Juguran Bloger dari Waktu ke Waktu
![]() |
| Juguran Blogger 2019 (dokumentasi dari grup Juguran Blogger) |
Juguran Blogger (JB) saya
mengenal acara ini pada tahun 2012 lalu saat masih berada di Malaysia sebagai
seorang tenaga kerja. Saat itu, betapa inginnya saya ikut JB. Malangnya, jarak
dan materi tak berbanding lurus dengan keinginan hati. Yang akhirnya cuma
bisa ngowoh memerhatikan sambil dalam hati nazar, "pokoknya kapan-kapan
saya wajib ikutan!." Begitulah nafsu manusia. Kalau pengen aja segala rupa
dijampi-jampi.
JB diinisiasi oleh teman-teman
bloger Banyumas. Konon, tujuan mereka mengadakan JB adalah untuk mengenalkan
potensi desa-desa membangun di wilayah Banyumas.
Apa yang membuat saya
tertarik mengikuti JB? Ya tentu saja jalan-jalan ke desa... Sebagai orang
dusun yang tersesat di kota, saat melihat orang jalan-jalan melihat keindahan pegunungan
desa yah jelas meronta-ronta keinginannya.
Tahun 2015, alhamdulillah saya
mengikuti JB yang kedua. Dan di tahun 2017, saya tak sempat mengikuti JB. Tahun
2019 ini, saya kembali mengikuti JB. Agak malu hati juga, serasa tua banget
ikutan JB. Wehehehehe... mengikuti perjalanan JB dari awal sampai kemarin, ada
beberapa catatan-catatan kecil yang saya simpan, meski tak semuanya saya bisa
ikutan.
Tentunya,
ini demit bukan sembarang demit. Karena demit yang dimaksud adalah bloger-bloger
desa melek IT (demit, kependekan dari desa melek IT). Lalu mereka mengemukakan
wacananya kepada kawan-kawan Desa Membangun. Gayung pun bersambut, ajakan
mereka diterima dengan tangan terbuka oleh para punggawa Desa membangun. Dari
kemunculan para bloger demit inilah mereka hendak memberdayakan dalam bentuk
kegiatan. Dari obrolan-obrolan mereka, lalu muncullah ide untuk mengundang
bloger dari berbagai daerah.
![]() |
| Juguran Blogger 2012. Koleksi foto dari blognya Damai Wardani |
2. Mengundang Para Bloger Ndeso
Ini seperti
yang dipaparkan di blog Mas Pradna, bahwa tujuan mereka (para punggawa
komunitas bloger Banyumas) melaksanakan JB saat itu adalah untuk mempererat silaturahim antar
bloger ndeso. Selain itu juga untuk mempercepat dikenalnya potensi desa ke
ranah maya. Karena katanya, desa-desa di Gerakan Desa Membangun (GDM) sudah
memiliki web portal berita yang dikelola masing-masing desa. Nah, kalau kita
telisik lebih jauh lagi, merekalah yang “melahirkan” domain desa dot id. Yang kalau
tidak tahu silakan digoogling aja apa dan bagaimana itu sesungguhnya domain
desa dot id.
Eh, mengenai
bloger ndeso, stigmanya sepertinya sekarang sudah berubah. Karena sekarang
(sebenernya dari dulu, sih) yang datang
lebih beragam. Mereka, para bloger traveler dari kota dan banyak lagi tentu
saja.
3. Potensi Desa Dipromosikan Melalui Dunia Maya
Bagaimana
dengan mimpi mereka mempromosikan potensi desa melalui dunia maya? Setiap Juguran
Blogger dilaksanakan, yang menjadi target tujuan tentunya desa-desa di
Banyumas. Tahun pertama, mereka berwisata
ke Desa Kedungbanteng, Kec. Kedung
Banteng Banyumas. Tahun 2015, di mana saya sebagai salah satu peserta JB berwisata
ke dua desa. Desa Kalisari Kec. Cilongok, Kab Banyumas dan Desa Dermaji, Kec. Lumbir, Kab. Banyumas. Tahun 2017 ke Desa Windujaya, Kec.
Kedungbanteng Kab. Banyumas dan Desa Baseh, Kec. Kedungbanteng Kab. Banyumas.
Tahun 2019, di mana saya kembali serta di dalamnya kami menuju beberapa desa.
Desa Kalibagor, Kec. Kalibagor Kab.
Banyumas. Desa Cilongok, Kec. Cilongok, Kab. Banyumas. Dan yang terakhir adalah
desa langgong Sari, Kec. Cilongok, Kab. Banyumas.
![]() |
| Juguran blogger 2015, dokumentasi dari blognya Riska Ngilan |
Setiap desa
yang kami datangi tentu saja memiliki potensinya sendiri. Pada zamannya, di
tahun 2012 di mana desa belum gencar dengan pariwisata lokal, tentunya
pariwisata tak menjadi target utama. Mereka lebih menitikberatkan desa melek IT
(ini menurut kacamata abal-abal saya aja, sih) . Lalu kini, setelah wisata
menjadi target banyak pihak untuk dikembangkan dan dipromosikan, maka JB
mengambil bagian tersebut. Ikut mempromosikan wisata desa.
4. Juguran Bloger Setelah Tujuh Tahun
Tujuh tahun
berlalu. Berhasilkah mereka mempromosikan desa-desa di banyumas? Elah, soalan
kayak gini tentunya nggak bisa dijawab. Wong saya sendiri juga nggak tahu. Eh,
ya juga, sih. Kan kudunya pertanyaan ini dilontarkan kepada punggawa Juguran
Blogger, yaks? Mehehehehehe...
Tapi kembali
ke catatan-catatan kecil saya sebagai penonton dan follower, JB “berhasil”
mengajak silaturrahim para bloger dari berbagai daerah, lalu kawan-kawan bloger
ketika pulang membawa banyak kenang dan ditulis di blognya. Tak hanya di blog,
tapi juga media sosial pada umumnya, twitter, facebook, instagram juga you
tube. Tidak ada tolok ukur berhasil atau tidak berhasil secara angka-angka. Tapi
JB bagi saya sudah berhasil “mengikat” usia persaudaraan antar bloger dari
berbagai daerah.
Bertahun
lalu sejak melihat JB dilaksanakan, begitu inginnya saya melakukan hal serupa
di kampung saya. Sayangnya, sebagai anggota Aliansi Wacana Independen (AWI)
keinginan tersebut menguap begitu saja sebagai wacana. Tidak tahu nanti,
setelah mendengar wejangan semi serius juragan Juguran Bloger di Baturaden di hari
Sabtu malam yang melahirkan sebutan-sebutan absurd dalam perbincangan cocote
kelabasan. Halagh....
![]() |
| Juguran Blogger 2017, dokumentasi dari blognya afriantipratiwi |




3 komentar
Bersyukur banget bisa menjadi bagian dari Juguran Blogger di Banyumas. Pertama kali saya ikut JB tahun 2017, alhamdullilah tahun 2019 ini terpilih lagi.... Banyumas Penuh Cerita
BalasHapusWah. Keren ya. Kalau saya mah Blogger emak2 kapan suka aja. Hehehe. Hebat kalau membuat sesuatu dengan purpose yang jelas. Mengenai hasil? Yang penting kita sudah usaha kan?
BalasHapusApa ini yg dulu disebut sebut di Purwokerto ada kampung blogger, duuh padahal waktu merintis jadi blogger pas tinggal di Purwokerto sekitar tahun 2011
BalasHapusPersonal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P