat di Jakarta. Makanya, kejahatan itu juga datang ke sini, begitu. Pencuri itu, teman-teman, di Timur itu dapat tangkap itu pasti dapat pukul sampai busuk. Sampai busuk," audiens di studio tertawa. Dengan mengenakan baju adat Betawi, bang Arsyad jelas-jelas sedang menyindir kota nomor satu di Indonesia. "pencuri di sini, itu dapat foto, dapat syuting, wawancara, masuk TV, masuk penjara fasilitas mewah."

Tepuk gemuruh kembali ia dapatkan. Dan terang-terang, ia sedang menyindir koruptor.

Kamis, 21 April 2022 saya mengikuti IG Live Bincang Mimdan #6 dengan tema, Bicara Budaya dan Kritik Sosial Lewat Komedi di Instagram @merajut_indonesia. Dengan Teh Evi sebagai hostnya, IG live ini dimulai pada pukul delapan malam. IG live bincang Mimdan malam itu diadakan oleh PANDI, pengelola nama domain Internet Indonesia. Bincang Mimdan, merupakan acara dari pandi lewat program Merajut Indonesia, Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara (MIMDAN)

Tema yang diangkat malam itu bertujuan  sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan budaya, agar budaya Indonesia dapat bergaung di tingkat lokal, nasional maupun global. Begitupun kritik sosial, menurut teh Evi kritik sosial sebagai salah satu upaya penyaluran gagasan kebudayaan yang lebih baik.

Satu jam, sarat dengan ilmu pengetahuan. Terima kasih, teh Evi ^_^


Budaya, merupakan hasil akal dan budi manusia, yang berkembang pada sebuah masyarakat. Oleh sebab itu, budaya sangat dinamis, mengingat banyak faktor yang memengaruhinya serta dinamika yang dialami dalam perjalanan waktu. Budaya, ialah objek yang sangat dekat dengan manusia. Tetapi, berbicara soal budaya ada kalanya dianggap kuno, kompleks, berat dan membosankan. Sedangkan kritik sosial, ialah sarana mengkomunikasikan gagasan baru disamping menilai gagasan lama untuk sebuah perubahan sosial. Kritik sosial berfungsi sebagai kontrol terhadap jalannya sebuah sistem sosial, yang berarti memengaruhi budaya. Namun sayang, kritik acap kali dianggap sebagai kecaman. Padahal, bersifat membangun.

Prolog yang disampaikan teh Evi ketika live IG baru dimulai sangat panjang. Bagaimana dnegan gamblang ia menjelaskan fungsi dan kedudukan budaya pada kritik sosial. Lantas, bagaimana pandangan bang Arsyad mengenai Budaya dan Kritik Sosial melalui komedi yang kerap ia lontarkan di panggung-panggung stand up sebagais eorang komedian?

Berbeda ketika di panggung, live malam itu Bang Abdur terlihat canggung. Bukan karena ia tak memahami arah yang dibicarakan, tapi ia terlihat hati-hati ketika berbicara. Ketika di panggung sebelum tampil, Bang Abdur sudah terbiasa menyiapkan konten apa yang akan disampaikan. Sementara, live IG malam itu ia terlihat ngobrol santai.

Bagi Bang Abdur, salah satu bekal kritik sosial dalam komedinya ialah banyak membaca buku. Karena kritik sosial berhubungan langsung dengan masyarakat. Bang Abdur juga percaya, jika komedi bisa mengubah tingkah laku. Masuk akal dengan apa yang disampaikan. Saya pribadi, ketika menonton stand upnya pun acap berkerut kening dan mengamini yang disampaikan, meski dibalut gelak ketawa.

Selain rajin membaca buku, Bang Abdur menghindari topik yang ia tidak ketahui. Itu kenapa dia lebih sering membawakan materi stand up yang palingd ekat dengan dirinya. Meski, balik lagi saya hampir nggak percaya kalau keluarganya dia adalah penerima raskin. Etapi, saya nggak boleh gitu. Hiks.

Dalam percakapan menjelang akhir, Bang Abdur bilang bahwa setiap karya akan menemukan penikmatnya sendiri. Komedi, menurut dia kalau kita rasa lucu kita maunya pengen cepat-cepat cerita ke teman. Kririk sosial, ketika kita merasakan sesuatu kita ingin membicarakan dengan orang lain.



 


"Jadi, aku muterin uang yang aku pinjam. Kalau nggak gitu, gimana aku ngadepin hidup? Aku kan sejak pandemi nggak kerja. Jadi ini yang aku buat untuk bertahan hidup. Gali lobang tutup lobanglah." 

Seorang teman bercerita demikian. Dia salah satu teman yang terdampak pandemi. Sempat menganggur beberapa bulan. Tapi, semangatnya luar biasa banget. Dia banting stir, jualan. Apa saja dijualnya. Pertama, ia sempat jualan gorengan ketika Ramadan tiba di tahun 2020. Tapi karena pasarnya kurang, ia mengubah haluan menjadi reseller. Menjual apa saja. "Palugada boleh dibilang. Apa yang lu mau, gua ada." 

2020 sampai sekarang, bagi sebagian orang banyak yang jatuh bangun bertahan menyiasati hidup disebabkan pandemi. Baik diPHK, usaha jatuh dan sebagainya. Salah satunya, teman saya di atas. Ia acap bercerita kepada saya bahwa setiap bulan kerap meminjam uang dari sebuah aplikasi. Bagi dia, selagi dia membayar tepat waktu dan uangnya digunakan secara tepat itu dapat membantunya.

Kamis lalu, di salah satu rumah makan di Sarinah, saya bersama dengan teman-teman bloger dari BloggerCrony menghadiri bincang petang. Tajuk obrolan sore itu, Pengelolaan Kredit Pintar Bersama Kredit Pintar. Ini merupakan rangkaian kelas dari Kredit Pintar untuk merangkul dan mengedukasi komunitas supaya lebih meningkatkan lagi kecakapan dalam literasi keuangan.

Hari ini, kita acap mendengar dampak buruk pinjaman online melalui aplikasi. Padahal, beberapa aplikasi yang ada dan dalam pengawasan OJK (Otoritas Jasa keuangan) sejatinya hadir untuk memberikan bantuan dalam bentuk uang berupa pinjaman produktif. Apa itu pinjaman produktif? Pinjaman yang digunakan bukan untuk sekadar konsumtif semata-mata. Tapi, digunakan lagi untuk usaha. Seperti teman saya di atas, karena kondisi keuangannya sedang tidak baik-baik saja dia mengambil pinjaman uang melalui aplikasi, kemudian dia gunakan lagi untuk usahanya.

Mengutip kata Mas Puji (Brand Supervisor Kredit Pintar), kesadaran masyarakat kita masih rendah akan adanya dana darurat. Dikarenakan ini juga berdampak pada maraknya pinjaman uang melalui aplikasi. Jadi, karena mudahnya meminjam uang melalui aplikasi ini banyak orang yang kemudian tak sadar dengan batas kemampuannya untuk membayar. Akhirnya, banyaklah berlaku hal-hal negatif disebabkan pinjaman uang melalui aplikasi. Apalagi, dengan aplikasi yang tidak berada dalam pengawasan OJK.

Mas Puji (Brand Supervisor Kredit Pintar)

Kredit Pintar, adalah salah satu platform penyedia layanan pinjaman uang berbasis teknologi informasi terkemuka di Indonesia. Ini terdaftar dan diawasi oleh OJK. Di playstore, Kredit Pintar sudah diunduh lebih dari 10 juta unduhan dan peringkat kepuasan konsumen sebesar 4,4 bintang di Google Play. Visi Kredit Pintar ialah, meningkatkan kehidupan masyarakat Indonesia melalui penyediaan akses yang mudah untuk mendapatkan pinjaman dalam jangka pendek. Dengan tekhnologi AI (Artificial Intelligence).

Total peminjam yang sudah mengajukan dana pinjaman ke aplikasi Kredit pintar sampai hari ini ialah 7 juta. Dan peminjam aktif sampai hari ini sebanyak 800 ribu orang. Dari sekian banyak peminjam, kata Mas Puji masih ada kredit macet di mana nasabah masih belum membuat pembayaran.

Berbeda lagi menurut Mas Gandan (Senior Business Development Manager Kredit Pintar), menurutnya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika kita memilih aplikasi pinjaman uang dengan aman. Pertama, tentunya harus memahami bahwa aplikasi pinjaman uang ini akan menagihkan pelunasan pinjaman sama dengan umumnya. Jadi, alangkah lebih baiknya kalau membuat perhitungan dengan baik, dengan menyesuaikan kondisi keuangan sebelum menentukan nominal pinjaman.

Mas Gandan (Senior Business development Manager Kredit Pintar)


Yang kedua, baca dengan saksama kontrak perjanjian ketika pinjaman disetujui dan berkomitmen untuk melunasinya tepat waktu supaya tak kena denda. Jangan lupa juga untuk menghitung dan menyesuaikan besaran angsuran dengan penghasilan bulanan.

Ketiga, yang cukup penting ialah, memilih layanan aplikasi peminjaman legal, yang telah terdaftar dan diawasi OJK. Jangan mudah terbuai dengan beragam pesan atau tawaran, apabila berasal dari aplikasi peminjaman ilegal, yang justru akan membebankan bunga dan denda tinggi, perhitungan tidak transparan, sampailah tak segan melakukan ancaman dengan menyebarkan data pribadi saat penagihan.

Masih menurut Mas Gandan, kalu kita mengajukan pinjaman uang, kemudian uangnya untuk modal usaha, jangan lupa untuk membuat pencatatan. Ingat, bahwa uang usaha itu bukan sepenuhnya uang kita. Tapi uang yang digunakan untuk kembali memutar modal. Sebagai pemilik uasaha kecil-kecilan macam saya, kalimatnya menohok banget, sih. Saya jualan "gitu aja", nggak pernah buat pencatatan. Hiks.

Hal di atas, adalah yang disampaikan oleh Mas Puji dan Mas Gandan dari pihak Kredit Pintar. Jangan sampai, sebagai nasabah jadi besar pasak daripada tiang. Biar nggak kewalahan dan nggak sampai kejadian, minjem uang di satu aplikasi, kemudian ketika tak berbayar akan cari aplikasi peminjaman lain untuk membayar di pinjaman di aplikasi sebelumnya. Ribet? Tapi itu banyak kejadian.

Pinjaman Aman, hati pun Nyaman

Pada 17 November 2021, OJK sudah merilis 104 penyelenggara fintech peer-to-peer lending atau fintech landing yang telah terdaftar dan diawasi OJK, satu di antaranya ialah Kredit Pintar.

Kredit Pintar menawarkan aplikasi pinjaman uang yang mudah, cepat cair dan persyaratan yang mudah. Dengan mengunduh aplikasi, melengkapai data dengan identitas diri, dan uang bisa cair dengan segera. Limit yang ditawarkan mulai dari Rp600,000 sampai Rp20 juta dengan tenor pinjaman bervariasi. Jadi, peminjam bisa lebih leluasa memilih tenor pinjaman dan metode pembayaran yang sesuai dengan kemampuan membayar. 

Ingat, ya, meski mudah dan cepat tetaplah lihat batas kemampuan membayar. Jangan sampai, niat meminjam untuk  membantu cash flow, tapi malah jadi dikejar-kejar hutang karena tak mampu membayar.



Owh ya, di Instagram, akun Kredit Pintar hanya satu saja, @kreditpintar. Nggak ada akun lain. Soalnya, kemarinnya pas saya baru follow akun Kredit Pintar, langsung difollow banyak akun dengan nama serupa. Sudah gitu, didm pula. Jadi, pastikan kalau memang mau membuat pinjaman bisa langsung ke websitenya di https://www.kreditpintar.com/ atau unduh aplikasinya di playstore dengan nama Kredit Pintar. Sebelum mengajukan pinjaman, kita juga harus pintar. Biar kayak aplikasinya, Kredit Pintar ^_^

Semua foto milik panitia. Terima kasih atas jepretan bagusnya.

Kopdar sama Kak Ilham. Dan ini, Kak Ilham minta tolong orang buat fotoin. Hehehehe

 

"Kopdar, kopdar."


Komentar itu saya dapatkan kemarin pagi di Instagram story dari Kak Ilham. Bloger Makassar yang saya kenali melalui Kak Tuteh beberapa tahun lalu di Facebook. Saat itu, Kak Ilham masih bertugas di Ende. Dan sekarang, dia ditugaskan di kota kelahirannya, Makassar. Membaca komentarnya, saya sempat berpikir, bukannya sepanjang minggu lalu Kak Ilham berada di Palembang? Pun saat saya lihat story terbarunya di Instagram, Kak Ilham sedang berada di Bandung.

Selama mengenal Kak Ilham melalui media sosial, saya sering melihatnya hilir mudik ke Jakarta ketika ia sudah bertugas di Makassar. Tapi, ketika saya tanya rupanya ia sudah kembali pulang ke Makassar. Rasanya, itu tak hanya sekali. Tapi, berkali-kali. Sampai akhirnya, saya malas bertanya dengan Kak Ilham kalau lihat dia update IG story sedang berada di tanah Jawa. Itu kenapa, waktu dia komen kopdar, kopdar saya niatin mau ketemu. Meski ada deadline terjemahan jam 11 siang. Hahahaha

Meyakinkan Kak Ilham kalau mau kopdar, rupanya ia sudah punya sederet rencana. 26 Maret, ia akan pulang ke Makassar dan menginap di kawasan Sudirman. Dia pun mengirim list tempat yang ingin dia kunjungi. Inacraft, Sarinah dan IKEA. Saya menawarkan Sudirman, ada satu kedai mi ayam yang enak di dekat stasiun. Pun sedang ada kemeriahan ulang tahun MRT di situ. Kenapa di Sudirman? Sebetulnya itu biar mudah saja. Saya nggak repot pulangnya. Ahahahhaa... Maaf ya, Kak Ilham.

Menjelang siang, Citayam hujan. Menunggu hujan reda, saya sambil-sambil menyelesaikan kerjaan juga membuat bolu kukus gula merah. Ternyata, hujannya awet. Sampai menjelang ashar masih belum juga berhenti juga. Jam empat, saya baru keluar dari rumah. Jalan kaki menuju stasiun.

Kak Ilham, tentu saja sudah sampai di Sudirman lebih dulu. Dia sampai Jakarta dari Bandung sejak pukul tiga sore. Rasa nggak enak hati, tapi, mau gimana lagi? Terima kasih banyak sudah mau menunggu ya, Kak Ilham ^_^

Sampai di Sudirman, pukul lima lebih 15. Ternyata, ramai banget. Saya masih parno ke tempat ramai. Akhirnya, kami langsung menuju ke kedai mi ayam dekat stasiun. 

Ini kali pertama kami bertemu. Dulu, ini menjadi hal yang biasa. Kenal teman di blog, kopdar, kemudian menuliskannya di blog. Tapi, atmosfer itu sudah luntur dan hilang dari saya. Ya, sejak kembali ke Indonesia, kemampuan menulis saya sudah menguap entah ke mana. 

Kami memesan mi ayam. Sambil menikmati mi ayam, kami ngobrol macam-macam. Tentang perjalanan Kak Ilham selama bertugas di Flores, tentunya mendapat porsi lebih banyak. Karena Kak Ilham ditugaskan di Flores selama sepuluh tahun. Tepatnya di Ende dan Maumere. Dulu, suka iri gitu kalau lihat Kak Tuteh dan Kak Ilham jalan-jalan. Ke-irian yang tak terbayar sampai kini karena saya belum ke sana. Hahahaha.

Sebetulnya, saya menyayangkan diri sendiri yang lambat pergi. Karena waktu ngobrolnya pun jadi pendek. Saya nggak tahu kalau di area situ salatnya di mana kecuali di stasiun. Sebetulnya, ada musala di kampung, tapi jalannya agak jauh. Akhirnya, saya harus menyudahi obrolan dengan Kak Ilham ketika waktu mahgrib sudah hampir habis.

Saya langsung masuk stasiun, salat dan pulang.

Selama ini, mengenal Kak Ilham hanya dari tulisan dan unggahannya dari media sosial saja. Pas sudah ketemu dan ngobrol, rupanya jungkir balik kerjaan dan kuliah dia jalani bersamaan. Dan melihatnya hari ini, saya salut. Selamat ya, kak Ilham. Semoga apa yang sudah didapat selama ini menjadi berkah dan bermanfaat. Lulusan SMK, yang kemudian banting stir kuliah manajemen dan sekarang menjadi seorang HR. SELAMAT!

Owh ya, Kak Ilham kalau pergi ke suatu tempat selalunya membuat unggahan late post. Jadi, dia memang jarang menghubungi teman-temannya. Terutama sekali, kalau dia pergi ke Jakarta. Terima kasih traktiran mi ayamnya ya, Kak. Semoga ada rezeki ketemu lagi.

Ia Meminjam Wajah Puisi. Gambar saya ambi dari laman Medium Aya



Kau datang tatkala sinar senjaku redup
dan pamit ketika purnamaku penuh seutuhnya

Kau yang singgah tapi tak sungguh
Kau yang singgah tapi tak sungguh

Kukira kau rumah
Nyatanya kau cuma kusewa
Dari tubuh seorang perempuan
Yang memintamu untuk pulang

Penggalan lagu "Kukira Kau Rumah"

Pagi ini saya mengunjungi akun Instagramnya @Ayacanina setelah melihat kata "Amigdala" menduduki trending teratas Twitter Indonesia. Tidak, saya tidak akan membahas masalah yang sedang Aya hadapi. Tapi saya baru tahu kalau Aya, mantan vokalis Amigdala ini indah dalam menyusun kata. Selesai membaca cerita Instagramnya, saya mencari puisi-puisi lain yang dibuat oleh Aya. 

Bocah Lelaki

Telah kujumpai seorang bocah lelaki
yang meminta bintang sebagai penunjuk arah.
Bagai Nuh yang agung, ia kumpulkan
keledai-keledai muda yang kesepian.
Ia sendiri kedinginan.
Tapi seorang juru selamat mesti terus
perkasa dan berbahaya
meski harus menanggung duka
meski layang-layangnya putus
dan nyangkut di pohon mangga.

Saya membayangkan puisi di atas dideklamasikan. Di baris ke enam, tentu saya akan mendengar kalimat yang begitu panjang dibacakan tanpa jeda, sampai di akhirnya. Apalagi, kalau puisi ini dibawakan oleh Kang Peri. Aya, menyusun puisi ini dengan pembuka kalimat yang baku, tapi menutup akhirnya dengan bahasa pasar. Saya nggak pernah kebayang kalau kalimat "Nyangkut" akan indah jika dibuat puisi. Tapi, Aya, bisa melakukannya.

Saya pun sampai di laman Mediumnya Aya. Kembali membaca beberapa judul tulisannya, mencerna kalimat demi kalimat yang ditulisnya. Tetap, bagi saya tulisan Aya itu bagus. Meski itu cenderung tendensius karena gaya tulisan Aya, adalah jenis genre yang saya suka.

Tiap kali kita di kafe ini, kamu suka sekali memandangi bunga-bunga telanjang diguyur hujan dari jendela. Aku tidak memelihara bunga. Kamu juga suka mengikuti langkah pejalan kaki yang lewat di depanmu, sampai mereka hilang di ujung jalan. Aku tidak suka berjalan kaki. Scoopy-ku tidak sampai menimbulkan polusi suara dan body-nya masih bagus. Selain itu, kamu tidak suka membaca buku. Kamu bilang buku itu versi bertele-tele dari mulut orang-orang.

“Kalau aku bisa mendengarkan dengan utuh kultum lima anak muda calon sarjana di kafe ini, itu sama saja dengan kamu membaca Sapiens berhari-hari.”

Aku hanya butuh satu, kamu lima.

“Setidaknya mereka yang lebih bertanggung jawab.”

Maksudnya?

“Kalau aku salah tangkap, kesalahan ada pada penjelasan mereka. Kalau aku baca buku, kesalahannya ada pada cara membacaku.”

Bah! Konyol. Yang terakhir itu semakin membuatku tidak percaya omong kosong aku mencintaimu yang keluar dari mulut bau tembakaumu itu.



Disebabkan membaca penggalan-penggalan puisi dia yang ada di dunia maya, juga tulisannya yang ada di laman Medium, tiba-tiba saya ingin membeli buku puisinya Aya. Ia Meminjam Wajah Puisi.

Aya, masih sangat muda. Ia perempuan cerdas, tapi dalam lingkup lingkarannya, masih juga menjadi korban kekerasan oleh pacarnya sendiri. Lebih menyedihkan lagi, pacar dan lingkarannya itu adalah orang-orang yang menyuarakan dan menolak kekerasan seksual.

Semoga Aya dikuatkan. 

 



Bapak, meninggal ketika saya masih duduk di bangku SMA. Saya anak kedua dari empat bersaudara. Saat itu, kakak belum lama menikah. Sementara saya hidup mandiri dengan bekerja sambil sekolah. Dua adik saya, tinggal bersama orang tua. Sejak bapak meninggal, hidup ibu sedikit lintang pungkang. Sebelum itu, ibu kerap bekerja membantu bapak dengan menjadi asisten rumah tangga (ART). Pekerjaan itu dilakoni ibu tanpa mengenal lelah. 

Sejak bapak meninggal, ibu kembali menggeluti pekerjaannya sebagai ART di Jakarta. Sementara kedua adik bersama dengan kakak di Cilegon. Kalau saya, sudah terbiasa hidup jauh dari orang tua. Tak lama, ibu saya kembali ke Cilegon dan berkumpul dengan adik-adik. Sementara saya, kembali merantau entah kemana-mana. Saya memang termasuk anak yang jarang berkumpul bersama keluarga. Merantau dari satu tempat ke tempat lain. Sampai terkadang lupa, cebisan-cebisan memori mengenai perjalanan ibu setelah bapak tiada.

Sepanjang menjadi orang tua tunggal, ibu tak pernah terdetik untuk kembali menikah lagi. Sebagai anak, masing-masing dari kami memberikan peluang kepada ibu jika memang masih ada jodohnya ibu dibolehkan menikah lagi. Tapi, ibu selalu menolak. Bahkan, ibu selalu bilang dengan orang yang belum begitu kenal kalau suaminya masih ada. 

Perjalanan ibu selama menjadi orang tua tunggal tentu saja tidak mudah. Dengan keterbatasan pendidikan, yang ibu saya buat untuk menopang hidup tentu saja tak jauh dari pekerjaan informal sebagai ART. Sampai suatu hari, ketika saya masih di Malaysia kakak memberi kabar kalau ibu hendak berjualan nasi uduk. 

Saya mendukung niat ibu. Dengan modal yang tak begitu banyak, ibu memulai usahanya. Mulanya, hanya menjual uduk saja. Tapi kemudian, ada banyak orang yang menitipkan dagangannya. Setelah saya pulang dan kerap melihat aktivitas ibu, saya acap dibuat terpana. Bagaimana seorang perempuan tanpa pendidikan tinggi ini memberdayakan sesama perempuan lainnya. Gimana ceritanya kalau cuma dagang uduk saja bisa memberdayakan perempuan?

Ibu saya, setiap pagi menggelar dagangannya. Jualan di kampung, tentu saja harganya murah-murah saja. Rp5000/bungkusnya. Isinya, tentu saja nasi ditambah dengan beberapa lauk seperti potongan dadar telur, oreg tempe, bihun goreng dan sambal tentu saja. Eh, kerupuk jangan lupa. Harganya iya Rp5000. Tapi, kalau ada orang beli Rp3000-Rp4000 masih dilayanin dengan lauk yang sama. Mak Ai! Murah hati betul ibu saya itu. Ibu hanya menyediakan dua jenis gorengan, bakwan dan tempe. Kata ibu, biar diisi oleh tetangga makanan lainnya.

Lah, kalau cuma jualan uduk begitu, di mana letak pemberdayaan perempuannya? Nanti dulu, sabar...

Jadi, setelah sekian lama ibu saya berjualan, mulai ada orang-orang yang menitipkan kuenya. Dari mulai risoles, donat, ketan, pisang goreng, martabak mini, bubur sumsum, buras dan macam-macam lagi. Kalau pas pulang dan ngobrol sama ibu, saya acap berbincang-bincang bagaimana para ibu di luaran sana menitipkan dagangannya.

Ada, seorang ibu yang tiap harinya menjual bubur sumsum. Jualannya tak banyak, karena memang modalnya sangat terbatas. Ibu ini, awalnya bukan orang susah. Tapi, roda ekonomi selalu berputar. Beliau pantang menyerah, dengan uang seadanya membuat bubur sumsum. Meski tak banyak, tapi dari uang berjualan itulah ia menggantungkan kehidupan sehari-harinya. Apa sampai ratusan ribu setiap harinya? Tentu saja tak sampai. Bubur yang dibuat sedikit, uang yang didapat pun tentu saja sedikit. Kadang, hanya Rp20,000 saja. Tapi, dari uang itulah ibu tersebut membeli kebutuhan hidup setiap harinya. Kadang, kalau buburnya nggak ada yang beli, sama ibu saya diborong. Trus dikirim ke kakak saya yang suka makan bubur tersebut. Tapi sekarang ibunya lagi libur, lagi di luar kota jaga cucunya.

Risoles. Seorang perempuan muda, setiap harinya membuat risoles tak lebih dari 20 biji. Ditaro di tempat ibu saya. Suaminya ada, tapi yah kerjanya gitu-gitu aja. Balik lagi, uang 20 itulah yang diputar buat kebutuhan hidup sehari-hari.

Kalau ibu penjual buras beda lagi. Jualannya lebih banyak. Yang jualan sudah sepuh. Tapi beliau gigih setiap hari menitipkan jualannya. Untuk tambah-tambah biaya hidup sehari-hari, katanya. Sekarang, ibunya lagi nggak jualan. Sejak suaminya meninggal belum lama, ibunya sering sakit-sakitan. Kabarnya, setelah idul adha ini akan berjualan lagi. Semoga segera jualan lagi. Soalnya burasnya enak.

Penjual ketan, pisang goreng dan sebagainya itu semuanya perempuan. Dulu saya abai dengan aktivitas ibu selama berjualan. Tapi melihat latar belakang siapa saja yang berjualan, saya malah kagum. Roda ekonomi sederhana digerakan dari kalangan bawah. Betapa nilai uang yang nampak tak seberapa itu mampu menghidupi perempuan-perempuan hebat tersebut. Kadang saya mikir, ibu saya ini tanpa sadar juga jadi feminis. Tapi benar-benar di akar rumput. Tanpa ilmu, tanpa teori dan tanpa pahaman-pahaman apapun. Hahahaha... lebay amat ya saya.

Itu baru yang nitip jualan. Ada lagi cerita-cerita ibu yang lain. Ibu saya ini penjual yang murah hati. Ibu selalu melebihkan orang yang beli. Misal ada yang beli gorengan lima, ditambah jadi enam. Atau kalau ada anak pondok beli, selalu ditambahin macam-macam. Malah ada satu anak yang kerap dikasih uduk setiap pagi (sekarang anaknya udah pulang). Kata ibu saya, itu cara dia "menitipkan" anak-anaknya ke alam semesta. Eh, maksudnya gimana? Saya kan jarang di rumah, selalu hidup merata-rata. Jadi, ketika ibu memberi makanan ke pembeli itu ibaratnya lagi ngasih ke saya. Lebih kurangnya begitulah.

Kalau kata kakak saya, itu cara ibu berbahagia. Jadi, biarkan saja, jangan pernah dihitung dengan matematika.

Kalau pas pulang, kadang saya suka iseng merhatiin tangan ibu kalau lagi tidur. Di usianya yang sudah memasuki 59 tahun, tangan ibu nampak mulai keriput. Sering ngerasa takut dan dibuai sayu. Takut kalau tiba-tiba ibu tiada. Takut kalau selama hidup saya, saya tak pernah sekalipun berbakti kepada ibu. Pernah, terdetik di hati kecil kalau ada rezeki, saya ingin berangkatin ibu umroh. Nggak usah saya dulu, saya harus prioritaskan ibu. Meski saya tak tahu, entah dari mana uangnya. Tapi melihat orang-orang yang naik haji katanya harus punya niat dulu, maka itulah niat yang saya tanamkan di hati kecil. Kenapa bukan niat haji sekalian? Usia ibu saya menjelang 60 tahun. Kalau daftarnya sekarang, kapan akan dapat panggilan. Meski sebetulnya, perhitungan manusia terkadang tak sama dengan ketentuan-Nya.

Semoga Allah mengijabah niat saya.




Kalau menyebut “tenun ikat” pikiran kita akan langsung mengingat kain etnik khas beberapa daerah di negeri tercinta ini. Salah satu daerah penghasil tenun ikat yang terkenal adalah NTT (Nusa Tenggara Timur), khususnya di 4 pulau utama yaitu Flores, Sumba, Timor, dan Alor, yang bisa disingkat “Flobamora.”

Tapi, bagaimana seandainya saya menyebut “Topi Rea?” Apakah ada diantara teman-teman yang mengenalnya? Ah, Topi Rea khas Manggarai Barat ini memang tidak begitu populer di kalangan wanita. Tapi, banyak pria yang mungkin mengenalnya karena memang, topi ini adalah sejenis kopiah yang umum digunakan oleh kaum pria.

Baik tenun ikat khas NTT maupun Topi Rea khas Manggarai Barat, adalah dua kekayaan budaya Indonesia yang indah dan wajib dilestarikan. Di samping dua kekayaan daerah tersebut, tentu masih ada banyak produk-produk lokal lainnya yang menarik dan kerap kita butuhkan.

Tapi, bagaimana kita “berani” berharap budaya khas bangsa ini akan bertahan jika kita (sebagai anak bangsa) sering tak peduli dan tidak mau membeli produk dalam negeri sendiri?

Ya, ini adalah problema yang selama ini selalu menghantui pelaku usaha lokal (UKM dan UMKM) dalam mempertahankan berbagai budaya lokal. Produk-produk mereka seringkali kurang diminati oleh bangsa sendiri. Hingga tak mengherankan jika banyak produk khas daerah yang kalah bersaing dengan produk luar. Hingga, perlahan namun pasti (produk lokal) mulai terlupakan dan kelak tinggal sejarah.

Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI)

Gernas BBI atau Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia adalah program yang dipilih untuk membangkitkan, memperkenalkan, dan mempromosikan produk buatan UMKM lokal agar bisa bertahan dan bersaing serta berkilau tidak hanya di negeri sendiri, tapi juga di seluruh penjuru dunia.

Program ini, kali pertama diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 14 Mei tahun 2020 silam. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan pelaku usaha (UKM dan UMKM) di Indonesia agar bisa bertahan dan bangkit serta mampu melewati masa-masa sulit di era pandemi ini.

Usaha ini patut kita apresiasi dan kita harus #SiapBersamaUMKM. Karena kita bukan bangsa yang lemah dan mudah berputus asa, bukan? Banyak bukti yang telah menunjukkan kepada kita betapa bangsa ini sebenarnya sangat cinta, peduli, dan mau ikut bersusah payah mempertahankan budaya. Hingga, budaya tersebut tak lekang oleh zaman. Seperti batik contohnya. Kini warisan nenek moyang tersebut telah meraih puncak popularitasnya setelah dahulu sempat tenggelam. Dan, berkat kegigihan dan kepedulian anak bangsa, maka budaya ini tak hanya dicintai di dalam negeri sendiri tapi juga dikagumi dan digemari oleh bangsa lain. Hingga, membuat kita merasa begitu bangga.

Peluang yang sama tentu bisa didapatkan oleh kekayaan budaya negeri ini yang lainnya. Termasuk, produk lokal khas Flobamora. Untuk meningkatkan peluang tersebut, pemerintah Indonesia rutin menggelar program Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) untuk mempromosikan produk asli Indonesia--buatan anak bangsa. Sekaligus, untuk membantu para pelaku usaha UMKM agar bisa bertahan ditengah himpitan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Kilau Digital Permata Flobamora

Setelah Gernas BBI sukses memperkenalkan dan mempromosikan beberapa budaya daerah di tahun-tahun sebelumnya, Gernas BBI seri Juni 2021 kali ini memilih tajuk “Kilau Digital Permata Flobamora.” Tujuannya adalah untuk mempromosikan dan mengangkat permata ekonomi serta budaya dari daerah Nusa Tenggara Barat (NTT).

Sehingga, produk-produk lokal di wilayah ini akan lebih dikenal dan lebih mudah diakses serta dibeli oleh masyarakat di seluruh Indonesia maupun masyarakat luar. Untuk mewujudkan impian tersebut, Gernas BBI pun berusaha memaksimalkan platform digital. Dengan harapan, platform online ini bisa membantu memudahkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dengan belanja #DiIndonesiaAja kapanpun mereka mau dan dari manapun mereka berada.

Puncak perhelatan Gernas BBI untuk mengangkat budaya dan ekonomi pelaku usaha maupun UMKM di NTT yang bertajuk Kilau Digital Permata Flobamora (Flores, Sumba, Timor, dan Alor) resmi digelar pada hari Jumat tanggal 18 Juni 2021 kemarin. Dan, mengambil lokasi di wilayah Puncak Waringin, Labuan Bajo, NTT.

Demi mendukung kesuksesan program #KilauDigitalFLobamora, Gernas BBI menggelar acara puncak secara offline (tatap muka) dan online ini yang dihadiri banyak nama-nama beken yang tentu tidak asing bagi kita. Seperti beberapa tamu undangan VVIP yang terlihat antusias mengikuti acara tersebut. Sebut saja, Edistasius Endi (Bupati Manggarai Barat) dan Gubernur NTT Viktor Laiskodat sebagai perwakilan tuan rumah. Serta, beberapa perwakilan pemerintah yang terdiri atas, Wapres Ma’ruf Amin, Menkomarves Luhut Binsar Pandjaitan, Menparekraf Sandiaga Uno, Menkominfo Johnny G. Plate, Gubernur BI Perry Warjiyo, Mendagri Tito Karnavian, MenPUPR Basuki Hadimuljono, MenBUMN Erick Thohir, MenkopUKM Teten Masduki, Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar, hingga Dirut Telkom Ririek Adriansyah.

Untuk mensukseskan program Gernas BBI, Kilau Digital Permata Flobamora diisi dengan serangkaian acara yang bertujuan untuk memperkenalkan produk UMKM, memfasilitasi pelaku usaha lokal, dan membantu perekonomian masyarakat, serta melestarikan budaya NTT. Seperti misalnya,

1. Sambutan Wapres hingga Bupati 

Melalui sambutannya, Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi menghimbau kepada para pelaku usaha maupun UMKM di NTT untuk memanfaatkan platform digital dalam rangka mempromosikan dan memasarkan produk-produk mereka secara online. Sehingga, karya dan kreasi mereka dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.

“Inilah era kebangkitan (yang akan membantu) kita keluar dari keterpurukan yang disebabkan oleh Covid-19, kita bangkit bersama digitalisasi. Hari ini, Pemerintah Provinsi NTT meluncurkan aplikasi Go NTT sebagai marketplace bagi produk-produk lokal NTT,” paparnya.

Tak mau ketinggalan, Menparekraf Sandiaga Uno juga turut menyampaikan sambutan di acara puncak Gernas BBI yang bertajuk Kilau Digital Permata Flobamora tersebut. Beliau membuka sambutannya dengan membaca dua gubahan pantun yang mengangkat tema promosikan produk lokal.

Di sela-sela sambutannya, Sandi juga tak lupa melemparkan candaan untuk memperkenalkan kreasi masyarakat NTT yaitu, Topi Rea khas Manggarai Barat. “Pak Bupati, saya kehabisan kopiah produk ekonomi kreatif Manggarai Barat, tiap kali saya pakai diminta orang. Tolong dikirim lagi 100 biji.” Begitu selorohnya saat menyampaikan sambutan secara virtual dari Makassar, Sulawesi Selatan.

Sambutan di tempat terpisah juga diberikan oleh Wapres Ma'ruf amin yang tak lupa mengapresiasi Gernas BBI sebentar serta berharap program ini mampu membangun ekonomi nasional yang mandiri melalui dukungan infrastruktur digital. 

Dalam sambutannya, Wapres menekankan pentingnya untuk menjadi kreatif, inovatif, dan bersikap aktif dalam menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Serta, memaksimalkan platform digital agar pemasaran produk, distribusi, dan pembiayaannya jadi lebih mudah.

“Pelaku ekraf dan UMKM dituntut untuk lebih adaptif, kreatif, dan inovatif menciptakan produk-produk yang sesuai dengan selera dan kebutuhan pasar dengan memanfaatkan platform digital termasuk media sosial untuk mengembangkan usaha serta mempermudah akses pada pembiayaan, distribusi, dan pemasaran produk.” Kata Ma’ruf. 

2. Virtual Expo Produk UMKM NTT

Pada helatan tersebut, launching seremonial diisi dengan kegiatan virtual expo yang diramaikan dengan pertunjukan busana (fashion show) yang menampilkan kreasi dan keindahan tenun khas Flobamora. Dan, diisi pula dengan berbagai kegiatan hiburan (musik) serta Bazaar Expo sebagai media untuk mempromosikan produk khas UMKM NTT.

3. Talk Show

Di samping launching ceremonial, acara yang diikuti oleh kurang lebih 1000 orang ini (termasuk saya--salah satunya), juga menampilkan bincang-bincang (talk show) tentang kemajuan UMKM di Indonesia, khususnya di daerah NTT. 

Sesi Talk Show yang mengangkat tema peluang bisnis bagi para pelaku UMKM di NTT ini sendiri diramaikan oleh narasumber beken seperti, CEO Grab, ketua umum idEA, serta Ceo Ladara.

4. Digitalisasi UMKM

Untuk mewujudkan transformasi digital industri kreatif nasional yang akan mendorong para pelaku UMKM agar lebih aktif memperkenalkan produk mereka, Kominfo melalui BAKTI (Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi) akan membangun kurang lebih 422 BTS yang didukung jaringan internet berkecepatan tinggi (4G) di wilayah NTT dan, akan disebar di 16 Kabupaten. Mulai dari, wilayah Ende, Manggarai, Sumba Barat, Sumba Tengah, Rote Ndao, sampai Manggarai Timur.

5. Aplikasi Go NTT

Seperti yang tertuang pada sambutan Gubernur Nusa Tenggara Timur di atas, pemerintah daerah juga telah membuat aplikasi Go NTT (Gerbang Online NTT) yang berfungsi sebagai wadah untuk promosi dan jual-beli kekayaan lokal NTT. Sehingga, akan lebih mudah dijangkau oleh seluruh masyarakat Indonesia maupun pasar global.




Bagi kamu yang penasaran dengan produk-produk khas NTT dan ingin mencoba membeli produk khas masyarakat NTT seperti, kain tenun ikat, topi Rea khas Manggarai, berbagai kerajinan, serta rupa-rupa olahan makanan, kamu bisa langsung:

  1. Mendownload aplikasi Go NTT melalui Google Play Store bagi kamu pengguna smartphone Android. Setelah aplikasi terdownload dan terinstal,

  2. Bagi kamu yang belum punya akun terdaftar, kamu bisa menekan tombol “Daftar Sekarang” untuk melakukan registrasi. Yaitu dengan memasukkan nama, memilih username, alamat email, nomor hp, dan password. kemudian, tekan tombol Daftar

  3. Sesaat kemudian, kamu akan diarahkan ke halaman di mana kamu diharuskan untuk menginput “alamat tujuan pengiriman” jika nanti membeli produk melalui aplikasi ini. Setelah melengkapi semua data yang dibutuhkan, selanjutnya

  4. Kamu bisa langsung memilih berbagai produk yang terdiri atas berbagai jenis:

    1. Kuliner khas NTT

    2. Produk UMKM

    3. Alat transportasi di wilayah NTT, hingga

    4. Produk PPOB seperti pulsa (hp/PLN) serta pembayaran tagihan bulanan

  5. Kamu bisa memilih beberapa produk dan memasukkannya ke keranjang belanja atau langsung membeli produk tersebut dengan menekan tombol “BELI” > memilih jenis ekspedisi > dan melakukan Check-out, lalu akhiri transaksi dengan membayar tagihan

Cara #BeliProdukNTT melalui aplikasi GO NTT sangat mudah, bukan? Persis seperti yang biasa kita jumpai pada marketplace populer di tanah air lainnya. Jadi, bagi kamu yang sudah kangen dengan cita rasa makanan khas NTT ataupun ingin memiliki beberapa produk khas NTT, kamu bisa langsung mendownload dan menginstal serta menggunakan aplikasi GO NTT | Mikro Marketplace UMKM NTT by Bidlink Mitra Nusantara.




Waktu berjalan ini kayaknya cepat banget. Nggak terasa, tiba-tiba sudah tengah tahun. Sudah bulan Juni di tahun 2021 ini. Sementara, kayaknya belum ada apa-apa perubahan dalam diri. Hidup seperti tak bergerak sejak bulan Maret 2020. Stuck, di sini-sini aja. Ya, pandemi membuat saya tak bisa bergerak dan tak leluasa ke mana-mana. Jalan-jalan? Apatah lagi. Lah wong pulang ke Cilegon dari Citayam aja nggak berani.

Biasanya, sebelum pandemi pulang ke Cilegon bisa seminggu sekali. Sejak pandemi, sampai delapan bulan nggak berani pulang. Itu pun di Citayam nggak ke mana-mana kayak dulu. Kalau dulu biasanya akhir pekan bisa untuk kegiatan, ini Senin sampai Minggu tetep ngerem di rumah. Semua hari rasanya jadi sama libur semua. Lagian, sudah jadi freelancer sepenuh masa juga. Tapi, kata teman dibecandainnya freelancer yang banyak freenya. Hahahaha.

Beberapa kali, saya di ajak ke luar kota sama teman. Tapi saya belum berani naik kendaraan umum, terutama sekali bis. Gimana, ya. Asa takut gitu. Makanya salut sama teman yang bisa dan masih sering bolak-balik Jakarta-Cilegon naik bis. Tapi, nantinya saya juga harus berani. Karena mau nggak mau, kita memang harus berani berdepan dengan pandemi ini. Karena kita nggak tahu ngadepin keadaan gini sampai kapan. Asal, harus tetap taat prokes. Dan keluar kalau memang ada keperluan.

Ngomong-ngomong keluar kalau memang ada perlu, ada alternatif lain selain kendaraan umum yang biasa digunakan kalau mau ke luar kota. Ini bisa dijadikan referensi untuk orang-orang yang penakut kayak saya. Kita bisa menggunakan rental mobil dari TRAC. Rental mobil TRAC sudah menerapkan SMART protokol. 

Apa itu SMART protokol?

  • Penyemprotan rutin unit kendaraan dengan disainfektan setiap sebelum dan setelah digunakan. 
  • Petugasnya juga rutin dilakukan tes kesehatan. 
  • Penggunaan masker dan sarung tangan juga diwajibkan kepada pengemudi. 
  • Untuk penumpang, juga disediakan handsanitizer dan juga menerapkan physical distancing dan membatasi jumlah penumpang.

Lengkap banget. Ngomong-ngomong, apa itu TRAC? TRAC merupakan anak perusahaan PT Serasi Autoraya dan bagian dari keluarga Astra, yang memberikan layanan solusi transportasi secara menyeluruh. Ia berdiri sejak tahun 1986. Sejak berdiri, TRAC selalu berusaha mengembangkan produk dan pelayanan. Mulanya, hanya menyewakan lima mobil saja. Tapi kini TRAC telah berkembang menjadi market leader di bidang solusi transportasi yang mengelola hingga ribuan kendaraan, yang terdiri dari mobil, sepeda motor dan bus.

Selain itu, apa lagi kelebihan dari TRAC?

Sambut kembali aktivitas baru dengan lebih aman dan nyaman bersama TRAC buat teman-teman yang pulang dari Wisma Atlet dan memiliki hasil swab negatif  ada harga spesial mulai Rp259.000.

Syarat dan Ketentuan:

  • Promo ini hanya berlaku untuk psien yang telah memiliki hasil swab negatif dari wisma atlit
  • harga yang tertera termasuk BBM, tol dalam kota PPN 10%, masker, kacamata, pelindung, sarung tangan untuk driver, sekat pembatas driver serta penyemprotan disianfektan sebelum dan setelah pemakaian.
  • Reservasi maksimal H-12 jam dengan menunjukkan dokumen KTPdan hasil SWAB negatif dari Wisma Atlit.
  • Pembayaran dilakukan di depan.
  • Promo ini tidak digabung dengan promo lainnya.
  • Untuk pemesanan langsung dapat menghubungi PIC TRAC untuk Wisma Atlit, Fitri Amalia Hanif (0853 5600 0575) Nurlaela (0818 8833 172) Indra (0878 8094 7404)
Fitur Experience

TRAC To Go Experience merupakan fitur terbaru dari aplikasi TRAC To Go. Customer dapat memilih paket wisata yang disediakan oleh masing-masing cabang TRAC yang ada di berbagai kota di Indonesia seperti Bali, Malang, Jogjakarta, dan masih banyak lagi.

Di dalam produk Experience ini juga tersedia berbagai pilihan akomodasi mulai dari mobil penumpang berkapasitas 4 orang sampai Bus dengan kapasitas hingga 45 orang. Bekerja sama dengan vendor-vendor terpercaya seperti hotel bintang 4 dan 5, tempat-tempat wisata, serta beberapa restoran yang otentik, menjadikan layanan TRAC semakin lengkap untuk mengisi liburan keluarga maupun teman sekantor.

Pengen tahu lebih detailnya, bisa juga download aplikasinya di sini. Andorid dan Apple


·         Link GooglePlay Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.trac.tractogo&hl=en&gl=US 

 

Link Apple App Store : https://apps.apple.com/us/app/trac-to-go/id1459840738







Hampir sembilan bulan saya nggak pulang ke Serang. Sejak bulan September, di Citayam nggak ke mana-mana. Jadi orang rumahan yang sering sakit badan karena banyak rebahan kalau lagi nggak ada kerjaan. Kamar, ruang makan, dapur, kamar mandi tiap hari aktivitasnya di situ aja. Lama-lama, ini beneran jadi candu sampai kemudian malas ke mana-mana. Kalaupun ada keperluan, magernya masya Allah.

Selain terjemahan, kadang saya juga membuat kue. Donat, bolu atau apalah tergantung pesenan. Nah, kalau pesenan donat lagi banyak ini bikinnya bisa seharian. Ngulen dan sebagainya membutuhkan waktu lama serta menguras  tenaga. Seharian, kadang sampai nggak sempat makan. Selesai itu semua, selalunya langsung mandi terus langsung rebahan lagi. Kalau sudah capai gini, saya paling suka mengenakan baju yang berbau wangi. Selain mandi juga pakai sabun yang wangi-wangi. Kayaknya, wangi ini bisa jadi terapi buat penat lelah setelah ngadon.

Setelah mandi, biasanya dibarengi dengan leha-leha rebahan sambil sekrol media sosial. Waktu itu, sering banget iklan Scarlett muncul di Facebook. Apalagi, kalau lagi nonton video di Facebook. Iklan yang tak sampai satu menit itu membuat saya penasaran. Sabun cair warna ungu dan skincare kerap mampir di beranda. Skincare nggak penasaran, karena memang bukan pengguna. Yang sabun ini penasaran sebab suka wangi-wanginya.

Selain iklan di Facebook, sewaktu membuka Instagram juga lini masa kembali memunculkan macam-macam produk Scarlett. Ada body lotion. Lotion, adalah salah satu perlengkapan yang harus saya punya. Maklum, tangan agak sensitif. Malam, saya selalu rajin memakai lotion.

Awal bulan lalu, akhirnya saya coba cari-cari informasi mengenai produk Scarlett ini. Ada banyak review yang sudah saya dapatkan. Dan tiga produk ini akhirnya yang saya perolehi. Dikirim dan dikemas dengan aman, produk ini sampai dengan selamat. Nggak pecah. Dibungkus buble wrap. Eh, ini waktu baru sampai saya nggak sempat foto.



Waktu baru sampai, saya sempat mengunggah fotonya di story Whatsapp. Rupanya, beberapa tean komentar dan mereka pun penasaran dengan produk Scarlett ini. Sampai ada yang mau nungguin reviewnya. Hahahhaa... Maaf reviewnya lama, ya. Ini beberapa pengalaman menggunakan Scarlett selama lebih kurang tiga minggu.







1.       1. Pomegrante Scarlett Brightening Shower Scrub



Waktu lihat iklannya di Facebook, kirain botol sabun ini warna ungu. Ternyata, saya salah! Yang warna ungu itu cairannya, bukan botolnya. Sementara botolnya bening. Waktu produk Scarlett baru sampai, yang saya coba lebih dulu sabun cair ini. Gimana pengalamannya menggunakan sabun cair ini? Wadahnya, gampang dibuka, flip top dengan tulisan SCARLETT di atasnya. Ini mudah dibawa ke mana-mana. Atau kalau mau lebih simpel, bisa lebih mudah dituang ke botol sabun kecil untuk bepergian. Tapi, sekarang lagi jarang bepergian jadilah itu sabun nongkrong di kamar mandi aja.

Dalam cairan sabun, ada butiran gel kecil-kecil berwarna merah dan biru. Meski butiran, ini nggak kasar waktu dipakai. Baunya, manis dan wangi. Eh, manis? Iya, bau kayak gula-gula. Lembut pula wanginya.

2.      2.  Scarlett Jolly Fragrance Brightneing Body Lotion



Rutinitas saya memakai lotion biasanya pagi dan petang. Pagi, kalau mau berangkat kerja, malam kalau mau tidur. Dan meski di rumah aja, rutinitas pagi memakai lotion kerap saya lakukan meski kadang terlupa. Tapi kalau siang bisa berkali-kali kalau kulit lagi kering banget. Paling sering, itu malam hari. Nah, pas nyoba buka lotion Scralett ini wanginya menyeruak. Lembut dan wangi banget. Pakai malam hari, paginya masih wangi. Ini sempat ditanya teman di Whatsapp, gimana wanginya. Saya bilang, wanginya awet. Dan setelah disapukan ke tangan, lotionnya nggak begitu basah. Ada beberapa lotion setelah diusapkan ke tangan jadi terasa lengket.

Pernah nyoba pakai waktu keluar rumah. Keluar sejak siang hari, pulangnya malam. Itu bekas wangi lotion yang saya udap ke badan masih ada. Bahkan, nempel di kerudung. Lebay? Enggak, wong beneran. Pakai lotion ini, kayaknya nggak perlu pakai parfum lagi. Hahahahaha.

Kenapa wanginya bisa selama itu? Body lotion Jolly, wangi jollynya kayak wangi Yves Saint Laurent Black Opium Eau De Parfume. Itulah kenapa bisa tahan lama. Selain varian Jolly Scarlett, ada juga varian lainnya seperti,

Body lotion charming: wangi Charimng seperti wangi parfume Baccarat Rouge 540 Eau De.

Body lotion Freshy: wango Jo Freshy kayak wangi Jo Malone English Pear & Freesia eau de cologne.

Ini bisa nyobain nanti kalau yang Jolly udah habis.

3.       3. Scarlett Body Scrub Romansa



Luluran. Seberapa sering saya melakukan luluran? Tentu saja amat jarang. Tapi, pas udah ada Scarlett ini saya bisa melakukannya seminggu dua kali. Warnanya putih, dengan buliran-buliran halus yang tak sakit saat digunakan ini baunya lagi-lagi harum. Selain harum, wanginya juga tahan lama. Saya biasanya menggunakan sore hari, paginya masih ada sisa-sisa wangi.

Cara pakainya gimana? Langsung disapukan ke seluruh badan sebelum mandi. Terus, diamkan selama 2-3 menit. Baru setelah itu disiram air. Dan lanjut bilas lagi menggunakan Scarlett Shower Scrub. Tapi saya tak selalu. Kadang, cukup dengan Body Scrub aja.

Scarlett by Felicya Angelista ini awalnya saya pikir produk dari luar negeri. Rupanya, ini asli produk buatan mojang Bandung. Oh ya, body scrub, shower scrub dan body lotion Scralett ini mengandung Glutathione dan Vit E untuk mencerahkan, melembabkan dan menutrisi kulit. Selain itu, sudah terdaftar di BPOM. Tidak diujicoba kepada binatng.

Ngomong-ngomong, harganya berapa?

Seluruh harga produk, satuanya adalah Rp75.000. Tapi, ada harga paket hemat yang lima item, harganya Rp300.000 (bisa dapat box exclusive+free gift).

Bisa dibeli di mana dan bagaimana?

Semua produk Scarlett bisa dioreder melalui nomor Whatsapp, 0877-0035-3000. Line, @scarlett_whitening, DM Instagram @scarlett_whitening atau juga Shopee dengan akun Scralet_whitening.

Yang penasaran pengen nyoba, bisa klik-klik nomor dan akun di atas, ya. Alhamdulillah, selama menggunakan Scralett tidak ada iritasi kulit.

Owh ya, keaslian produk Scralett ini terjaga. Di setiap wadahnya ada barcode yang bisa kita scan dan nanti akan muncul informasi kayak gini. Jadi, jangan takut kita dapat barang tiduran, ya ^_^.




Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Teman-teman

Sering Dibaca

  • Kopdar dengan Kak Ilham
  • Minyak Gamat Bukan Hanya untuk Obat Luka
  • Semestarian
  • Jomblo, Galau, Menye-Menye ke Laut Aje!
  • Blogger Return Contest

Harta Karun

  • ▼  2022 (7)
    • ▼  Mei (2)
      • Disabilitas dan OPYMK Memiliki Hak yang Sama Menge...
      • Soft Launching Games Dunia Tanpa Batas
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2021 (8)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (4)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2019 (41)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2017 (21)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2016 (63)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Februari (23)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2015 (137)
    • ►  Desember (25)
    • ►  November (20)
    • ►  Oktober (34)
    • ►  September (19)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (9)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (52)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (6)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2013 (40)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (12)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2012 (74)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Februari (13)
    • ►  Januari (14)
  • ►  2011 (87)
    • ►  Desember (10)
    • ►  November (8)
    • ►  Oktober (18)
    • ►  September (13)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (8)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2010 (141)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (12)
    • ►  Juni (12)
    • ►  Mei (17)
    • ►  April (20)
    • ►  Maret (17)
    • ►  Februari (18)
    • ►  Januari (23)
  • ►  2009 (124)
    • ►  Desember (11)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (17)
    • ►  Juni (14)
    • ►  Mei (16)
    • ►  April (20)
    • ►  Maret (12)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2008 (105)
    • ►  Desember (7)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (10)
    • ►  Juni (16)
    • ►  Mei (19)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (22)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2007 (30)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (12)
    • ►  Agustus (2)

Kategori

Ads Blogger Hibah Buku Celoteh Cerpen Featured GayaTravel KBO komunitas Murai Perjalanan Piknik Buku Pojok Anaz Reportase resep reveiw Semestarian Serial Sosok Teman TKW TripGratisan Volunteer

Catatan Anazkia By OddThemes | Turatea.com